Repelita Teheran - Iran membuat Donald Trump gentar dengan ancaman terbarunya bakal membakar seluruh infrastruktur minyak dan gas di kawasan Timur Tengah jika fasilitas energi atau pelabuhan mereka dijadikan target serangan militer.
Ancaman ini dirilis oleh komando tempur tertinggi Iran Markas Pusat Khatam al-Anbiya sebagai reaksi atas serangan Israel yang membombardir sekitar 30 depot bahan bakar di Iran pada akhir pekan lalu.
Iran tak bisa menoleransi serangan ini dan bersumpah akan membalas dengan tindakan yang lebih dahsyat jika terjadi serangan serupa di masa depan terhadap infrastruktur vital mereka.
"Kami akan mengubah minyak dan gas di kawasan ini menjadi lautan api hanya dengan serangan sekecil apa pun terhadap infrastruktur energi dan pelabuhan Iran," tulis pernyataan resmi militer Iran mengutip ayat suci Al-Qur'an dalam laporan Tasnim pada Jumat 13 Maret 2026 waktu setempat.
Presiden AS Donald Trump dilaporkan secara terang-terangan menegur Israel dan meminta serangan ke fasilitas energi Iran segera dihentikan karena kekhawatiran akan dampak global.
Bukan semata karena alasan kemanusiaan akibat asap hitam yang menyelimuti Teheran, Trump sangat khawatir serangan ini memicu efek domino yang menghancurkan ekonomi global.
Jika kilang minyak Iran terus dihantam, harga minyak dunia diprediksi bakal meroket hingga US$ 200 atau sekitar Rp3,1 juta per barel yang akan menghancurkan perekonomian dunia.
"Presiden tidak suka serangan ke fasilitas minyak. Beliau ingin menyelamatkan minyak itu, bukan membakarnya," ungkap seorang penasihat senior Trump mengutip laporan Axios pada Rabu 11 Maret 2026.
Trump dikabarkan memiliki agenda jangka panjang untuk menguasai atau bekerja sama dengan sektor energi Iran di masa depan daripada melihatnya hancur menjadi abu sia-sia.
Ketegangan ini menjalar hingga ke Selat Hormuz jalur nadi energi paling vital di dunia yang menjadi pusat perhatian global.
Korps Garda Revolusi Islam menegaskan tidak akan mengizinkan satu liter minyak pun melewati jalur tersebut bagi kapal-kapal yang berafiliasi dengan AS Israel maupun sekutu mereka.
Iran kini memperlakukan kapal-kapal tersebut sebagai target militer yang sah dan siap dihancurkan kapan saja.
Akibatnya industri maritim melaporkan sekitar 300 kapal tanker raksasa dan kapal kontainer kini tertahan di kedua sisi selat karena khawatir menjadi sasaran rudal dan drone Iran.
Menanggapi ancaman krisis energi ini Badan Energi Internasional langsung mengambil langkah darurat dengan cepat.
Sebanyak 32 negara anggota sepakat melepas 400 juta barel minyak dari cadangan strategis mereka guna meredam lonjakan harga di pasar global yang semakin tidak terkendali.
Namun Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol memperingatkan bahwa langkah ini hanya bersifat sementara dan tidak akan mampu menahan gejolak jangka panjang.
Stabilitas ekonomi dunia sepenuhnya bergantung pada normalisasi situasi di Timur Tengah dan dibukanya kembali jalur pelayaran Selat Hormuz.
Para analis energi memperingatkan bahwa ancaman Iran ini bukan sekadar gertakan karena mereka memiliki kemampuan untuk melaksanakannya.
Infrastruktur energi di kawasan Teluk sangat rentan dan berdekatan satu sama lain sehingga serangan dapat dengan mudah meluas.
Negara-negara Teluk yang selama ini bergantung pada ekspor minyak akan menjadi korban pertama dari konflik ini.
Harga minyak yang melonjak akan memicu inflasi global dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.
Situasi ini semakin memperumit dinamika konflik yang telah memasuki pekan ketiga tanpa tanda-tanda akan segera mereda.
Dunia internasional terus memantau perkembangan situasi yang berpotensi memicu krisis energi global yang lebih luas.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

