
Repelita Jakarta - Berbagai kalangan masyarakat termasuk mahasiswa akademisi politisi organisasi kemasyarakatan ulama serta aktivis terus menyuarakan desakan kuat kepada Presiden Prabowo Subianto agar segera menarik Indonesia keluar dari keanggotaan Board of Peace BoP yang dibentuk Amerika Serikat.
Tuntutan serupa juga mengarah pada evaluasi serta pembatalan perjanjian dagang Agreement on Reciprocal Trade ART dengan Amerika karena dianggap tidak seimbang dan merugikan kepentingan nasional Indonesia.
M Rizal Fadillah pemerhati politik dan kebangsaan menilai BoP sarat kepentingan Israel sementara ART tidak adil sehingga penolakan rakyat sangat wajar berdasarkan UUD 1945 politik luar negeri bebas aktif serta prinsip keadilan internasional.
Penolakan tersebut bersifat mutlak hingga mencapai tahap ultimatum keluar BoP atau keluar Istana yang menunjukkan keseriusan tuntutan yang tidak bisa dianggap remeh.
Meskipun Prabowo berupaya mencari legitimasi melalui pertemuan dengan berbagai pihak M Rizal Fadillah menilai sulit mendapat dukungan kuat atas keterlibatan berbahaya dalam BoP terutama setelah serangan Amerika dan Israel ke Iran yang dianggap melanggar hukum internasional.
Menurutnya peristiwa tersebut telah mengubah wajah BoP dari simbol perdamaian menjadi Blood of War yang mencerminkan pengkhianatan terhadap nilai kemanusiaan.
M Rizal Fadillah juga menyatakan BoP bukan harapan bagi Gaza melainkan penipuan yang mempertaruhkan pasukan stabilisasi dari Maroko Kazakhstan Albania Kosovo serta Indonesia untuk menghadapi militan Hamas demi kepentingan Israel di bawah kendali Amerika.
Ia menegaskan Indonesia tidak seharusnya tunduk dan menghamba kepada kepentingan zionis melalui struktur tersebut.
Mengenai alasan Prabowo sulit keluar dari BoP M Rizal Fadillah menyebut beberapa kemungkinan antara lain kepentingan pribadi untuk menghapus stigma pelanggaran HAM di mata Amerika strategi bermain dari dalam rasa tersanjung sebagai wakil komandan ketakutan akan tekanan Amerika serta Israel serta dugaan penerimaan suap.
Ia mengutip The Guardian yang menyebut BoP sebagai klub suap menyuap yang didominasi Trump sehingga keterlibatan Indonesia dianggap sedang bermain api yang berpotensi membakar akibat mengabaikan rasa keadilan rakyat.
M Rizal Fadillah menambahkan keputusan bergabung dengan BoP diambil secara gegabah dan sembunyi-sembunyi tanpa menyerap aspirasi rakyat terlebih dahulu sehingga melanggar konstitusi serta menempatkan Indonesia di bawah pengaruh pihak yang dianggap musuh kemanusiaan.
Watak kepemimpinan yang dinilai kerdil dan pengecut tersebut berakibat pada penurunan kepercayaan publik serta kesulitan menjalankan program pemerintahan di tengah kemarahan rakyat yang semakin membara.
Karenanya tuntutan semakin keras bergaung termasuk makzulkan Prabowo-Gibran sebagai respons atas kebijakan yang dianggap merugikan bangsa.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

