Penulis : Rina Syafri
Pernyataan Kepala Bappenas Rachmat Pambudy bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lebih mendesak daripada menciptakan lapangan kerja memang menimbulkan tanda tanya besar. Gagasan ini terdengar mulia: memastikan anak-anak dari PAUD hingga SMA tidak kelaparan, sehingga mereka bisa belajar dengan tenang. Namun, jika ditarik ke masa depan, kebijakan ini menyisakan ironi: bagaimana nasib mereka setelah berusia 18 tahun ke atas?
Memberi makan bergizi gratis jelas penting, tetapi apakah cukup hanya dengan perut kenyang tanpa jaminan pekerjaan? Setelah lulus SMA, generasi muda akan menghadapi realitas hidup yang menuntut biaya kuliah, kebutuhan keluarga, dan penghidupan sehari-hari. Tanpa lapangan kerja, mereka berisiko jatuh ke jurang kemiskinan, menjadi pengangguran, bahkan terpaksa bekerja di sektor informal yang tidak layak.
Kebijakan yang hanya menekankan MBG seakan menempatkan bangsa ini pada dilema klasik: makan untuk hidup atau hidup untuk makan. Jika negara hanya menjamin perut kenyang sampai usia sekolah, lalu membiarkan mereka berjuang sendiri setelah itu, maka program ini ibarat “menunda kemiskinan” alih-alih menghapusnya.
Lebih ironis lagi, jika MBG dijadikan prioritas utama tanpa diimbangi penciptaan lapangan kerja, maka Indonesia berisiko melahirkan generasi yang sehat secara fisik di masa sekolah, tetapi miskin secara ekonomi di masa dewasa. Apa gunanya tubuh sehat jika tidak ada kesempatan bekerja? Apa gunanya pendidikan jika tidak ada ruang untuk mengaplikasikan ilmu?
Bapak sehat, Pak? Ke mana pergi akal sehat Bapak ketika berbicara tentang masa depan generasi Indonesia? Katanya kita ingin mencapai Indonesia Emas 2045. Bagaimana mungkin cita-cita itu tercapai jika setelah lulus SMA anak-anak bangsa ini justru menjadi pemulung dan miskin? Apakah bangsa yang hanya kenyang perut bisa berpikir jernih? Setahu saya, orang yang terlalu kenyang justru hobinya tidur, bukan bekerja atau berinovasi.
Program MBG seharusnya dipandang sebagai fondasi awal, bukan tujuan akhir. Negara wajib memastikan anak-anak tidak kelaparan, tetapi setelah itu, mereka juga harus diberi jalan untuk bekerja, berkreasi, dan berkontribusi. Tanpa itu, bangsa ini hanya akan mencetak lulusan SMA yang kenyang di masa sekolah, lalu lapar di masa dewasa.
Dengan demikian, prioritas kebijakan tidak boleh dipertentangkan: makan bergizi gratis dan penciptaan lapangan kerja harus berjalan beriringan. Menjamin perut kenyang adalah langkah awal, tetapi menjamin masa depan melalui pekerjaan adalah langkah penentu.(*)

