Repelita Jakarta - Ketegangan geopolitik dunia semakin meningkat setelah perang antara Iran melawan pasukan gabungan Amerika Serikat serta Israel terus mengalami eskalasi sehingga memicu respons tegas dari kekuatan besar seperti Rusia.
Menteri Luar Negeri Federasi Rusia Sergey Lavrov menyatakan bahwa pihaknya akan memastikan invasi Amerika Serikat serta Zionis Israel terhadap Iran segera dihentikan.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika perang telah memasuki hari keenam sejak serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada tanggal dua puluh delapan Februari dua ribu dua puluh enam.
Rusia dan negara-negara pencinta damai lainnya akan melakukan segala upaya untuk menciptakan suasana di mana operasi AS dan Israel terhadap Iran menjadi mustahil.
Ini merupakan eskalasi diplomatik paling serius dari Rusia terhadap Barat sejak invasi ke Ukraina tiga tahun lalu.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengeluarkan ancaman mengejutkan dengan menyatakan akan menghentikan pasokan gas ke negara-negara Eropa yang mendukung Amerika Serikat dalam menyerang Iran.
Putin menjelaskan bahwa keputusan tersebut terkait dengan rencana Eropa yang ingin menghentikan impor gas Rusia sehingga Rusia memilih beralih ke pasar baru yang lebih menguntungkan.
Sekarang pasar lain sedang terbuka. Mungkin akan lebih menguntungkan bagi kami untuk berhenti memasok ke pasar Eropa. Kami bisa beralih ke pasar yang sedang terbuka dan memantapkan diri di sana.
Ancaman tersebut langsung menggetarkan pasar energi global karena banyak negara Uni Eropa masih bergantung pada pasokan gas Rusia untuk kebutuhan industri serta rumah tangga.
Meskipun Eropa telah berupaya mengurangi ketergantungan sejak perang Ukraina banyak negara belum sepenuhnya lepas dari energi Rusia sehingga pernyataan Putin berpotensi menimbulkan dampak ekonomi besar.
Putin juga menyoroti situasi di Timur Tengah sebagai pemicu kenaikan harga energi akibat penutupan Selat Hormuz sehingga muncul klien baru yang bersedia membeli gas dengan harga lebih tinggi.
Karena situasi di Timur Tengah penutupan Selat Hormuz muncullah klien yang ingin membeli gas yang sama dengan harga lebih tinggi. Ini fenomena alam tidak ada politik di sini murni bisnis.
Negara-negara Uni Eropa diperkirakan akan mengubah sikap mereka setelah ancaman ini mengingat harga gas telah melonjak ke level tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina tahun dua ribu dua puluh dua.
Sikap negara-negara Eropa pun terpecah di mana Spanyol menolak penggunaan pangkalan militernya untuk operasi penyerangan ke Iran sementara Inggris menyetujui penggunaan dua pangkalannya untuk serangan defensif terhadap situs rudal Iran.
Jerman yang secara historis enggan terlibat konflik militer menyatakan tidak akan menambah kehadiran militernya di Timur Tengah karena masih sangat trauma terhadap masa lalu negara tersebut.
Konflik Iran kini bukan lagi perang regional melainkan bagian dari persaingan kekuatan besar dunia sehingga dunia menanti perkembangan selanjutnya dengan sangat hati-hati.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

