
Repelita Jakarta - Founder Malaka Project Ferry Irwandi menyoroti sisi lain dari konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang tidak banyak disadari publik.
Dalam sebuah video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya, Ferry menilai perang dan ketegangan global tidak hanya soal politik atau keamanan tetapi juga berkaitan erat dengan kepentingan ekonomi raksasa.
Menurut Ferry ada dua sektor yang paling diuntungkan dari meningkatnya konflik global yakni industri senjata dan gas alam cair atau liquefied natural gas.
Ia menyebut dua sektor tersebut sebagai mesin uang yang menghasilkan keuntungan besar ketika ketegangan internasional meningkat di berbagai belahan dunia.
"Penderitaan yang sekarang dirasakan banyak orang di seluruh dunia ini datang dari dua mesin uang yang bekerja dalam perang, yaitu industri LNG dan senjata," ujar Ferry.
Ia menjelaskan bahwa Amerika Serikat saat ini memegang peranan dominan dalam industri senjata global dengan pangsa pasar yang sangat besar.
Berdasarkan data pengeluaran militer dunia, Amerika menyumbang sekitar 37 persen dari total belanja pertahanan global.
Sementara dalam pasar ekspor senjata, pangsa Amerika diperkirakan mencapai sekitar 40 persen dari total perdagangan senjata dunia.
Menurut Ferry kondisi tersebut membuat perusahaan-perusahaan pertahanan Amerika mendapat keuntungan besar setiap kali konflik meningkat di berbagai kawasan.
Ia mencontohkan perang Rusia–Ukraina yang telah berlangsung sejak 2022 sebagai bukti nyata bagaimana industri senjata meraup keuntungan.
"Sejak perang Rusia dan Ukraina terjadi, perusahaan-perusahaan senjata di Amerika Serikat itu kaya raya. Saham mereka naik, omset dan profit mereka melonjak," kata Ferry.
Ia memaparkan sejumlah data kinerja perusahaan pertahanan besar Amerika yang mencerminkan lonjakan keuntungan luar biasa.
Lockheed Martin misalnya mencatat penjualan sekitar 75 miliar dolar AS pada 2025 dengan laba bersih sekitar 5 miliar dolar AS.
Perusahaan itu juga memiliki backlog atau kontrak pesanan yang belum terealisasi mencapai sekitar 179 miliar dolar AS.
Northrop Grumman memasuki 2026 dengan backlog sekitar 95,7 miliar dolar AS dari berbagai kontrak pertahanan jangka panjang.
General Dynamics menutup 2025 dengan backlog sekitar 118 miliar dolar AS dari pesanan alat utama sistem senjata.
Adapun RTX Corporation melaporkan penjualan sekitar 88,6 miliar dolar AS dengan backlog mencapai 268 miliar dolar AS.
Data ekspor juga menunjukkan lonjakan besar di mana pada 2024 nilai penjualan peralatan militer Amerika Serikat mencapai sekitar 318,7 miliar dolar AS.
Angka tersebut naik sekitar 29 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang menunjukkan tren peningkatan signifikan.
Namun menurut Ferry keuntungan dari konflik global tidak hanya datang dari industri senjata, sektor LNG bahkan bisa menghasilkan keuntungan lebih besar.
Hal ini terutama terjadi setelah krisis energi yang dipicu perang Rusia dan Ukraina yang mengguncang pasokan gas Eropa.
LNG merupakan gas alam yang didinginkan hingga berubah menjadi cair sehingga volumenya menyusut drastis dan dapat diangkut menggunakan kapal tanker ke berbagai negara.
Teknologi ini membuat perdagangan gas tidak lagi terbatas pada jaringan pipa regional melainkan menjadi komoditas energi global seperti halnya minyak.
Selama bertahun-tahun Eropa bergantung pada pasokan gas dari Rusia melalui jaringan pipa besar dari Siberia yang mengalir tanpa henti.
Sebelum perang Ukraina sekitar 40 persen kebutuhan gas Eropa dipenuhi oleh Rusia melalui jalur pipa yang ada.
Situasi itu berubah drastis setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 yang memicu sanksi dan pembatasan pasokan energi.
Negara-negara Eropa kemudian berupaya mengurangi ketergantungan energi pada Rusia dan mencari pemasok alternatif di seluruh dunia.
Menurut Ferry di situlah Amerika Serikat masuk sebagai pemain utama dalam pasar gas global.
Berkat lonjakan produksi gas dari revolusi shale gas Amerika memiliki surplus energi yang besar dan infrastruktur LNG yang siap mengekspor gas ke pasar global.
"Ketika perang Ukraina pecah dan Eropa kehilangan gas Rusia, Amerika sudah siap dengan infrastruktur LNG raksasa di Teluk Meksiko. Kapal-kapal LNG mulai berlayar hampir tanpa henti menuju Eropa," katanya.
Ia menambahkan bahwa perbedaan harga antara pasar domestik Amerika dan pasar internasional membuat bisnis ini sangat menguntungkan.
Harga gas di Amerika bisa berada di kisaran 2 hingga 4 dolar AS per MMBtu sementara di Eropa saat krisis energi sempat melonjak hingga 20–30 dolar AS per MMBtu.
Selisih harga tersebut membuat perusahaan energi Amerika memperoleh margin yang sangat besar dari ekspor LNG ke berbagai negara.
Perusahaan seperti Cheniere Energy, Chevron, hingga ExxonMobil disebut menikmati lonjakan keuntungan setelah krisis energi global.
Ferry juga menyoroti kemungkinan keuntungan yang lebih besar jika konflik di Timur Tengah khususnya antara Iran dan Israel terus meningkat.
Ketegangan di kawasan itu dapat memicu gangguan pasokan energi termasuk dari Qatar yang merupakan salah satu eksportir LNG terbesar dunia.
Jika pasokan LNG dari Timur Tengah terganggu atau jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz terdampak konflik maka negara-negara di Asia dan Eropa akan mencari pasokan alternatif.
"Kalau pasokan dari Timur Tengah terganggu, negara-negara yang butuh energi seperti Jepang, Korea, atau Eropa mau tidak mau mencari sumber lain. Salah satu pemasok terbesar saat ini adalah Amerika Serikat," kata Ferry.
Ia menyebut potensi keuntungan dari ekspor LNG Amerika bisa mencapai puluhan hingga ratusan miliar dolar tergantung durasi konflik dan gangguan pasokan global.
Selain faktor industri Ferry juga menyoroti kedekatan politik antara Donald Trump dan sektor energi maupun pertahanan di Amerika.
Ia menyebut beberapa perusahaan energi besar diketahui menjadi penyumbang dana kampanye politik di Amerika.
Sementara kebijakan deregulasi energi dan percepatan proyek LNG pada masa pemerintahan Trump turut mempercepat ekspansi industri tersebut.
Ferry menilai situasi ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik modern tidak bisa dilepaskan dari kepentingan ekonomi global yang saling terkait.
"Semakin lama konflik berlangsung dan dunia berada dalam ketidakpastian, semakin besar pula keuntungan industri senjata dan energi," pungkasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

