Penulis: Rina Syafri
Gedung 40 Lantai: Ambisi atau Ilusi?
Rencana Prabowo membangun gedung 40 lantai untuk MUI hingga Baznas di depan Bundaran HI menimbulkan pertanyaan mendasar: apa sebenarnya ambisi di balik proyek ini? Apakah sekadar simbol kemewahan, atau benar-benar solusi bagi rakyat yang sedang berjuang di tengah kesulitan hidup?
Bundaran HI adalah etalase Jakarta, pusat perhatian nasional dan internasional. Menempatkan gedung megah di sana jelas akan menampilkan citra kekuasaan dan modernitas. Namun, di balik kilau kaca dan beton, realitas rakyat Indonesia jauh dari gemerlap. Kemiskinan meningkat, biaya hidup melonjak, dan tragedi kemanusiaan terjadi di akar rumput.
Kita melihat pasien cuci darah yang tak lagi ditanggung BPJS, anak sekolah dasar berusia 10 tahun yang bunuh diri karena tak mampu membeli buku, hingga jutaan rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan tanpa pernah masuk berita. Semua ini adalah wajah nyata Indonesia hari ini. Sementara itu, pemerintah justru sibuk dengan proyek simbolis: dari sawit di Papua, gentengisasi rumah, hingga kini gedung 40 lantai.
Kontradiksi yang Menyakitkan
- Lembaga sudah punya kantor: MUI, Baznas, dan lembaga lain sudah memiliki fasilitas masing-masing. Mengapa tidak dimanfaatkan?
- Anggaran dipangkas, rakyat tetap sengsara: Pemerintah memang mengklaim bansos tetap aman meski anggaran Kementerian Sosial dipotong. Namun, fakta di lapangan menunjukkan rakyat miskin tetap kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
- Kemewahan semu: Gedung tinggi di Bundaran HI mungkin tampak megah, tetapi tidak menjawab kebutuhan mendesak rakyat kecil.
Indonesia Menuju Emas?
Apakah “Indonesia Emas” berarti gedung-gedung menjulang di pusat kota, atau rakyat yang benar-benar sejahtera? Jika indikator emas hanya diukur dari kemewahan fisik, maka itu hanyalah ilusi. Kemajuan sejati mestinya diukur dari:
- akses kesehatan yang adil,
- pendidikan yang terjangkau,
- harga kebutuhan pokok yang stabil,
- dan jaminan sosial yang melindungi rakyat kecil.
Kesimpulan
Ambisi Prabowo tampak lebih diarahkan pada pencitraan dan simbol kemewahan ketimbang solusi nyata bagi rakyat miskin. Gedung 40 lantai di Bundaran HI mungkin akan jadi monumen megah, tetapi di baliknya ada jurang ketidakadilan sosial yang semakin lebar. Indonesia menuju emas seharusnya bukan sekadar tampilan luar, melainkan isi kehidupan rakyat yang benar-benar berkilau.
Maka, pertanyaan yang layak diajukan: untuk siapa sebenarnya gedung 40 lantai itu dibangun? Untuk rakyat, atau sekadar untuk citra?

