Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Save Raja Ampat Menggema Yudha Keling Soroti Ekonomi yang Belum Pulih

 Tagar #SaveRajaAmpat Menggema di Ranah Maya, Sejumlah Selebriti Ikut  Berseru | TINTAHIJAU.com

Repelita Jakarta - Sorotan masyarakat tertuju pada aktivitas pertambangan nikel di Raja Ampat, Papua yang mengancam kelestarian alam di wilayah tersebut.

Beberapa tokoh publik menyatakan kekecewaan mereka dengan seruan 'Save Raja Ampat'.

Cinta Laura menyatakan bahwa manfaat energi bersih dari nikel hanya dinikmati oleh kelompok elite kecil saja.

"Capek denger, 'Ini demi kemajuan bangsa', tapi yang maju cuma segelintir elite. Yang mundur, rakyat kecil yang kehilangan tanah, air dan masa depan," tulisnya dalam unggahan di Instagram, Minggu, 8 Juni 2025.

Namun, persoalan yang dialami masyarakat tidak hanya soal kerusakan lingkungan akibat pertambangan.

Komika Yudha Keling mengingatkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia belum membaik.

Dari perbincangannya dengan beberapa pengusaha, Yudha mendapatkan gambaran bahwa banyak usaha mengalami kesulitan.

"Hasil ngobrol sama beberapa temen yang punya usaha, hampir semuanya bilang hal yang sama, 'Kita semua lagi ada di dalem kapal yang mau tenggelam'," tulisnya di X, Senin, 9 Juni 2025.

Keluhan datang dari berbagai pelaku usaha kecil, seperti pedagang sepatu yang sulit bersaing dengan toko resmi yang sering memberikan diskon besar.

"Jualan kecil-kecilan sepatu sneakers. 2016 sampai 2020 adalah era kejayaan, untung Rp100 sampai Rp200 ribu per item bisa lah, meskipun kondisi seken. 2024 sampai 2025 udah mulai susah. Gerai resmi sering diskon, kami ambil barang diskonan dijual untuk perputaran juga lama. Alhasil lelang sedapatnya jual rugi," kata salah satu pedagang.

Pemandu acara juga mengeluhkan dampak pengurangan anggaran yang membuat job event semakin sulit didapat.

"Job event MC pun demikian. Acara pemerintahan nggak boleh, brand dan swasta biaya promosinya dikurangin, dialihkan ke produksi dan lain-lain," ujarnya.

Di media sosial, ada pengguna yang menyindir pemerintah sebagai "nahkoda" yang justru memperburuk kondisi rakyat.

Melanie Subono turut mengkritisi kondisi pasar kerja yang sulit bagi generasi muda.

Dia menyampaikan bahwa banyak syarat kerja yang dianggap tidak masuk akal dan mempermainkan pelamar.

"Saya banyak mendampingi anak yang baru ingin bekerja. Emang the rules, syarat dan caranya itu mengada-ada," ujarnya.

Persyaratan seperti pengalaman dua tahun untuk fresh graduate membuat banyak pemuda kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Melanie menegaskan pemerintah harus segera mengambil langkah nyata mengatasi krisis lapangan kerja yang sudah dijanjikan saat kampanye.

Menurutnya, pekerjaan adalah kebutuhan dasar yang sama pentingnya dengan hak asasi manusia.

Masyarakat hanya ingin bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa harus berhutang di warung.

"Masyarakat kita ini nggak macem-macem. Mereka cuma keluar rumah dengan harapan, pas gue pulang bapak ibu gue bisa makan, anak gue bisa beli susu. Mereka hanya ingin mencari makan, nggak ngutang di warung," ujarnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved