
Repelita Jakarta - Erizal menyampaikan analisis bahwa Sjafrie Sjamsoeddin memiliki peluang besar mendampingi Prabowo Subianto sebagai calon wakil presiden pada periode mendatang.
Menurut Erizal bukan Gibran Rakabuming Raka Zulkifli Hasan Muhaimin Iskandar maupun Agus Harimurti Yudhoyono melainkan Sjafrie Sjamsoeddin yang paling potensial.
Keduanya merupakan sahabat karib yang tak terpisahkan sama-sama lulusan Akademi Militer dengan angkatan berdekatan yaitu 1970 dan 1971 serta lulus bersama pada tahun 1974.
Erizal mengamati adanya pola pada periode kedua presiden sejak Susilo Bambang Yudhoyono hingga Joko Widodo yang memilih tokoh senior sebagai wakil presiden.
Tokoh tersebut memiliki kemungkinan kecil untuk maju sebagai calon presiden pada pemilu berikutnya seperti Boediono yang mendampingi SBY serta KH Ma’ruf Amin yang mendampingi Jokowi.
Pola serupa dinilai mungkin diikuti Prabowo dengan memilih figur senior yang diterima luas dan minim ambisi politik jangka panjang.
Nama Sjafrie Sjamsoeddin layak dipertimbangkan karena selain hubungan persahabatan yang erat ia juga diterima oleh kalangan oposisi tokoh kritis serta ulama.
Erizal menyebut Sjafrie termasuk dalam golongan “Tentara Hijau” yang memiliki citra positif di mata umat Islam dibandingkan label “Tentara Merah”.
Partai-partai seperti Demokrat PKS NasDem PAN PKB serta Golkar diperkirakan tidak akan menolak jika Prabowo memilih Sjafrie sebagai pasangan.
Bahkan PDIP sebagai partai pemenang mungkin mengusung calon sendiri seperti Pramono Anung.
Dalam konteks peta politik global yang tidak menentu sosok Sjafrie Sjamsoeddin dinilai sangat tepat karena pasangan Prabowo-Sjafrie akan disegani dunia internasional.
Erizal menilai keduanya merupakan dwi tunggal sejati yang telah teruji puluhan tahun dalam suka dan duka tanpa pernah terpisahkan.
Belakangan Presiden Prabowo memberikan ruang luas kepada Sjafrie melalui jabatan Menteri Pertahanan Dewan Pertahanan Nasional Satgas PKH serta kunjungan ke pesantren-pesantren.
Peran tersebut menunjukkan pertahanan nasional tidak lagi dipahami sempit hanya urusan militer melainkan mencakup aspek yang lebih luas.
Jika Prabowo memilih Sjafrie hampir tidak ada pihak yang akan menolak atau merasa iri termasuk mantan Presiden Joko Widodo.
Kontinuitas kebijakan yang telah dijalankan Prabowo akan lebih terjamin dengan kehadiran Sjafrie sebagai pendamping.
Erizal menyimpulkan bahwa Sjafrie bahkan berpotensi maju pada Pilpres 2034 jika kondisi memungkinkan sehingga Indonesia tidak lagi mengalami perubahan kepemimpinan yang tambal sulam.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

