
Repelita Tel Aviv - Alon Mizrahi seorang Arab Yahudi yang lahir dan tinggal di wilayah Israel mengungkapkan kondisi yang tak biasa belakangan terjadi pada kondisi sosial dan pemerintahan zionis saat ini melalui cuitannya di media sosial X.
Melalui cuitannya di media sosial X Alon mengatakan perlawanan balasan Republik Islam Iran atas agresi yang dilakukan Israel bersama Amerika Serikat sudah mulai memunculkan kegawatan yang mengarah pada kehancuran otoritas dan militer zionis itu.
Alon memprediksi pemerintahan penjajahan yang saat ini dipimpin oleh Benjamin Netanyahu itu akan kolaps dan hancur babak belur akibat rudal-rudal dan misil balasan Iran yang terus dilancarkan tanpa henti.
"Saya pikir, dengan langkah seperti ini, dalam satu bulan atau lebih, negara ini (Zionis Israel) akan mulai hancur, sedikit demi sedikit," kata Alon seperti dikutip dari akun X miliknya pada Sabtu 14 Maret 2026.
Menurut Alon yang juga seorang jurnalis itu perlawanan balasan yang dilakukan Iran terhadap Israel dalam dua pekan perang berjalan saat ini sudah membuktikan tentang terjadinya pelemahan di pihak militer penjajah.
Pelemahan militer Israel tersebut kata Alon membuat otoritas pemerintahan Benjamin Netanyahu di Tel Aviv nyaris tak mampu mengantisipasi pertahanannya yang kedodoran di berbagai sektor.
"Dugaan saya adalah, Iran telah mampu melemahkan angkatan udara Israel secara serius, dan Israel tidak memiliki jawaban," tulis dia menegaskan analisisnya.
Selain itu Alon juga mengamati adanya perubahan psikologis massal para warga di Israel selama dalam gempuran balasan Iran sejak dimulainya perang pada Sabtu 28 Februari 2026 lalu.
Perubahan psikologis massal itu menurut Alon paling utama terasa terlihat di permukaan akibat dari rasa ketakutan warga di Israel yang ditambahi pula dengan kesedihan banyak warga atas banyaknya kehilangan.
Selain itu kata Alon psikologis warga di Israel saat ini mulai kehilangan kepercayaan diri terhadap pemerintahan yang dianggap tidak mampu melindungi mereka.
Juga kata Alon frustrasi warga atas desas-desus kondisi pemimpin mereka yang hingga kini tak bisa dikonfirmasi kepastiannya membuat situasi semakin memburuk.
"Saya tidak bisa menentukan secara pasti apa yang membuat saya mengatakan ini. Tetapi ada sesuatu tentang Israel, bagi seorang warga negara yang jeli seperti saya, yang melihat adanya kejanggalan, keanehan, dan kelesuan. Ada sesuatu yang tidak beres. Bisa jadi karena kesehatan (Benjamin) Netanyahu, atau hilangnya beberapa kemampuan strategis, saya tidak tahu. Tetapi suasananya jelas telah berubah, dengan rasa ketakutan, dan kesedihan yang jauh lebih dekat ke permukaan," kata Alon.
Perang terbuka Zionis Israel-AS dengan Iran genap memasuki pekan ke-3 sejak Sabtu 28 Februari 2026 dan hingga kini belum ada pembicaraan gencatan senjata yang berarti.
Israel-AS masih melakukan pengeboman-pengeboman menggunakan jet-jet tempurnya ke sejumlah fasilitas-fasilitas di wilayah Iran meskipun mendapat perlawanan sengit.
Di Teheran meskipun masih dalam masa berkabung atas Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei yang syahid dalam serangan pembuka Zionis-AS tak membuat militer Iran menunjukkan tanda-tanda pelemahan.
Meskipun militer Iran dalam posisi bertahan namun masih terlihat mampu melakukan perlawanan dengan membalas serangan menggunakan drone-drone penyerbu dan rudal-rudal canggihnya.
Rudal-rudal canggih Iran juga masih menghujani pangkalan-pangkalan militer AS termasuk aset-aset lainnya yang tersebar di wilayah negara-negara Teluk Arab.
Negara-negara seperti Kuwait Qatar Bahrain Uni Emirat Arab Arab Saudi Yordania dan Irak menjadi sasaran serangan balasan Iran atas keberadaan pangkalan militer AS di sana.
Peperangan semakin melebar karena dari Lebanon selatan faksi bersenjata Hizbullah ikut membantu Iran membombardir wilayah-wilayah pendudukan di Israel.
Meskipun militer Israel juga membalas tanpa pandang bulu partisipasi kelompok bersenjata Hizbullah itu dengan melakukan pengeboman-pengeboman ke pemukiman sipil sampai ke Beirut.
Seribuan warga Lebanon juga tercatat meninggal dunia akibat serangan-serangan zionis yang terus berlanjut tanpa henti.
Dari banyak laporan di Iran jumlah korban perang saat ini mencapai 1.500-an orang termasuk di antaranya sekitar 175 anak-anak sekolah yang dibom Zionis-AS.
Namun angka kematian di Israel maupun militer AS di negara-negara kawasan tak ditemukan angka pasti lantaran adanya penyensoran ketat oleh pihak berwenang.
Anadolu Agency pada Jumat 13 Maret 2026 kemarin menyampaikan laporan Kementerian Kesehatan Israel yang menyebutkan jumlah korban luka-luka dan kritis di wilayahnya mendekati 3.000 orang.
Dampak serangan balasan Iran ke wilayah penjajahan Israel pun sulit untuk diketahui dengan pasti lantaran penyensoran oleh pihak militer zionis.
Akan tetapi dari sejumlah laporan-laporan video amatir yang tersebar di media-media sosial dan juga dokumentasi yang bocor ke media-media resmi banyak memperlihatkan kondisi kota-kota di Israel yang hancur.
Kota-kota di Israel porak-poranda akibat terkena serangan drone-drone dan rudal-rudal balasan Iran yang terus dilancarkan.
Belakangan ramai di berbagai platform media sosial yang memprediksi Perdana Menteri Zionis Benjamin Netanyahu sudah tewas terkena serangan balasan Iran.
Spekulasi ini semakin kuat setelah Netanyahu tidak muncul di publik dalam beberapa hari terakhir dan hanya merilis video yang diduga hasil rekayasa AI.
Situasi ini semakin memperumit dinamika konflik yang telah memasuki pekan ketiga tanpa tanda-tanda akan segera mereda.
Dunia internasional terus memantau perkembangan situasi yang berpotensi memicu krisis kemanusiaan yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

