Repelita Bandung - M Rizal Fadillah pemerhati politik dan kebangsaan menilai Gemoy Diplomacy yang dijalankan Presiden Prabowo Subianto gagal total karena hanya berupa diplomasi goyang-goyang di panggung publik tanpa landasan konstitusi maupun ideologi yang jelas.
Gemoy Diplomacy mencerminkan ketidakajegan politik luar negeri yang mengakibatkan ancaman dari berbagai arah akibat motif awal yang lebih mengutamakan puja-puji ketimbang prinsip negara.
Pada Januari 2025 Indonesia bergabung dengan BRICS yang disambut hangat oleh China karena dianggap melanjutkan kebijakan ekonomi pro-China era Jokowi.
Di dalam negeri muncul kritik atas politik blocking tersebut meskipun suara kritis itu lambat laun mereda.
Prabowo tercatat dua kali bertemu Xi Jinping di Beijing sehingga oligarki bisnis khususnya yang pro-China tetap bertahan dengan Luhut sebagai komandan utama status quo.
Rakyat sesungguhnya tidak menyukai penguatan BRICS atas Indonesia karena BRICS dipandang sebagai kerjasama politik berbaju ekonomi yang didominasi China.
Kemudian Board of Peace membuat Prabowo berbelok haluan sehingga atas nama perdamaian Gaza Indonesia bergoyang gemoy ke arah Amerika-Israel.
Penandatanganan Agreement of Resiprocal Trade dengan Amerika pada Februari 2026 menjadi formal penyerahan kedaulatan ekonomi dan politik Indonesia kepada blok Amerika.
Indonesia memainkan politik zig-zag yang fatal karena Israel sebagai tandem Amerika merupakan musuh rakyat Indonesia musuh kemanusiaan serta musuh peradaban.
Prabowo terlihat bodoh saat masuk Board of Peace lebih bodoh saat menandatangani ART dengan Amerika dan sangat bodoh ketika mengajukan diri sebagai mediator konflik Israel-Iran.
Diplomasi yang tidak berbasis persetujuan rakyat dan menyimpang dari konstitusi berakibat hukum serta politik sehingga BRICS China-Rusia kecewa atas perilaku Prabowo.
Kacau karena di BRICS Indonesia dan Iran sama-sama anggota sementara di sisi lain Indonesia menjadi sekutu AS-Israel di Board of Peace.
Di dalam negeri berbagai kecaman atas langkah zig-zag semau gue Prabowo cukup keras sehingga mengancam kedudukannya sebagai presiden.
Suara makzulkan Prabowo-Gibran terus menggelinding akibat politik luar negeri Board of Peace serta dalam negeri MBG yang merawankan posisi Prabowo.
Prabowo kepepet mundur kena maju kena akibat plin-plan dalam bersikap sehingga mitos Prabowo hebat berdiplomasi luar negeri terbukti tidak berdasar.
Faktanya belepotan tanpa arah jelas karena tim penasehat luar negerinya memang butut sehingga ditepuk-tepuk Trump bukan pujian melainkan ejekan atau sinyal perendahan.
Prabowo dianggap boneka yang lucu gemoy geboy dan letoy sehingga Gemoy Diplomacy gagal total.
Indonesia menjadi bahan tertawaan karena fakta miskin merasa kaya bodoh merasa pintar kacung merasa majikan dan terbelenggu merasa merdeka.
Saatnya berubah kita harus buat kaya pintar dan merdeka tanpa Prabowo karena setelah Jokowi kini Prabowo nampaknya justru menjadi sumber masalah bangsa negara dan rakyat Indonesia.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

