Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Nasib Chiki Fawzi: Antara Pencopotan, Pemanggilan Kembali, dan Martabat Petugas Haji

Oleh Rina Syafri

Pencopotan mendadak Chiki Fawzi dari tugas sebagai petugas haji, lalu pemanggilan kembali dengan alasan “ada arahan dari atasan”, menimbulkan kesan bahwa nasib seorang petugas bisa dipermainkan oleh birokrasi. Publik melihat hal ini bukan sekadar administrasi, melainkan cermin bagaimana keputusan yang tidak konsisten dapat melukai martabat individu yang mengabdi.

Chiki Fawzi, seorang seniman sekaligus putri dari musisi Ikang Fawzi dan almarhumah Marissa Haque, tentu merasakan kekecewaan ketika diberhentikan tanpa penjelasan yang jelas. Pemanggilan kembali memang menunjukkan adanya kemungkinan kesalahan prosedural atau miskomunikasi internal, tetapi publik tetap berasumsi bahwa pencopotan ini bisa terkait dengan sikap kritis Chiki terhadap isu-isu sosial, termasuk bencana Aceh yang pernah ia soroti secara frontal.

Kritik sosial adalah bagian dari kebebasan berekspresi yang dijamin konstitusi. Jika pencopotan seorang petugas haji dikaitkan dengan ekspresi kritis, maka hal itu menimbulkan pertanyaan serius tentang profesionalisme dan objektivitas lembaga yang berwenang. Petugas haji seharusnya dipilih berdasarkan kompetensi, integritas, dan komitmen pelayanan, bukan karena sikap politik atau pandangan pribadi.

Di balik kekecewaan itu, ada pesan moral yang bisa diambil. Pemanggilan kembali Chiki Fawzi menunjukkan bahwa kebenaran pada akhirnya menemukan jalannya. Kesalahan birokrasi bisa diperbaiki, dan keadilan bisa ditegakkan. Seperti pepatah, “yang emas tetap emas.” Dedikasi Chiki dalam menjalankan tugas haji bisa menjadi ladang amal, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga sebagai pahala yang mengalir bagi almarhumah ibunya dan ayahnya yang masih berkarya.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa birokrasi harus transparan, konsisten, dan adil. Jangan sampai publik melihat bahwa pencopotan dan pemanggilan kembali seorang petugas hanyalah bentuk pelampiasan atau permainan kekuasaan. Pada akhirnya, tugas haji adalah amanah besar yang menyangkut pelayanan umat, bukan arena untuk menguji kesabaran individu.(*)

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved