Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Anak 10 Tahun Gantung Diri Usai Tak Dibelikan Buku Tulis, Rocky Gerung Soroti Kegagalan Negara Ada yang Salah dari Pemerintah

 

Repelita Nusa Tenggara Timur - Seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar berinisial YBS (10) ditemukan meninggal dunia dengan cara yang mengenaskan di sebuah pohon cengkih pada Kamis (29/1/2026).

Peristiwa tragis yang terjadi di wilayah Kecamatan Jerebuu ini telah menyebar luas dan memicu berbagai respons dari masyarakat.

Pengamat Politik Rocky Gerung menyoroti tajam persoalan mendasar di balik tragedi ini melalui kanal YouTube resminya, Rocky Gerung Official, pada Selasa (3/2/2026).

Menurut Rocky Gerung, kejadian ini merupakan bukti kegagalan negara dalam memenuhi hak dasar warga negaranya.

"Siapapun yang membayangkan kejadian itu pasti menemukan ada yang salah di dalam syarat-syarat bangsa memelihara peradaban," kata Rocky Gerung dalam pernyataannya.

Dia menambahkan bahwa terdapat kesalahan fundamental dalam kebijakan pemerintah terkait penjaminan keadilan sosial bagi seluruh lapisan masyarakat.

Rocky Gerung menilai pemerintah memikul peran sangat besar atas kegagalan dunia pendidikan dalam peristiwa memilukan ini.

Dia mempertanyakan klaim pemerintah tentang pertumbuhan ekonomi yang mencapai angka 6 hingga 8 persen dalam forum internasional.

Meski demikian, pemerintah dinilainya gagal menyediakan kebutuhan paling mendasar seperti buku tulis bagi anak-anak di daerah terpencil.

“Buku tulis adalah hak dia yang seharusnya disediakan oleh negara,” tuturnya dengan tegas.

Rocky Gerung juga menyatakan bahwa buku tulis melambangkan kemampuan seseorang untuk menunjukkan potensi kepemimpinan dan kontribusinya di masa depan.

“Buku tulis adalah kemampuan seseorang untuk memperlihatkan bahwa dia berniat untuk menjadi pemimpin di masa depan, menjadi berguna bagi bangsa,” sebutnya.

Tragedi ini berawal dari permintaan sederhana korban sehari sebelum kejadian.

YBS yang sedang menginap di rumah ibunya meminta dibelikan buku tulis dan pulpen untuk keperluan sekolahnya.

Permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi oleh orang tuanya karena terkendala masalah ekonomi dan kesulitan keuangan.

Sang ibu terpaksa menolak permintaan anaknya dengan alasan tidak memiliki uang untuk membeli keperluan sekolah tersebut.

Kejadian ini menyoroti kontradiksi yang sangat dalam antara ambisi pemerintah di tingkat makro dengan realitas kemiskinan yang dihadapi masyarakat akar rumput.

Merespons insiden ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah turun tangan dan akan melakukan penyelidikan mendalam.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengaku belum menerima informasi detail dan jelas mengenai peristiwa tersebut.

"Nanti coba kita selidiki ya. Saya belum tahu informasinya," kata Abdul Mu'ti saat menjawab pertanyaan wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa (3/2/2026).

Mu'ti menegaskan bahwa pihaknya akan menyelidiki lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pasti dari tragedi tersebut.

Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul menyatakan rasa prihatin dan belasungkawa yang mendalam.

Gus Ipul menegaskan bahwa insiden yang dialami anak tersebut menjadi perhatian serius pemerintah, khususnya Kementerian Sosial.

"Kami prihatin, turut berduka. Tentu, ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama, tentu bersama pemerintah daerah," kata Gus Ipul.

Dia menekankan pentingnya memperkuat sistem pendampingan dan basis data yang dimiliki Kementerian Sosial.

Gus Ipul menyatakan harapannya agar tidak ada lagi keluarga miskin dan miskin ekstrem yang tidak terdata dalam sistem.

Dia mengungkapkan bahwa pembangunan basis data yang akurat sangat penting untuk menjangkau seluruh keluarga di Indonesia.

Kementerian Sosial berupaya menjangkau keluarga-keluarga dalam kategori miskin ekstrem (desil-1) dan kategori miskin (desil-2).

"Ini hal yang sangat penting. Saya kira kembali kepada data. Bagaimana data ini kita saksikan sebaik mungkin sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga-keluarga yang memang memerlukan perlindungan," ujar dia.

Sebelum mengakhiri hidupnya, korban diketahui meninggalkan sepucuk surat perpisahan yang dialamatkan kepada ibundanya, MGT (47).

Surat yang telah viral di media sosial tersebut berisi pesan singkat yang menyentuh hati bagi sang ibu.

"Surat buat Mama. Mama saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya Mama. Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya. Selamat tinggal Mama," tulis korban dalam suratnya.

Korban diketahui tinggal bersama neneknya, sementara ibundanya yang berstatus sebagai orangtua tunggal bekerja sebagai petani dan pekerja serabutan.

Ibunda korban harus menanggung beban ekonomi untuk menghidupi dan mengurusi lima orang anak, termasuk korban yang telah meninggal dunia.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved