Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Tragedi Siswa SD di NTT Akhiri Hidup, Kemiskinan Membuat Kebutuhan Dasar Pendidikan Tak Terpenuhi

 

Repelita Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur - Seorang siswa Sekolah Dasar berusia 10 tahun meninggal dunia dalam kondisi yang sangat memilukan di daerah tersebut.

Korban yang berinisial YBS diduga mengakhiri hidupnya setelah permintaan untuk membeli buku tulis dan pena tidak dapat dipenuhi oleh keluarganya. Peralatan sekolah sederhana yang bernilai kurang dari sepuluh ribu rupiah itu ternyata menjadi beban yang tidak terjangkau bagi kondisi ekonomi keluarganya.

Latar belakang keluarga korban mencerminkan kesulitan ekonomi yang sangat parah di daerah tersebut. Ibunda korban yang berinisial MGT berusia 47 tahun merupakan seorang janda yang bekerja serabutan sebagai petani dan buruh.

Dengan penghasilan yang sangat tidak menentu, dia harus menghidupi dan menafkahi lima orang anaknya seorang diri. Ayah dari korban telah meninggal dunia saat YBS masih berada dalam kandungan, sehingga seluruh tanggung jawab keluarga jatuh ke pundak sang ibu.

Kondisi kemiskinan yang ekstrem membuat keluarga ini bahkan tidak mampu tinggal bersama dalam satu rumah yang layak. Untuk meringankan beban sang ibu, YBS tinggal bersama neneknya di sebuah pondok sederhana yang terletak di area kebun.

Kesulitan ekonomi yang mendera membuat pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari seringkali menjadi masalah yang sangat berat bagi keluarga ini. Uang sejumlah sepuluh ribu rupiah untuk membeli alat tulis merupakan jumlah yang sangat besar dan sulit didapatkan dalam kondisi keuangan mereka.

Menurut keterangan orang-orang di sekitarnya, YBS dikenal sebagai anak yang baik, pendiam, dan memiliki semangat belajar yang tinggi. Korban jarang sekali menunjukkan kesedihan atau mengeluh mengenai kondisi keluarganya di depan umum.

Sikapnya yang selalu tampak tegar itu justru membuat kepergiannya secara tragis semakin menyisakan duka yang mendalam bagi seluruh warga sekitar. Peristiwa ini terjadi setelah korban meminta dibelikan buku dan pulpen kepada ibunya namun tidak dapat dipenuhi.

Ibunda korban menceritakan detik-detik perpisahan terakhirnya dengan anak kesayangannya tersebut. Sebelum berpisah, MGT sempat menasihati putranya agar tetap rajin bersekolah dan belajar dengan tekun.

Pada kesempatan itu, dia juga menjelaskan kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas dengan harapan anaknya dapat memahami kesulitan yang dihadapi. Permintaan terakhir YBS untuk memiliki buku dan pena ternyata tidak dapat dikabulkan karena ketiadaan biaya, sebuah penolakan yang kemudian berujung pada tragedi mengerikan.

Wakil Ketua Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, MY Esti Wijayati, menyatakan bahwa peristiwa ini merupakan tamparan keras bagi seluruh bangsa Indonesia.

Dalam keterangannya, Esti Wijayati menegaskan bahwa seorang anak kehilangan nyawa bukan karena perang atau bencana alam melainkan karena ketidakmampuan memenuhi kebutuhan pendidikan paling dasar.

Dia menilai kejadian ini sungguh tidak dapat diterima dalam sebuah negara yang menjunjung tinggi hak asasi manusia dan hak atas pendidikan bagi setiap warganya.

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Habib Syarief, mendesak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk mengusut tuntas peristiwa tragis ini. Pada Selasa (3/2/2026),

Habib menyatakan keprihatinannya yang mendalam atas seorang anak sekolah dasar yang harus mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli buku dan pena.

Dia menegaskan bahwa kejadian ini harus menjadi alarm peringatan bahwa masih banyak anak-anak di Indonesia yang tidak dapat memenuhi kebutuhan belajar paling mendasar.

Habib Syarief menilai tragedi ini merupakan potret buram dunia pendidikan nasional dan cerminan kesenjangan pemenuhan hak dasar belajar yang masih sangat lebar.

Dia mempertanyakan mengapa perlengkapan sekolah dengan harga relatif terjangkau masih menjadi beban yang tidak mampu dipikul oleh banyak keluarga di daerah. Padahal anggaran pendidikan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara selalu dialokasikan dalam jumlah yang sangat besar setiap tahunnya.

Lebih lanjut, politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa itu meminta agar Kemendikdasmen melakukan investigasi menyeluruh terkait adanya kemungkinan kelalaian sistemik.

Penyaluran bantuan pendidikan di daerah tersebut perlu dipastikan keakuratannya agar tepat sasaran sesuai dengan peruntukannya. Dia juga mempertanyakan efektivitas mekanisme deteksi dini yang seharusnya dijalankan oleh pihak sekolah dan pemerintah daerah terhadap siswa yang mengalami tekanan ekonomi maupun psikososial.

Habib Syarief menekankan bahwa penyelenggara pendidikan mulai dari pemerintah daerah, kepala sekolah, hingga guru seharusnya memahami prioritas kebutuhan dasar peserta didik.

Pengusutan mendalam terhadap kasus ini sangat penting dilakukan agar negara tidak dianggap abai terhadap penderitaan rakyatnya. Dia menegaskan perlunya memastikan apakah bantuan pendidikan sudah tepat sasaran dan apakah ada pendampingan memadai bagi anak-anak yang mengalami tekanan berat akibat kemiskinan ekstrem.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved