Repelita New York - Sebuah pernyataan kontroversial mengguncang jagat media Amerika Serikat setelah seorang jurnalis senior Amerika dengan lantang melontarkan kritik pedas kepada Israel menyebut negara itu "setan" dan menegaskan bahwa "seluruh dunia muak" dengan perilaku mereka.
Pernyataan ini bukan sekadar keluar di media sosial melainkan disampaikan dalam sebuah program wawancara bergengsi memicu perdebatan sengit tentang posisi Israel di mata publik global.
"Saya berbicara kepada seluruh warga Israel: kalian dibenci secara internasional," kata Ana Kasparian pembawa acara dan produser eksekutif The Young Turks dalam pernyataan yang kemudian viral di media sosial.
Kalimat tajam itu dilontarkan oleh Ana Kasparian pembawa acara dan produser eksekutif The Young Turks sebuah program online beraliran progresif di AS yang memiliki jutaan penonton.
Dalam sebuah pernyataan yang kemudian viral Kasparian tidak hanya menyuarakan kritik tetapi juga mengungkapkan kemarahan yang mendalam terhadap kebijakan Israel.
"Aku ingin kau tahu bahwa seluruh dunia muak denganmu," tegasnya menekankan bahwa sentimen negatif terhadap Israel bukan lagi hanya suara dari negara-negara Timur Tengah tetapi telah menjadi gelombang global.
Puncaknya Kasparian melontarkan pernyataan yang paling menyengat: "Kalian menganggap diri kalian sebagai umat pilihan Tuhan, tetapi kalian bertindak dengan perilaku setan."
Pernyataan ini secara langsung menyerang narasi fundamental yang selama ini menjadi bagian dari identitas nasional Israel dan zionisme global.
Kontroversi ini sebenarnya sudah memanas beberapa pekan sebelumnya pada 26 Februari 2026 saat Kasparian membuat gempar media sosial X dengan cuitannya yang menyebut "the goyim are waking the fck up" sebagaimana laporan World Israel News.
Istilah "goyim" dalam bahasa Ibrani merujuk pada orang non-Yahudi yang sering digunakan dalam konteks pemisahan antara Yahudi dan non-Yahudi.
Penggunaan kata ini oleh Kasparian langsung menuai kecaman dan dituduh sebagai antisemitisme oleh para pendukung Israel di media sosial.
Namun Kasparian bukannya mundur ia justru menggandakan pernyataannya dengan nada yang lebih keras dan menantang.
"Hey, btch, the goyim are waking the fck up. Deal with it," tulisnya kepada seorang kritikus yang mengecam pernyataannya.
Tidak berhenti di situ ia kemudian menulis rangkaian cuitan yang semakin keras dan tidak kompromi.
"Saya tidak menyesali komentar ini. Saya tidak minta maaf. Israel itu jahat, genosida, dan telah menghancurkan negara kami," tulis Kasparian merujuk pada keterlibatan AS dalam perang yang melibatkan Israel.
Ia menambahkan bahwa Israel suka "bermain sebagai korban" sambil mengebom tujuh negara, mencuri tanah, dan secara terbuka mengumbar niat genosida mereka di depan dunia.
"Mereka akan menyeret kami ke perang lain dan yang kami dengar dari Israel dan pendukungnya yang otak udang hanyalah 'ANTISEMIT' jika Anda tidak setuju dengan agenda Israel," sindirnya.
Puncak kemarahan Kasparian tersaji dalam acara Piers Morgan Uncensored pada 2 Maret 2026 di mana debat tentang pemboman gabungan AS-Israel di Iran berubah menjadi sangat panas.
Semuanya bermula ketika pensiunan Jenderal AS Mark Kimmitt menggunakan istilah "klise" untuk membahas kematian tentara Amerika yang gugur dalam perang.
Kasparian meledak dengan kemarahan yang tidak terbendung di hadapan jutaan penonton.
"Bagaimana bisa disebut klise? Bagaimana bisa melihat tentara Amerika mati demi perang Israel disebut klise? Jelaskan itu padaku!" bentaknya dengan nada tinggi.
Ketika Jonathan Conricus mantan juru bicara IDF mencoba menyela dan bertanya "Sudah berapa kali Anda ke Arlington (makam pahlawan) untuk memberi hormat pada pahlawan Amerika?" Kasparian kehilangan kesabaran.
"Saya tidak sedang bicara denganmu, Conricus, kamu teroris keparat! Saya sedang bicara dengan jenderal!" pekiknya di hadapan Piers Morgan yang mencoba melerai perdebatan panas itu.
Momen ini menjadi viral dengan jutaan penonton di seluruh dunia menyaksikan seorang jurnalis Amerika melontarkan kata-kata yang tidak biasa didengar di televisi arus utama AS.
Pernyataan Kasparian bahwa Israel "dibenci secara internasional" bukan tanpa dasar karena didukung data survei global.
Sebuah survei Gallup International yang melibatkan lebih dari 57.000 responden di 58 negara mengungkapkan fakta mengejutkan tentang persepsi dunia terhadap Israel.
Tingkat ketidaksukaan global terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mencapai 61 persen sementara hanya 19 persen yang memiliki pandangan positif.
Yang paling menarik adalah data dari negara-negara yang selama ini dianggap sekutu dekat Israel justru menunjukkan angka negatif yang tinggi.
Di Norwegia 83 persen responden menyatakan tidak suka pada Netanyahu, Swedia 80 persen, Denmark 79 persen, dan Irlandia 78 persen.
Di Jerman yang pemerintahnya dikenal pro-Israel 74 persen warganya justru membenci Netanyahu dan kebijakannya.
Bahkan di Amerika Serikat 42 persen responden memiliki pandangan negatif terhadap pemimpin Israel tersebut.
Data ini menunjukkan bahwa meskipun pemerintah AS masih mendukung Israel gelombang opini publik mulai berbalik arah secara signifikan.
Di balik retorika panas angka-angka di lapangan berbicara lebih keras tentang dampak nyata konflik yang terus berlangsung.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa sejak perang dimulai serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 826 orang.
Korban ini mencakup 106 anak-anak, 65 perempuan, dan yang paling tragis 31 tenaga medis yang gugur saat bertugas.
Sebuah klinik di kota Burj Qalaouiya Lebanon selatan bahkan terkena serangan pada Sabtu pagi menewaskan 12 staf medis yang sedang bertugas.
Di pihak Iran serangan yang diduga dilakukan oleh Israel dan AS menghantam sebuah pabrik di kota Isfahan yang memproduksi pemanas ruangan dan lemari pendingin.
Sebanyak 15 pekerja tewas dalam insiden tersebut meninggalkan duka bagi keluarga mereka.
Di tengah kecaman global situasi militer Israel juga tidak dalam kondisi ideal karena menghadapi krisis rudal pencegat.
Seorang pejabat AS mengungkapkan kepada Semafor bahwa Israel telah memberi tahu AS bahwa mereka kehabisan rudal pencegat balistik dalam kondisi kritis.
Persediaan rudal Israel sudah menipis akibat konflik musim panas lalu dengan Iran yang menguras banyak stok amunisi.
Taktik Iran yang menambahkan amunisi kluster ke rudal-rudalnya semakin memperburuk krisis rudal pencegat Israel.
Sementara itu Iran justru berada dalam posisi percaya diri dengan kemampuan militernya yang terus meningkat.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam wawancara dengan NBC menegaskan bahwa jika AS dan Israel meminta gencatan senjata permintaan itu akan ditolak.
"Mereka memulai perang ini tanpa provokasi, ilegal, dan apa yang kami lakukan adalah aksi pembelaan diri yang sah," tegas Araghchi.
Pernyataan Ana Kasparian mungkin terdengar ekstrem tetapi ia hanyalah satu dari sekian banyak suara yang mulai berbicara lantang.
Teheran Times dalam analisisnya menyebut bahwa Israel menghadapi permusuhan global yang belum pernah terjadi sebelumnya bahkan di masyarakat Barat sekalipun.
"Ini bukan lagi sekadar masalah komunikasi yang buruk, tetapi realitas politik yang lebih dalam yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui kampanye pesan," tulis analis Wesam Bahrani.
Dari "goyim" hingga "setan" dari studio Piers Morgan hingga puing-puing di Lebanon satu hal yang jelas opini publik global sedang bergeser.
Dan bagi Israel perang kali ini tidak hanya terjadi di medan tempur tetapi juga di ruang publik dunia.
Pertempuran opini ini mungkin akan sama pentingnya dengan pertempuran fisik dalam menentukan masa depan kawasan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

