Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Bahaya Memilih Presiden dengan Penurunan Kontrol Diri dan Fungsi Otak, Ancaman Serius bagi Stabilitas Negara?

 Pujian Trump dan Ujian Prabowo: Ketika Dunia Mulai Mendengar Indonesia -  Indonesia Visioner

Repelita Jakarta - Bahaya Memilih Pemimpin dengan Penurunan Kontrol Diri dan Fungsi Otak

Bahaya memilih seorang presiden yang mengalami penurunan kemampuan kognitif menjadi peringatan serius bagi stabilitas negara dan hubungan internasional menurut dr. Erta Priadi Wirawijaya Sp.JP.

Pidato seorang pemimpin dunia dulu dianggap sebagai dokumen resmi yang penuh pertimbangan matang serta dijaga dengan ketat demi kepentingan negara.

Kini sebagian ucapan pemimpin terdengar seperti unggahan media sosial yang impulsif sarat sindiran serta sering berubah sesuai situasi.

Ketika hal tersebut terjadi pada presiden Amerika Serikat dampaknya meluas hingga membuat NATO gelisah sekutu khawatir serta pasar keuangan tegang.

Publik pun wajar bertanya apakah itu bagian dari strategi yang dirancang atau tanda adanya penurunan kemampuan mengendalikan diri.

Banyak orang salah paham menganggap pikun hanya sebatas sering lupa padahal dalam bidang medis kemampuan memimpin melibatkan lebih dari sekadar daya ingat seperti yang dijelaskan dr. Erta Priadi Wirawijaya Sp.JP.

Kepemimpinan menuntut kemampuan menahan diri menjaga alur pikiran peka terhadap konteks sosial serta memahami akibat dari setiap ucapan.

Jika seorang pemimpin berbicara tanpa filter terlalu spontan mudah memicu konflik serta cepat menyalahkan pihak lain maka kecurigaan muncul bahwa ada perubahan pada fungsi otaknya.

Demensia merupakan gangguan fungsi otak yang menyebabkan kemunduran kemampuan berpikir serta menjalankan aktivitas sehari-hari secara nyata.

Gangguan ini bukan sekadar kurang cerdas kurang percaya diri atau kebiasaan lupa yang dianggap lucu melainkan masalah biologis yang dipengaruhi usia serta kondisi pembuluh darah seperti hipertensi diabetes kolesterol tinggi dan riwayat stroke ringan yang sering tak disadari.

Perlu dibedakan antara pelupa biasa akibat usia dengan demensia sejati.

Pelupa biasa masih bisa dikoreksi dengan pengingatan lalu langsung memahami kembali sedangkan demensia membuat seseorang kesulitan menangkap konteks menilai situasi merencanakan langkah serta menjaga konsistensi keputusan.

Salah satu jenis demensia yang sering luput dari perhatian publik karena tidak selalu tampak sebagai pelupa adalah frontotemporal dementia atau FTD.

FTD menyerang terutama bagian depan dan samping otak yang mengatur kontrol diri penilaian sosial perencanaan empati serta kemampuan berbahasa.

Karena area pengendali perilaku dan filter sosial terganggu lebih dulu maka FTD sering muncul sebagai perubahan karakter seperti menjadi impulsif sering mengucapkan hal tidak pantas agresif dingin kurang peka serta sulit menjaga batasan sosial yang dulu mampu dipertahankan.

Perbedaan mencolok terlihat dibandingkan Alzheimer yang biasanya dimulai dengan gangguan memori seperti lupa kejadian baru lupa tempat barang serta lupa janji kemudian disusul gangguan lain.

Pada FTD perubahan perilaku dan kepribadian justru mendominasi di awal dengan cara bicara berubah keputusan ceroboh kontrol emosi terganggu serta empati menurun sehingga terlihat tegas padahal sebenarnya kehilangan kendali atau berani padahal sudah tak mampu menyaring.

Ada pula demensia vaskular yang disebabkan kerusakan pembuluh darah otak akibat hipertensi kronis diabetes atau stroke berulang.

Demensia vaskular biasanya menunjukkan penurunan bertahap tapi bertingkat dengan memburuk setelah kejadian tertentu lalu stabil kemudian memburuk lagi disertai gejala seperti lambat berpikir sulit fokus mudah bingung gangguan langkah serta perubahan emosi.

Berbeda dengan FTD yang perubahan perilakunya dominan sejak awal meski memori relatif terjaga pada tahap awal sedangkan demensia vaskular lebih terkait faktor risiko metabolik dan pembuluh darah.

FTD memiliki varian dominan perilaku di mana seseorang menjadi impulsif kehilangan norma sosial lebih kasar mudah tersulut atau malah tampak acuh tak acuh serta varian dominan bahasa dengan kemampuan mencari kata dan memahami bahasa menurun.

Masyarakat awam sering mengira perubahan itu sebagai kepribadian buruk atau efek penuaan yang menyebalkan padahal dalam banyak kasus itu merupakan tanda otak sedang mengalami gangguan serius.

Dalam konteks global gaya komunikasi presiden Amerika Serikat saat ini kerap memicu kekacauan diplomatik dengan pernyataan impulsif serta berubah-ubah sehingga sekutu sulit memprediksi kebijakan.

Hubungan sehat memerlukan kepastian baik dalam diplomasi maupun pengobatan di klinik di mana pasien kehilangan kepercayaan jika rencana terapi selalu berubah tanpa alasan jelas.

Negara juga demikian jika pemimpin sulit menahan ucapan maka stabilitas yang terganggu bukan hanya soal etika melainkan kepercayaan dan ketertiban.

Meski demikian sebagai tenaga medis dr. Erta Priadi Wirawijaya Sp.JP menegaskan bahwa diagnosis demensia atau FTD tidak bisa dilakukan hanya dari potongan video atau pidato melainkan memerlukan pemeriksaan langsung tes kognitif riwayat dari keluarga serta penyingkiran penyebab lain seperti gangguan tidur depresi atau efek obat.

Namun masyarakat berhak menilai secara praktis apakah pemimpin menunjukkan konsistensi kontrol diri serta kemampuan menimbang kata-kata atau justru sebaliknya.

Bahaya terbesar terletak pada pemilihan pemimpin yang menunjukkan penurunan kemampuan kontrol diri karena pemimpin bukan hanya pembuat kebijakan melainkan sumber sinyal yang bisa menjadi komando ancaman kepastian atau kekacauan.

Jika sinyalnya tidak terkendali maka aparat birokrasi akan lebih sibuk menangani dampak daripada membangun kemajuan.

Bagi Indonesia pelajaran ini sangat relevan karena kesehatan otak pemimpin merupakan isu keselamatan publik bukan urusan pribadi.

Seperti sopir bus yang mengangkut banyak penumpang meski kita kasihan jika ia sakit tetap tidak boleh menyerahkan kemudi pada orang dengan kendali yang menurun.

Kewaspadaan terhadap hal ini adalah bentuk tanggung jawab terhadap masa depan sebab negara bisa bertahan dari ancaman luar namun rentan runtuh akibat ketidakstabilan internal termasuk dari ucapan impulsif pikiran tak terkendali serta keputusan tanpa rem.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved