Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Gedung 40 Lantai di Bundaran HI: Indonesia Menuju Emas atau Sekadar Ilusi Kemewahan?

 Menjawab Presiden Prabowo Terkait Pengkritik Pemerintah

 Penulis: Rina Syafri

Tidak tanggung-tanggung. Gedung 40 Lantai untuk MUI dan semua lembaga umat Islam. Inilah rencana besa Presiden Prabowo yang perlu dicerna dan dicermati dengan sungguh-sungguh.

Lokasi gedung umat itu pun, tidak sembarangan. Di Bundaran HI. “Di jantung ibukota,” kata Presiden. Dan, sangat luas. Tanah 4,000 meter persegi telah disiapkan.

Tentu ini luar biasa. Namun, ada satu pertanyaan pertanyaan mendasar: apa sebenarnya ambisi di balik proyek ini? Apakah sekadar simbol kemewahan, atau benar-benar solusi bagi rakyat yang sedang berjuang di tengah kesulitan hidup?

Bundaran HI adalah etalase Jakarta. Pusat perhatian nasional dan internasional. Menempatkan gedung megah di sana jelas akan menampilkan citra kekuasaan dan modernitas. Namun, di balik kilau kaca dan beton, realitas rakyat Indonesia jauh dari gemerlap. Kemiskinan meningkat. Biaya hidup melonjak. Dan tragedi kemanusiaan terjadi di akar rumput.

Kita melihat pasien cuci darah yang tak lagi ditanggung BPJS. Anak sekolah dasar berusia 10 tahun bunuh diri karena tak mampu membeli buku. Hiiingga jutaan rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan tanpa pernah masuk berita. Semua ini adalah wajah nyata Indonesia hari ini.

Sementara itu, pemerintah justru sibuk dengan proyek simbolis: dari sawit di Papua, gentengisasi rumah, hingga kini gedung 40 lantai. Bukankah ini bentuk kontradiksi yang menyakitkan?

Benarkah semua lembaga umat memerlukan gedung keren 40 lantai? Sebetulnya MUI sudah punya kantor. Begitu juga Baznas dan lembaga-lembaga lainnya. Mereka sudah memiliki fasilitas masing-masing. Apakah perlu kita hamburkan triliunan uang rakyat di tengah kondisi sulit saat ini?

Sangat mengherankan bahwa anggaran belanja dipangkas demi desakan efisiensi. Tapi rakyat tetap sengsara. Anehnya, Pemerintah mengklaim bansos tetap aman meski anggaran Kementerian Sosial dipotong. Namun, fakta di lapangan menunjukkan kaum miskin tetap kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Kami khawatir proyek gedung umat ini akan mencerminkan kemewahan yang semu. Gedung tinggi di Bundaran HI mungkin tampak megah, tetapi tidak menjawab kebutuhan mendesak rakyat kecil.

Apakah “Indonesia Emas” berarti gedung-gedung menjulang di pusat kota, atau rakyat yang benar-benar sejahtera? Jika indikator emas hanya diukur dari kemewahan fisik, maka itu hanyalah ilusi. Kemajuan sejati mestinya diukur dari akses kesehatan yang adil, pendidikan yang terjangkau, harga kebutuhan pokok yang stabil, dan jaminan sosial yang melindungi rakyat kecil.

Ini yang bisa disimpulkan. Bahwa ambisi Prabowo tampak lebih diarahkan pada pencitraan dan simbol kemewahan ketimbang solusi nyata bagi rakyat miskin. Gedung 40 lantai di Bundaran HI mungkin akan jadi monumen megah, tetapi di baliknya ada jurang ketidakadilan sosial yang semakin lebar. Indonesia menuju emas seharusnya bukan sekadar tampilan luar, melainkan isi kehidupan rakyat yang benar-benar berkilau.

Maka, pertanyaan yang layak diajukan: untuk siapa sebenarnya gedung 40 lantai itu dibangun? Untuk rakyat, atau sekadar untuk citra? (*)

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved