Repelita Jakarta - Di tengah gempuran rudal dan drone yang mengguncang kawasan Teluk, sebuah dampak tak terduga terjadi ribuan kilometer dari medan perang utama antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat dan Israel yang ternyata mengubah dinamika perang saudara di Sudan.
Tentara Nasional Sudan dikabarkan merebut kembali sejumlah desa dan kota dari pasukan paramiliter Rapid Support Forces yang selama ini didukung penuh oleh Uni Emirat Arab sebagai sekutu utama Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Tentara Sudan telah merebut kembali desa-desa dan kota-kota dari RSF yang didukung UEA karena negara kaya minyak itu belum dapat mendukung RSF seperti biasa akibat blokade di Selat Hormuz dan serangan rudal dari Iran terhadap mereka.
Para warga Sudan turun ke jalan bersorak menyambut kembalinya tentara nasional ke wilayah yang telah lama dikuasai kelompok paramiliter tersebut.
Sejak akhir Februari 2026 Iran menutup Selat Hormuz untuk pelayaran internasional sebagai respons atas serangan gabungan AS-Israel ke Teheran yang menewaskan pemimpin tertinggi mereka.
Penutupan ini berdampak besar pada rantai pasok global termasuk aliran senjata dan logistik ke berbagai konflik proksi di kawasan Timur Tengah dan Afrika.
Sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, UEA selama ini dikenal sebagai pendukung utama RSF, menyediakan dukungan finansial, militer, dan logistik yang membantu paramiliter tersebut mempertahankan operasi besar mereka di Sudan selama hampir tiga tahun terakhir.
Bantuan itu berperan penting dalam kemampuan RSF mempertahankan perang dan menguasai wilayah luas di Sudan.
Namun dengan ditutupnya Selat Hormuz, jalur laut yang menjadi urat nadi pengiriman barang ke Teluk, UEA kesulitan mengirimkan bantuan ke RSF karena kapal kargo dan tanker tidak dapat melintasi selat strategis tersebut.
Gangguan ini menghentikan arus pelayaran di jalur penting itu, sementara perusahaan pelayaran internasional seperti Hapag-Lloyd pun menangguhkan seluruh transit melalui perairan yang menjadi medan perang.
Republik Islam juga melancarkan serangan rudal dan drone secara langsung ke wilayah UEA sebagai bagian dari operasi balasan terhadap negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika Serikat.
Kementerian Pertahanan UEA melaporkan bahwa sejak konflik dimulai pada 28 Februari, sistem pertahanan udaranya telah mendeteksi 262 rudal balistik yang diluncurkan dari Iran, dengan dua di antaranya jatuh di wilayah negara itu.
Sebanyak 1.475 drone Iran juga terdeteksi melintasi wilayah udara UEA, dan 90 di antaranya jatuh di dalam wilayah negara Teluk tersebut.
Serangan ini menewaskan 6 warga negara asing dan melukai 122 orang dari berbagai negara, termasuk warga Sudan yang bekerja di UEA sebagai tenaga kerja migran.
Dengan terganggunya jalur pasokan ke RSF, Tentara Sudan melihat peluang emas untuk melancarkan serangan balik yang selama ini tertunda.
Laporan dari berbagai sumber menyebutkan bahwa pasukan pemerintah berhasil merebut kembali sejumlah desa dan kota yang sebelumnya dikuasai RSF dalam operasi militer kilat.
Warga setempat bahkan terlihat bersorak gembira menyambut kembalinya tentara nasional ke wilayah mereka setelah sekian lama hidup di bawah kekuasaan paramiliter yang dikenal kejam.
Seorang pengamat yang diwawancarai oleh media Timur Tengah menyebut bahwa ini adalah pertama kalinya dalam berbulan-bulan tentara Sudan mampu melancarkan serangan balik yang signifikan.
"RSF selama ini sangat bergantung pada dukungan logistik dari luar. Ketika jalur itu terputus, mereka kehilangan momentum," katanya menganalisis situasi.
Situasi ini menimbulkan ironi tersendiri karena selama ini Iran juga dituduh memberi dukungan kepada faksi tertentu di Sudan yang berseberangan dengan tentara nasional.
Pemerintah AS bahkan baru-baru ini menetapkan Ikhwanul Muslimin Sudan sebagai organisasi teroris karena dituding menerima dukungan dari Korps Garda Revolusi Islam sebagaimana laporan dari fides.org.
Namun dalam perkembangan terbaru, serangan Republik Islam ke Teluk justru menguntungkan pihak yang berseberangan dengan sekutu Iran di Sudan, menciptakan paradoks geopolitik yang menarik.
Negara-negara Teluk seperti UEA, Bahrain, Qatar, dan Kuwait terus menerima serangan balasan dari Iran karena menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.
Markas Armada Kelima AS di Bahrain menjadi sasaran rudal, dan Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar juga terkena dampak serangan yang melumpuhkan operasi militer.
Harga minyak dunia melonjak tajam hingga melampaui US$ 100 per barel, dan Iran secara resmi melarang semua pengiriman minyak melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi global.
Dampak ekonomi ini juga dirasakan oleh institusi finansial global yang memiliki operasi besar di kawasan Teluk.
Citibank berencana menutup kantor cabang di UEA karena masuk dalam daftar target serangan Iran, sementara HSBC dilaporkan telah menutup operasionalnya di Qatar demi keamanan karyawan.
Penutupan Selat Hormuz juga mengancam ketahanan pangan negara-negara Teluk termasuk Iran sendiri karena sebagian besar makanan dan gandum yang masuk ke kawasan Teluk harus melewati Selat Hormuz.
Impor gandum ke kawasan Teluk mencapai 30 juta ton tahun lalu, dan hampir setengahnya sebanyak 14 juta ton ditujukan untuk kebutuhan pangan Iran.
Di Iran inflasi untuk makanan dan minuman sudah mencapai 105 persen bahkan sebelum serangan udara dimulai, dan penutupan selat ini akan memperparah krisis pangan di dalam negeri Iran sendiri.
Para ahli memperingatkan adanya risiko kerawanan pangan langsung di kawasan Teluk karena negara-negara Teluk sangat bergantung pada makanan impor yang kini terhambat.
Dengan terganggunya kemampuan UEA mendukung RSF, banyak analis bertanya-tanya apakah perang di Sudan akan segera berakhir setelah hampir tiga tahun berkecamuk.
Namun kenyataannya tidak sesederhana itu karena konflik Sudan telah berlangsung lama menewaskan puluhan ribu orang dan mengungsikan lebih dari 15 juta jiwa.
Jaringan dukungan RSF tidak hanya berasal dari UEA tetapi juga dari berbagai aktor regional lainnya yang memiliki kepentingan di Sudan.
Di sisi lain tentara Sudan sendiri mendapat dukungan dari berbagai negara seperti Mesir, Turki, Qatar, dan Arab Saudi yang memiliki agenda masing-masing.
Keseimbangan dukungan eksternal ini yang selama ini membuat konflik berlarut-larut tanpa ujung penyelesaian yang jelas.
Kini dengan adanya krisis di Teluk perhatian internasional mungkin akan beralih dan tekanan untuk mencapai penyelesaian politik di Sudan bisa meningkat seiring berkurangnya pasokan senjata.
Yang jelas warga Sudan yang menjadi korban utama konflik ini kini menyaksikan dengan harapan baru setelah tiga tahun menderita di bawah bayang-bayang perang.
Sorak-sorai menyambut kembalinya tentara ke desa-desa yang dibebaskan menunjukkan bahwa setelah tiga tahun perang secercah harapan mulai muncul di ufuk timur meskipun berasal dari konflik di negeri yang jauh.
Blokade Selat Hormuz oleh Iran melumpuhkan jalur pasokan UEA ke RSF di Sudan sehingga Tentara Sudan berhasil merebut kembali desa-desa dan kota-kota dari pasukan paramiliter disambut sorak-sorai warga.
UEA menjadi target langsung serangan rudal dan drone Iran karena dianggap sebagai basis militer AS, sejak 28 Februari 262 rudal dan 1.475 drone Iran diarahkan ke UEA menewaskan 6 warga asing dan melukai 122 lainnya.
Dampak ekonomi perang meluas ke sektor finansial global dengan harga minyak tembus US$ 100 per barel, Citibank tutup cabang di UEA, HSBC hentikan operasi di Qatar, dan ketahanan pangan di kawasan Teluk terancam karena impor makanan terganggu.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

