Repelita Jakarta - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengundang sejumlah tokoh yang selama ini dianggap sebagai oposisi pemerintah untuk menghadiri pertemuan tertutup di kediaman pribadinya.
Pertemuan yang digelar pada hari Jumat tanggal 30 Januari 2026 tersebut dihadiri oleh setidaknya tujuh tokoh dari berbagai latar belakang berbeda. Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad terkonfirmasi hadir dalam pertemuan yang berlangsung di rumah dinas Presiden di Jalan Kertanegara, Jakarta tersebut.
Selain Abraham Samad, hadir pula Peneliti Utama Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional Siti Zuhro serta mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara Muhammad Said Didu. Undangan untuk menghadiri pertemuan tersebut disampaikan secara langsung oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin atas nama Presiden.
Pertemuan berlangsung selama hampir empat jam mulai pukul lima sore hingga mendekati pukul sembilan malam waktu setempat. Presiden Prabowo Subianto secara pribadi mempresentasikan berbagai kebijakan strategis yang sedang dan akan dilaksanakan pemerintah untuk percepatan pembangunan nasional.
Meskipun didampingi oleh sekitar sepuluh orang staf khusus kepercayaannya, Presiden tetap menjadi presenter utama dalam diskusi tersebut. Atmosfer diskusi berlangsung sangat dinamis dengan pertukaran pandangan yang intens mengenai berbagai isu strategis dan sensitif.
Presiden dikatakan mendengarkan dengan baik setiap masukan dan pendapat yang disampaikan oleh para tokoh yang hadir dalam pertemuan tersebut. Terjadi diskusi mendalam mengenai berbagai persoalan bangsa yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah.
Para peserta pertemuan menyepakati pentingnya agenda pengembalian kedaulatan negara dan rakyat sebagai prioritas utama pemerintahan. Isu strategis seperti pemberantasan korupsi dan pengelolaan sumber daya alam juga menjadi bahasan utama dalam pertemuan tersebut.
Beberapa topik sensitif turut dibahas termasuk rencana reformasi institusi Kepolisian Republik Indonesia serta keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace untuk konflik Gaza. Diskusi mengenai berbagai isu lainnya menunjukkan keterbukaan Presiden dalam menerima masukan dari berbagai kalangan.
Setelah pertemuan tersebut, para tokoh menyatakan komitmen untuk melakukan oposisi terhadap pihak-pihak yang menghalangi agenda pengembalian kedaulatan nasional. Kedaulatan yang dimaksud meliputi aspek politik, ekonomi, hukum, sumber daya alam, serta wilayah yang dinilai telah direbut oleh oligarki.
Mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara Muhammad Said Didu memberikan penjelasan singkat mengenai pertemuan tersebut melalui akun media sosial X miliknya. Ia menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto atas kesediaan menerima dan berdiskusi dengan mereka.
Pertemuan ini dinilai sebagai langkah politik penting dalam membangun komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat yang selama ini kritis terhadap kebijakan pemerintah. Pendekatan dialogis semacam ini diharapkan dapat menciptakan iklim politik yang lebih sehat dan konstruktif.
Interaksi antara pemerintah dengan kalangan yang selama ini berseberangan menunjukkan upaya untuk mencari titik temu dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa. Pertemuan tertutup semacam ini memberikan ruang bagi pertukaran gagasan yang lebih jujur dan substantif tanpa tekanan publik.
Komitmen untuk bersama-sama melawan oligarki dan mengembalikan kedaulatan nasional menjadi pesan kuat yang disepakati dalam pertemuan tersebut. Langkah konkret berikutnya dari kesepakatan ini masih perlu ditunggu realisasinya dalam kebijakan dan program pemerintahan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

