Repelita Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden China Xi Jinping pada Rabu 4 Februari 2026 yang berlangsung panjang dan mendalam.
Trump menyebut percakapan itu sebagai excellent conversation yang mencakup berbagai isu krusial termasuk situasi di Iran.
Ia secara khusus mengajak China untuk ikut menekan Iran agar lebih terisolasi menyusul tindakan keras Teheran terhadap protes nasional serta program nuklirnya.
Trump menekankan bahwa Washington sedang mendorong Beijing dan negara lain untuk memutus hubungan lebih jauh dengan Iran demi menjaga stabilitas kawasan.
Dalam pembicaraan yang sama kedua pemimpin juga membahas masalah Taiwan yang menjadi isu paling sensitif dalam hubungan bilateral AS-China.
Xi Jinping menegaskan bahwa Taiwan merupakan isu paling penting dalam hubungan China-AS dan meminta AS berhati-hati dalam penjualan senjata ke pulau tersebut.
Menurut pernyataan dari pihak China Xi menekankan bahwa Taiwan tidak akan pernah boleh dipisahkan dari China dan AS harus menangani isu tersebut dengan prudent.
Trump menyatakan keduanya juga membahas perdagangan di mana China mempertimbangkan peningkatan pembelian kedelai minyak dan gas dari AS.
Selain itu percakapan menyentuh perang Rusia di Ukraina serta rencana kunjungan Trump ke Beijing pada April mendatang untuk memperkuat dialog.
Trump menggambarkan hubungan pribadinya dengan Xi sebagai extremely good dan keduanya sepakat penting menjaga stabilitas hubungan AS-China.
Pihak China dalam pernyataan resminya menyoroti Taiwan sebagai red line sementara Trump lebih menekankan aspek perdagangan dan tekanan terhadap Iran.
Percakapan ini menjadi sinyal upaya stabilisasi hubungan dua negara besar di tengah ketegangan geopolitik global yang kompleks.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

