Repelita Jakarta - Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo mengungkap rahasia operasi pengejaran teroris Santoso pada 2016 yang selama ini disembunyikan selama sepuluh tahun terakhir.
Dalam pernyataannya yang viral melalui video beredar Gatot Nurmantyo mengklaim bahwa pasukan TNI yang menembak dan menewaskan Santoso bukan Polri meskipun secara publik diumumkan sebagai keberhasilan operasi kepolisian.
Ia menjelaskan bahwa tujuan utama operasi tersebut adalah untuk meningkatkan nama Tito Karnavian yang saat itu menjabat sebagai Kapolri di mata Presiden Joko Widodo.
Gatot Nurmantyo menceritakan bahwa ia sempat mempresentasikan peta serta foto operasi di Istana kepada Jokowi termasuk posisi biothermal dan tembakan petir sambil menjaga kerahasiaan.
Menurutnya Jokowi menyetujui rencana tersebut dengan syarat tidak ada yang tahu kecuali presiden sendiri sehingga detail peran TNI disembunyikan dari publik.
Gatot Nurmantyo menyatakan bahwa operasi itu telah dikondisikan agar keberhasilan dikaitkan dengan Polri di bawah Tito Karnavian sehingga nama Tito menjadi besar di depan Jokowi.
Ia menambahkan bahwa setelah operasi Tito mendapat promosi dan pengakuan sementara peran TNI tetap dirahasiakan selama satu dekade.
Pernyataan ini muncul dalam video yang diunggah baru-baru ini meskipun merujuk pada peristiwa pemburuan Santoso di Poso Sulawesi Tengah pada Juli 2016.
Santoso yang merupakan pemimpin Mujahidin Indonesia Timur tewas dalam baku tembak dengan Satgas Tinombala pada 19 Juli 2016.
Saat itu Panglima TNI Gatot Nurmantyo secara publik memberikan pujian kepada Polri atas keberhasilan operasi tersebut sebagai hadiah untuk Tito Karnavian.
Klaim terbaru ini menimbulkan kontroversi karena bertentangan dengan narasi resmi waktu itu yang menekankan kerjasama TNI-Polri tanpa menyoroti dominasi salah satu pihak.
Gatot Nurmantyo menegaskan bahwa rahasia ini baru diungkap sekarang setelah sepuluh tahun berlalu sebagai bagian dari pengakuan pribadi atas operasi tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

