Repelita Jakarta - Presiden Prabowo Subianto akan menyampaikan pidato di World Economic Forum Annual Meeting 2026 di Davos Swiss pada 22 Januari 2026 dengan mengangkat konsep Prabowonomics.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan bahwa presiden akan menjelaskan berbagai pemikiran ekonomi yang telah diterapkan serta hasil capaian pemerintah selama satu tahun terakhir.
Konsep tersebut secara keseluruhan diberi nama Prabowonomics oleh Presiden Prabowo Subianto sendiri.
Pidato ini menjadi bagian dari sesi kunci di forum yang dihadiri puluhan kepala negara serta ribuan pemimpin bisnis global.
Menurut keterangan Teddy Indra Wijaya yang disampaikan di London sebelum keberangkatan ke Swiss presiden akan fokus pada pencapaian konkret selama masa jabatannya.
Forum ini mengusung tema dialog di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik sehingga pidato presiden diharapkan memberikan perspektif penting dari Indonesia.
Presiden tiba di Zurich pada malam hari sebelum acara untuk mempersiapkan partisipasi penuh.
Pidato dijadwalkan berlangsung sekitar tiga puluh menit dan akan disiarkan bersama moderator dari World Economic Forum.
Berbagai tanggapan muncul dari masyarakat termasuk kritik tajam terhadap konsep Prabowonomics dan capaian ekonomi yang dipaparkan.
Netizen Tere Liye menyampaikan pandangannya secara terbuka dengan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap narasi pencapaian tersebut.
Kutipan dari Tere Liye berbunyi "Saya sangat kagum dengan Prabowo ini. Setahun dia berkuasa di Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya B saja dibanding tahun-tahun sebelumnya (Jokowi 2014-2024) apalagi dibanding pertumbuhan era SBY (2004-2014).
Kebanting sekali. Rupiah terus lunglai melemah. Utang terus meroket defisit nyaris tembus 3%. Entah di bagian mananya sih yang bisa dia banggakan? Dan dia mau ceramah di forum dunia pamer jurus-jurus ekonomi yang dia BERI nama dengan namanya sendiri?
Aduh. Sungguh narsis luar biasa. Mungkin dia mau pamer IHSG 9200? Tapi kan jadi lucu bukankah dulu dia menghina-hina IHSG? Atau sudah beda lagi pendapatnya?
Kalau ekonomi Indonesia itu sudah tumbuh 6% baru kamu bisa bangga dikit my friend. Tapi dikit saja karena era 2004-2014 angka 6% itu biasaaa banget."
Pandangan Tere Liye mencerminkan skeptisisme sebagian publik terhadap klaim prestasi ekonomi dalam waktu singkat serta penamaan konsep dengan nama pribadi presiden.
Meski demikian keikutsertaan di Davos tetap menjadi langkah diplomasi untuk mempromosikan visi ekonomi Indonesia di kancah internasional.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

