Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Pengamat: AS Alami Kekalahan Berat Lawan Iran, Skor Diplomasi dan Ekonomi Berpihak Teheran

 

Repelita Jakarta - Beberapa pengamat strategi dan intelijen menilai bahwa Amerika Serikat mengalami kerugian signifikan dalam konflik melawan Iran.

Pakar strategi dari PPAU yang merupakan alumni US Air War College, Marsma TNI (Purn) R Agung Sasongkojati menyatakan perlunya menilai situasi secara adil meskipun ada kecenderungan mendukung satu pihak.

Menurutnya pada Jumat, 5 Maret 2026, keberhasilan diplomatik ditentukan oleh dukungan yang diperoleh serta pihak yang gagal mencapai tujuannya.

Indikator utama terlihat dari dampak ekonomi yang meluas akibat perang berkepanjangan ini.

Ekonomi di Israel mengalami gangguan berat sehingga aktivitas bisnis hampir lumpuh sepenuhnya.

Bisnis Amerika di negara-negara Arab juga terancam bubar karena mitra lokal mulai menjauh dan meminta kepergian perusahaan-perusahaan tersebut.

Sementara di Iran memang terjadi kehancuran besar namun negara tersebut telah terbiasa menahan penderitaan berat dalam jangka panjang.

Teheran menunjukkan kesiapan menghadapi segala bentuk tekanan tanpa mundur dari posisinya.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menyebabkan gangguan serius pada lalu lintas kapal tanker minyak global.

Ketersediaan energi di berbagai negara menjadi terancam sehingga berpotensi memicu keresahan sosial dan ekonomi.

Negara-negara Teluk yang mendukung serangan terhadap Iran akan kesulitan menghadapi reaksi rakyatnya sendiri jika konflik berlanjut.

Dengan ukuran skor saat ini Iran berada di posisi lebih unggul meskipun mengalami kerusakan fisik yang parah.

Balasan dari Korps Garda Revolusi Islam membuat biaya yang ditanggung Amerika jauh lebih tinggi dibandingkan yang dialami Teheran.

Pengamat intelijen dari Universitas Indonesia Ridwan Habib menilai kemenangan secara intelijen berada di pihak Iran.

Opini publik dunia mayoritas condong mendukung pihak yang tampak lebih lemah yaitu Iran dalam narasi konflik ini.

Operasi perang psikologis yang dilakukan oleh Mossad dan CIA dinilai gagal mencapai sasaran utamanya.

Pernyataan Menteri Pertahanan Amerika yang menyebut perang melawan rezim berbasis agama Islam justru memicu sentimen keagamaan yang merugikan pihaknya.

Ucapan tersebut membuka celah bagi operasi intelijen senyap Iran untuk membangun wacana persatuan umat atau wihdatul ummah.

Konsep persatuan umat ini menyatukan kelompok Sunni dan Syiah karena adanya musuh bersama yaitu Amerika Serikat dan Israel.

Dinamika di negara-negara Teluk seperti Bahrain Oman dan Uni Emirat Arab mulai menunjukkan gejolak akibat narasi tersebut.

Di Arab Saudi pun terjadi pergolakan internal sehingga simpati terhadap narasi Amerika dan Israel semakin menurun.

Jika solidaritas umat benar-benar terwujud maka negara-negara Teluk bisa memilih sikap netral atau menolak membantu Israel dan Amerika.

Mereka berpotensi melarang penggunaan pangkalan udara serta pelabuhan untuk operasi militer pihak lawan.

Situasi ini akan menyulitkan pergerakan kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel di kawasan.

Serangan drone Shahed Iran terhadap kapal-kapal di pelabuhan terutama di Bahrain semakin meningkatkan kekhawatiran atas keamanan perairan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved