Oleh Rina Syafri
Sumpah kedokteran adalah janji luhur yang menegaskan bahwa seorang dokter wajib menolong siapa pun yang membutuhkan, tanpa memandang latar belakang politik atau kontroversi publik. Ketika dr. Tifa menawarkan perawatan imun kepada Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, langkah itu patut dibaca sebagai wujud nyata dari panggilan kemanusiaan dan profesionalisme medis.
Di tengah panasnya isu politik dan polemik ijazah yang belum menemukan ujung, tawaran ini menghadirkan perspektif berbeda: bahwa kesehatan manusia tidak boleh dijadikan arena pertarungan politik. Dari segi kemanusiaan, saya salut pada dr. Tifa yang berani menempatkan nilai kemanusiaan di atas segala perbedaan.
Namun, saya juga memahami kekhawatiran publik. Jika tawaran ini diterima, para termul mungkin menilai ada risiko rekam medis Jokowi terbuka ke publik. Padahal, dari segi etika kedokteran, kerahasiaan pasien adalah prinsip mutlak. Rekam medis dijamin kerahasiaannya, dan seorang dokter tidak boleh menyalahgunakan informasi medis untuk kepentingan apa pun di luar perawatan.
Jika Jokowi menerima tawaran ini, maka kedua pihak sebenarnya sedang berusaha menghilangkan ego masing-masing demi kepentingan yang lebih besar: kesehatan dan kemanusiaan. Tetapi persepsi publik sering kali berbeda dengan kenyataan hukum dan etika. Di tengah kasus politik yang berlarut-larut, wajar jika muncul rasa curiga.
Pada akhirnya, keputusan tetap berada di tangan Jokowi. Apakah beliau akan menerima tawaran tersebut atau memilih jalur medis lain, itu adalah hak pribadi yang harus dihormati. Yang jelas, tawaran dr. Tifa menegaskan bahwa ruang kemanusiaan masih ada, bahkan di tengah panasnya perdebatan politik.
Sebagai bangsa, kita perlu belajar memisahkan ranah kesehatan dari ranah politik. Seorang mantan presiden tetaplah manusia yang berhak atas perawatan medis terbaik. Dan seorang dokter tetaplah manusia yang terpanggil untuk menolong sesuai sumpah profesinya. Jika kedua pihak mampu menekan ego, maka yang lahir bukanlah keributan melainkan teladan bahwa kemanusiaan bisa berdiri di atas segala perbedaan.[]

