
Repelita Jakarta - Sejak pagi Jumat, 13 Februari 2026 kemarin, jagat maya kembali riuh dengan beredarnya sebuah tautan video berdurasi 13 menit yang dikait-kaitkan dengan narasi mahasiswi KKN dan sebuah botol Teh Pucuk.
Jejak pencarian warganet pun langsung melonjak tajam, menandai dimulainya lagi satu siklus perburuan konten viral yang penuh tanda tanya di media sosial.
Di TikTok dan berbagai grup percakapan, potongan klip itu dibagi-bagikan secara masif oleh pengguna yang penasaran dengan isi video tersebut.
Adegannya memperlihatkan dua orang di sebuah kamar, di mana seorang pria terlihat mengambil botol minuman kemasan lalu menuangkannya ke gelas kecil.
Setelah itu, pria tersebut memberikan gelas berisi minuman pada perempuan yang duduk di sebelahnya dalam adegan yang terekam kamera.
Narasi yang menyertainya langsung mengaitkan adegan itu dengan merek tertentu dan kisah Kuliah Kerja Nyata di Nusa Tenggara Barat.
Dari situlah, segala spekulasi bermula dan berkembang liar tanpa bisa dibendung oleh klarifikasi apa pun.
Namun begitu, rasa penasaran publik seringkali berujung pada jalan buntu karena banyak tautan yang beredar tidak mengarah ke video asli.
Alih-alih mendapat tontonan, pengguna justru diarahkan ke laman mencurigakan yang kadang meminta data pribadi untuk diakses.
Pola ini jelas berbahaya, sebuah modus penipuan digital klasik yang memanfaatkan sensasi konten viral untuk menjerat korban.
Guna meredam gejolak, pihak kampus yang namanya terseret akhirnya angkat bicara melalui Satgas PPKS Universitas Mataram (Unram).
Mereka dengan tegas menyatakan bahwa orang-orang dalam video itu bukan mahasiswa Unram dan sudah melakukan penelusuran internal.
Ketua Satgas PPKS Unram, Joko Jumadi, menjelaskan bahwa rekaman ini sebenarnya bukan barang baru di jagat maya.
Menurutnya, video serupa sudah beredar sejak beberapa bulan lalu dan sempat viral pada periode sebelumnya.
“Kami menegaskan bahwa pemeran dalam video itu bukan mahasiswa Unram. Video tersebut sudah ada sejak September 2025 dan kejadiannya bukan di Lombok, melainkan di luar NTB,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Joko juga mengakui bahwa kemiripan fisik sempat memicu salah paham di kalangan warganet yang melihat tayangan tersebut.
“Memang ada kemiripan dari video tersebut dengan mahasiswi kami, tapi dari suara di dalam video jelas itu bukan mahasiswi Unram atau bukan orang NTB,” katanya menambahkan.
Pernyataan ini jelas ingin memutus rantai tudingan liar yang sudah menyasar individu tertentu di lingkungan kampus.
Tak tinggal diam, seorang mahasiswi yang namanya disebut-sebut warganet pun memberikan klarifikasi langsung kepada publik.
Ia membantah keras keterlibatannya dalam video viral tersebut dan meminta publik untuk lebih bijak dalam menyikapi informasi.
Langkah ini penting, mengingat dampak psikologis dan sosial dari gempuran tuduhan di dunia digital bisa sangat merusak.
Fenomena ini sekali lagi membuktikan betapa narasi yang belum tentu benar bisa menyebar dengan kecepatan luar biasa di media sosial.
Pakar keamanan siber kerap mengingatkan untuk berhati-hatilah dengan tautan mencurigakan yang mengatasnamakan konten viral.
Risikonya bukan cuma malware, tapi juga penipuan yang mengincar data pribadi kita untuk kepentingan tertentu.
Hingga saat ini, tidak ada bukti resmi yang menghubungkan video tersebut dengan kegiatan KKN manapun di wilayah NTB.
Aparat dan pihak kampus terus mengimbau masyarakat untuk berhenti menyebarkan tautan yang sumbernya tidak jelas.
Intinya, jangan sampai rasa penasaran justru menjerumuskan kita ke dalam masalah yang lebih besar di kemudian hari.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

