Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Ribuan Massa Geruduk Kedubes AS, Tuntut Indonesia Hengkang dari Board of Peace

 ANAZ dan Kospy Kutuk Agresi Amerika-Zionis ke Iran

Repelita Jakarta - Massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Zionisme (ANAZ) dan Komite Solidaritas Palestina dan Yaman (KOSPY) menggeruduk Kedutaan Besar Amerika Serikat (Kedubes AS) yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Selatan pada Senin, 9 Maret 2026.

Aksi demonstrasi besar-besaran ini merupakan respons langsung atas eskalasi kejahatan perang global yang dinilai dilakukan oleh aliansi Amerika-Zionis di kawasan Timur Tengah.

Pemicu utama gelombang protes ini adalah gugurnya Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel beberapa waktu sebelumnya.

Selain itu, massa aksi juga menyoroti langkah kontroversial pemerintah Indonesia yang baru-baru ini bergabung dengan Board of Peace (BoP), sebuah lembaga yang mereka nilai sebagai kepanjangan tangan kepentingan asing.

Humas KOSPY, Zaid Ali, menjelaskan bahwa pemilihan lokasi di depan Kedubes AS bukanlah tanpa alasan yang mendasar dan strategis.

"Lokasi di depan Kedubes AS dipilih sebagai simbol protes langsung terhadap pusat kendali hegemoni yang bertanggung jawab atas instabilitas di Timur Tengah dan infiltrasi politik di Indonesia," kata Zaid Ali di tengah orasinya.

Dalam aksi yang berlangsung tertib namun penuh semangat tersebut, ANAZ dan KOSPY secara resmi menyampaikan tujuh poin pernyataan sikap yang dibacakan di hadapan aparat kepolisian dan perwakilan kedutaan.

Poin pertama, mereka memberikan penghormatan setinggi-tingginya atas gugurnya Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran dengan menyebutnya sebagai syahadah.

Syahadah beliau bukanlah sebuah kekalahan, melainkan sebuah proklamasi kemenangan moral di hadapan sejarah menurut keyakinan para pengunjuk rasa.

Darah yang tumpah adalah tinta yang menuliskan babak baru perlawanan terhadap penindasan global, demikian bunyi pernyataan sikap yang dibacakan.

Poin kedua menegaskan bahwa agresi brutal yang dilancarkan oleh Amerika-Zionis bukan sekadar pelanggaran kedaulatan wilayah, melainkan sebuah extrajudicial killing yang biadab.

"Ini adalah bentuk terorisme negara (State Terrorism) yang paling telanjang, sebuah kejahatan kemanusiaan yang melampaui batas diplomasi dan tidak akan pernah mendapatkan pemaafan dari nurani dunia," ujar Zaid Ali dengan lantang.

Poin ketiga menyerukan agar dunia tidak boleh bungkam melihat arogansi kekuasaan yang merasa berhak mencabut nyawa pemimpin sebuah bangsa yang berdaulat.

"Kami mengutuk standar ganda Barat yang berbicara tentang hak asasi manusia di satu sisi, namun menebar maut dan api di sisi lain," tuturnya dengan nada tinggi.

Serangan ini adalah bukti nyata bahwa mereka adalah musuh nyata bagi perdamaian dunia yang sesungguhnya, tegasnya menambahkan.

Poin keempat menyatakan solidaritas tanpa batas untuk Lebanon dan Yaman, dengan komitmen berdiri bahu-membahu bersama rakyat Lebanon yang teguh dan rakyat Yaman yang tak tergoyahkan.

Serangan brutal terhadap Beirut hingga Sana'a bukanlah sekadar operasi militer, melainkan upaya sistematis untuk melumatkan setiap bangsa yang berani berkata tidak pada perbudakan modern.

Poin kelima mengecam keras taktik pengecut dan manipulatif yang menggunakan bendera Iran dalam operasi-operasi serangan palsu atau false flag.

"Ini adalah upaya kotor untuk menciptakan justifikasi agresi global dan mengadu domba sesama bangsa Muslim," kata Zaid Ali di hadapan para pendukungnya.

Poin keenam secara tegas menolak segala bentuk normalisasi dan infiltrasi asing, dengan memandang bahwa Board of Peace (BoP) keberadaannya menjadi pintu masuk bagi kepentingan Amerika-Zionis di Indonesia.

Poin ketujuh mendesak dan menuntut pemerintah Indonesia serta lembaga legislatif baik DPRD maupun DPR RI untuk segera mengevaluasi dan memutuskan segala bentuk keterikatan dengan Board of Peace.

"Indonesia tidak boleh menjadi alat kepentingan asing yang mengatasnamakan perdamaian, namun menghancurkan nilai-nilai lokal dan konstitusional," ujarnya menutup rangkaian tuntutan.

Sepanjang aksi berlangsung, aparat kepolisian terlihat berjaga di sekitar lokasi untuk mengamankan jalannya unjuk rasa agar tidak terjadi bentrokan dengan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Para demonstran membawa berbagai atribut seperti spanduk penolakan terhadap agresi Israel dan poster bergambar para pemimpin perlawanan yang gugur di medan perang.

Lalu lintas di sekitar Jalan Medan Merdeka Selatan sempat mengalami kepadatan akibat konsentrasi massa yang memadati area depan pagar Kedubes AS.

Hingga aksi berakhir pada sore hari, tidak ada insiden berarti yang mengganggu jalannya unjuk rasa, dan massa membubarkan diri secara tertib setelah orasi penutup.

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved