Repelita Bandung Barat - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan peringatan keras mengenai bencana tanah longsor yang melanda Kecamatan Cisarua.
Dia menyinggung secara tegas mengenai eksploitasi alam berlebihan yang dilakukan manusia sebagai penyebab utama terjadinya musibah tersebut.
Bencana longsor yang terjadi di Desa Pasirlangu pada Sabtu dini hari tanggal 24 Januari 2026 telah menimbulkan kerugian material dan korban jiwa yang signifikan.
Musibah tersebut mengubur setidaknya tiga puluh rumah warga yang berada di Kampung Pasir Kuning dengan material tanah dan bebatuan.
Tim SAR telah berhasil mengevakuasi dua puluh lima jenazah korban dari lokasi kejadian yang terkubur material longsoran.
Dari jumlah tersebut, tujuh belas jenazah telah berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga masing-masing untuk proses pemakaman.
Sisanya sebanyak delapan jenazah masih dalam proses identifikasi intensif oleh tim medis dan forensik yang bertugas.
Dedi Mulyadi menyatakan keprihatinan mendalam melalui akun Instagram pribadinya @dedimulyadi71 pada Minggu 25 Januari 2026.
Dia menegaskan bahwa bencana alam bisa menimpa siapa saja tanpa memandang apakah orang tersebut terlibat dalam perusakan lingkungan atau tidak.
"Longsor di Bandung Barat menjadi catatan penting bahwa bencana dapat terjadi pada siapa pun tanpa melihat latar belakang perbuatannya," ujar Dedi.
Gubernur menyoroti fakta bahwa manusia telah melakukan kesalahan serius dalam memperlakukan kawasan perbukitan di wilayahnya.
Dia menilai sudah terjadi pengabaian terhadap kelestarian alam dan keseimbangan ekosistem yang seharusnya dijaga dengan baik.
Manusia dinilai telah terlalu jauh dalam mengeksploitasi alam tanpa mempertimbangkan aspek keharmonisan dan keselamatan jangka panjang.
Padahal, menurut filosofi yang diungkapkannya, manusia sebenarnya hanya menumpang hidup di atas bumi ini.
Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi manusia untuk menghormati dan menjaga alam sebaik mungkin sebagai tempat tinggal.
Dedi mengajak semua pihak termasuk pemerintah dan masyarakat untuk melakukan introspeksi mendalam mengenai perlakuan terhadap lingkungan.
Pemerintah diminta mengevaluasi kebijakan tata ruang dan pengelolaan lingkungan yang selama ini diterapkan di daerah.
Sementara itu, masyarakat diharapkan memahami bahwa tindakan yang bertentangan dengan alam pada akhirnya akan berbalik menjadi bencana.
"Sudah saatnya kita mengubah seluruh perilaku buruk yang menjadikan alam sebagai bahan eksploitasi tanpa mempertimbangkan keharmonisan hidup," tegas Dedi.
Dia menekankan pentingnya kesadaran bersama bahwa manusia harus menghormati bumi sebagai tempat tumpangan yang memberikan kehidupan.
Pemerintah harus menyadari kesalahan dalam kebijakan yang mungkin telah berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan.
Masyarakat juga perlu menyadari bahwa tindakan melawan alam akan berujung pada bencana yang dapat menimpa siapapun tanpa diskriminasi.
Di akhir pernyataannya, Dedi Mulyadi menyampaikan duka mendalam atas musibah yang menimpa warga Cisarua dan wilayah lain di Jawa Barat.
Dia berharap peristiwa tragis ini dapat menjadi momentum untuk bangkitnya kesadaran kolektif dalam memperlakukan alam.
"Semoga kita menjadi manusia yang tersadarkan dan lebih bijaksana dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar," ungkap Dedi.
Banyak netizen yang merespons pernyataan gubernur tersebut dengan memberikan komentar dan doa untuk korban bencana.
Akun Instagram @nur*** menuliskan harapan agar keluarga korban diberikan ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi musibah.
Sementara akun @kar*** berharap para pejabat lain dapat mendengar pesan yang disampaikan oleh Gubernur Dedi Mulyadi.
Akun @dew*** menambahkan bahwa kerusakan alam terjadi karena kerusakan akhlak manusia sehingga alam melakukan pemurnian.
Bencana longsor ini menjadi pengingat keras tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan kelestarian lingkungan.
Eksploitasi alam yang berlebihan tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan akan berujung pada tragedi kemanusiaan.
Perubahan fungsi lahan dari pertanian menjadi kawasan permukiman turut berkontribusi pada meningkatnya kerentanan bencana.
Pemerintah daerah perlu mengevaluasi izin-izin pembangunan yang berpotensi mengganggu kestabilan lereng dan ekosistem.
Masyarakat juga harus lebih bijak dalam memanfaatkan lahan dan sumber daya alam yang tersedia di sekitarnya.
Pendidikan lingkungan hidup perlu ditingkatkan untuk menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya pelestarian alam.
Sistem peringatan dini bencana harus diperkuat untuk meminimalkan korban jiwa saat terjadi musibah alam.
Rehabilitasi lahan kritis dan penghijauan kembali menjadi langkah penting untuk memulihkan keseimbangan ekosistem.
Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta diperlukan untuk menciptakan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Setiap kebijakan pembangunan harus mempertimbangkan aspek mitigasi bencana dan adaptasi terhadap perubahan lingkungan.
Dengan belajar dari musibah ini, diharapkan terjadi perubahan paradigma dalam memperlakukan alam dan lingkungan hidup.
Kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam perlu dihidupkan kembali sebagai bagian dari strategi konservasi.
Pembangunan berkelanjutan yang mengutamakan kelestarian lingkungan harus menjadi prioritas dalam setiap perencanaan.
Masyarakat yang tangguh bencana dapat dibentuk melalui pendidikan, pelatihan, dan pembekalan pengetahuan tentang mitigasi.
Dukungan psikologis dan sosial perlu diberikan kepada korban dan keluarga yang terdampak bencana longsor ini.
Rehabilitasi infrastruktur dan pemulihan ekonomi masyarakat terdampak harus dilakukan secara komprehensif.
Dengan semangat gotong royong, proses pemulihan pasca bencana dapat berjalan lebih efektif dan efisien.
Pelajaran dari musibah ini harus menjadi momentum untuk membangun sistem pengelolaan lingkungan yang lebih baik.
Semua pihak harus bertanggung jawab dalam menjaga kelestarian alam untuk generasi sekarang dan mendatang.
Dengan komitmen bersama, Jawa Barat dapat menjadi contoh dalam pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan ramah bencana.
Masyarakat yang sadar lingkungan akan menjadi modal penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem secara berkelanjutan.
Pemerintah provinsi berkomitmen untuk terus memperbaiki sistem pengelolaan lingkungan dan penanggulangan bencana.
Dengan sinergi semua pihak, risiko bencana alam dapat diminimalkan dan keselamatan masyarakat dapat lebih terjamin.
Masa depan yang lebih baik dapat diwujudkan melalui pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana dan bertanggung jawab.
Semua elemen masyarakat diajak untuk bersama-sama menjaga kelestarian alam sebagai warisan bagi generasi penerus.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

