
Repelita Jakarta - Pemerintah Republik Islam Iran memberikan penghormatan khusus kepada sejumlah militernya yang berada di garis depan melawan Amerika Serikat dan Israel melalui pernyataan resmi Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Ismail Baqaei.
Dikutip dari kantor berita TasnimNews, Baqaei memberikan penghormatan kepada para pembela garis depan negara itu dalam sebuah pesan yang diunggah di media sosial pada kesempatan Malam Qadr, salah satu malam paling suci dalam kalender Islam.
"Kami menyampaikan salam kami kepada para narator modern dari epik Arash, tokoh-tokoh yang membanggakan yang merupakan pahlawan tanpa pamrih hari ini dan legenda masa depan," tulis Baqaei di akun resminya di X.
"Mereka yang, ditempatkan di peluncur di garis depan pertahanan, memberikan kehormatan baru pada kisah kepahlawanan," sambung dia dalam unggahan yang penuh dengan nuansa epik kepahlawanan.
Menurut Baqaei, mereka adalah para mujahid yang tak kenal rasa takut dalam menghadapi musuh yang jauh lebih besar secara militer.
"Mereka adalah orang-orang yang telah menantang kematian dan dengan sadar merangkul kemartiran," tuturnya menggambarkan semangat juang para prajurit.
Juru bicara itu melanjutkan bahwa bangsa Iran memberi hormat kepada para pejuang yang di tengah debu dan asap medan perang menjadi pahlawan legendaris di zaman modern.
"Bangsa Iran memberi hormat kepada Anda, yang, di tengah debu dan asap, adalah Siyavashan (bentuk jamak dari Siyavash, pahlawan legendaris dalam sastra Iran) zaman kita, membuktikan kemurnian dan integritas Anda dengan melewati api."
Baqaei menggambarkan para pembela sebagai para juara medan kehormatan Husseini, pewaris mazhab Imam Ali, dan pengagum sejati Malam Qadr yang penuh berkah.
"Iran bangga akan keberadaan kalian, dan sejarah akan mengukir nama kalian di puncak kejayaannya," tegasnya memberikan apresiasi setinggi-tingginya.
Dalam penghormatan puitisnya Baqaei membangkitkan semangat pengorbanan dan keberanian dengan menulis bait-bait puisi yang menggugah.
"Para pejuang menyanyikan lagu-lagu perang, Mereka mengusir musuh dari rumah mereka sendiri, Mereka mengorbankan kepala mereka tanpa batas, Mereka mengorbankan nyawa mereka tanpa ukuran."
Sementara itu sumber terpercaya Iran mengeluarkan peringatan keras kepada AS tentang setiap tindakan yang salah terhadap infrastruktur energi Iran yang akan berakibat fatal.
"Jika Amerika melakukan kesalahan, semua fasilitas minyak dan infrastruktur energi di kawasan ini di mana Amerika memiliki kepentingan akan menjadi target sah kami," tutur sumber tersebut.
Ultimatum ini merupakan respons atas ancaman yang dibuat oleh AS terhadap infrastruktur energi dan listrik di Teheran dan sekitarnya yang dianggap mengancam keamanan nasional.
"Jika terjadi kesalahan, semua fasilitas minyak dan infrastruktur energi di kawasan ini di mana Amerika memiliki kepentingan akan menjadi target sah kami dan pasti akan dihancurkan," tegas sumber tersebut.
Menurut beberapa informasi yang dirilis secara publik, Amerika memiliki kepentingan dan peran dalam sejumlah proyek energi strategis di kawasan Teluk.
Lima fasilitas vital yang menjadi incaran Iran jika terjadi eskalasi lebih lanjut antara lain Al Hosn Gas Field and Facility di Uni Emirat Arab, Ras Laffan Refinery di Qatar, Q-Chem Petrochemical dan Chevron Mesaieed Holding di Qatar, SAMREF Refinery di Yanbu Arab Saudi, serta Sadara Chemical Complex di Al Jubail Arab Saudi.
Daftar target ini menunjukkan kesiapan Iran untuk memperluas medan perang ke sektor energi yang menjadi tulang punggung ekonomi negara-negara Teluk yang bersekutu dengan Amerika Serikat.
Ancaman ini menambah eskalasi ketegangan di kawasan yang sudah memanas sejak serangan balasan Iran dilancarkan terhadap Amerika Serikat dan Israel sebagai respons atas serangan gabungan kedua negara pada 28 Februari 2026.
Para analis memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk akan memicu krisis pasokan minyak global yang jauh lebih parah dari yang pernah terjadi sebelumnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

