Repelita Jakarta - Lembaga survei Median merilis hasil penelitian terkait sikap masyarakat Indonesia terhadap keanggotaan negara dalam Board of Peace yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Penelitian dilakukan dengan metode kuesioner yang disebar secara proporsional kepada akun media sosial di seluruh Indonesia dengan target seribu dua ratus sampel pada periode sepuluh hingga empat belas Februari dua ribu dua puluh enam.
Hasil menunjukkan sebanyak tujuh puluh delapan koma delapan persen responden menyatakan tahu tentang keberadaan Board of Peace.
Rinciannya tiga puluh satu koma dua persen mengetahui secara detail sementara empat puluh tujuh koma enam persen hanya pernah mendengar sekilas.
Direktur Eksekutif Median Rico Marbun saat memaparkan hasil survei pada Senin dua puluh tiga Februari dua ribu dua puluh enam mengungkapkan lima hal yang paling sering terlintas dalam benak responden yang tahu secara detail tentang Board of Peace.
Pertama forum ini dianggap sebagai tandingan PBB dengan persentase dua puluh koma dua persen.
Kedua dianggap dibuat untuk menengahi konflik Palestina dan Israel dengan delapan belas persen.
Ketiga forum buatan Amerika Serikat dan Donald Trump dengan tujuh belas koma delapan persen.
Keempat taktik Amerika dan Israel untuk menguasai Gaza dengan delapan koma dua persen.
Kelima forum perdamaian dunia dengan lima koma empat persen.
Temuan selanjutnya menunjukkan lebih dari lima puluh koma empat persen responden tidak setuju Indonesia bergabung dengan Board of Peace sementara tiga puluh empat koma delapan persen menyatakan setuju dan sisanya empat belas koma delapan persen belum menentukan sikap.
Tiga alasan utama bagi yang setuju adalah untuk kemerdekaan Palestina dengan lima belas persen memperkuat posisi Indonesia di dunia internasional dengan sepuluh koma dua persen serta upaya perdamaian dunia dengan sembilan koma dua persen.
Sementara tiga alasan terbesar bagi yang tidak setuju adalah Board of Peace hanya upaya Amerika dan Israel menguasai Gaza dengan empat belas koma enam persen pemborosan uang negara hingga tujuh belas triliun rupiah dengan sembilan koma enam persen serta Palestina belum merdeka hingga saat ini dengan enam koma delapan persen.
Yang menarik responden yang mengaku bagian dari Nahdlatul Ulama menunjukkan persetujuan tertinggi mencapai lima puluh tiga koma dua persen bahkan melebihi Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia dengan empat puluh empat koma lima persen.
Sementara dari kalangan Muhammadiyah hanya tiga belas koma sembilan persen yang setuju Indonesia bergabung.
Rico Marbun menjelaskan bahwa secara umum simpatisan Nahdlatul Ulama lebih terbuka menerima solusi dua negara untuk Palestina dan Israel.
Saya pikir tema itu bisa diterima oleh sample yang mengaku dirinya NU tapi di sisi yang lain ada ketidakpercayaan yang cukup besar apakah tema ini akan menguntungkan Amerika dan Israel saja tanpa mengikutkan orang Palestina juga katanya.
Temuan lain menunjukkan sebanyak enam puluh tujuh koma tujuh persen responden setuju dengan pernyataan bahwa Board of Peace hanya akan menguntungkan Amerika Serikat dan Israel.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

