
Repelita Jakarta - Penulis buku ternama Tere Liye mengungkapkan keraguannya terhadap keberhasilan program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang digagas Presiden Prabowo Subianto untuk bersaing dengan jaringan ritel besar seperti Alfamart dan Indomaret di pedesaan.
Pernyataan ini disampaikan melalui unggahan video di media sosial Facebook yang menampilkan Menteri Desa Yandri Susanto meminta agar Alfamart dan Indomaret dihentikan operasionalnya di desa-desa.
"Ini video lama, beberapa minggu lalu, saya ikutan posting deh. Sudah lihat videonya? Jadi gimana? Kalian setuju dengan ocehan pejabat ini?" kata Tere Liye saat membagikan video tersebut di Facebook pada Kamis, 19 Februari 2026.
Lebih lanjut Tere Liye menyatakan dirinya setuju dengan pendapat Yandri dengan catatan bahwa harga barang di Kopdes Merah Putih harus minimal sama dengan harga di Alfamart atau Indomaret.
Namun jika barang di koperasi justru lebih mahal dan stoknya sulit didapat menurutnya hal itu mustahil untuk bisa bersaing dengan ritel modern yang sudah mapan.
"Saya sih setuju, sepanjang: harga barangnya minimal sama di alfamart/indomaret. Tapi kalau ternyata lebih mahal, lebih susah stoknya, duuuh kamu halu," jelasnya dalam unggahan yang menuai beragam komentar warganet.
Tere Liye juga memberikan gambaran terkait berbagai kendala pembangunan di Indonesia yang seringkali membuat kondisi masyarakat semakin sulit dan rumit.
Ia mencontohkan pembangunan bandara baru yang justru menutup bandara lama sehingga menambah jarak dan biaya perjalanan masyarakat.
Selain itu pembatasan penjualan BBM non subsidi oleh SPBU swasta juga dinilai menyulitkan konsumen yang ingin mendapatkan bahan bakar berkualitas.
"Pembangunan di Indonesia itu sering bikin susah. Bangun bandara baru, eeh, bandara lama ditutup, bikin tambah jauh, tambah boros, tambah susah. SPBU swasta boleh jualan, tapi BBMnya dibatasi, bikin susah yang mau beli BBM Non Subsidi," bebernya.
Menurut Tere Liye Kopdes Merah Putih yang mengandalkan dana negara tidak akan mampu bersaing dengan ritel swasta yang lebih efisien dalam pengelolaan bisnis.
Ia menilai program tersebut berpotensi terus mengalami defisit anggaran dan membebani keuangan negara dalam jangka panjang.
"Koperasi mengandalkan anggaran negara kok mau bersaing. Yang ada kopdes ini akan neteeeek terus dengan anggaran. Saya sih lebih percaya MU juara Liga Champions 2026," pungkasnya menyindir dengan nada skeptis.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

