Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Selamat Jalan Pandapotan Lubis: Pejuang Demokrasi yang Tak Pernah Gentar di Era Orde Baru

Repelita Jakarta - Muslim Arbi menyampaikan duka mendalam atas kepergian sahabat seperjuangannya Pandapotan Lubis yang berpulang secara tiba-tiba.

Kabar duka itu datang melalui pesan singkat di pagi hari membuat waktu terasa berhenti sejenak karena sulit diterima bahwa sosok yang masih aktif berdiskusi beberapa jam sebelumnya kini telah tiada.

Kepergian Lubis bukan hanya kehilangan pribadi bagi para sahabat melainkan juga kehilangan besar bagi perjalanan demokrasi Indonesia yang panjang dan penuh tantangan.

Ia termasuk generasi yang memilih bersuara lantang di masa ketika kekuasaan Orde Baru mengendalikan segala aspek kehidupan dengan ketat.

Lubis dikenal sebagai suara kritis yang tak gentar menghadapi risiko intimidasi pembungkaman hingga ancaman keselamatan di era ketika kritik bisa berujung pada represi berat.

Penulis mengenalnya sejak masa-masa sulit di mana menyampaikan pendapat berbeda membutuhkan keberanian luar biasa yang bagi Lubis menjadi sikap hidup sehari-hari.

Keberaniannya bukanlah tindakan heroik dramatis melainkan kesadaran penuh bahwa kebenaran harus diungkapkan meskipun risikonya sangat tinggi.

Di tengah ruang kebebasan yang sangat sempit banyak aktivis bergerak secara sembunyi-sembunyi dengan bahasa kode sementara Lubis justru lugas dan langsung dalam menyuarakan ketidakadilan.

Ia tetap teguh meskipun menghadapi tekanan pengawasan ketat serta stigma yang melekat sebagai konsekuensi dari sikap kritisnya.

Bagi Lubis demokrasi bukan sekadar bentuk pemerintahan melainkan martabat manusia yang wajib diperjuangkan tanpa kompromi.

Perjuangannya tidak selalu tampak di aksi jalanan besar melainkan melalui diskusi panjang percakapan kecil serta kesetiaan menjaga nurani secara konsisten.

Penulis menggambarkan Lubis sebagai sahabat diskusi yang penuh energi dengan pemikiran tajam sekaligus hati yang hangat dalam setiap pembicaraan.

Percakapan dengan Lubis sering kali ringan diselingi tawa cerita masa lalu serta harapan yang selalu disisipkan di antara kritik tajamnya.

Cinta Lubis terhadap negeri ini begitu besar sehingga ia keras dalam kata-kata namun lembut dalam ketulusan memperjuangkan Indonesia yang lebih adil.

Sore sebelum kabar duka tiba mereka masih saling bertukar pesan membahas kondisi bangsa sehingga kenangan itu kini terasa sangat berharga.

Kematian Lubis membawa duka sekaligus cermin bagi yang ditinggalkan tentang apa yang sebenarnya ditinggalkan seseorang bagi dunia.

Warisan terbesar seorang pejuang demokrasi seperti Lubis bukan jabatan atau popularitas melainkan jejak keberpihakan teguh pada kebenaran.

Dalam setiap upaya menjaga demokrasi tetap hidup serta setiap suara yang menolak ketidakadilan nama Lubis akan selalu dikenang.

Selamat jalan sahabat Pandapotan Lubis semoga Allah SWT menempatkanmu di tempat terbaik bersama para pejuang kebaikan sepanjang masa.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok



Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved