
Repelita Teheran - Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa senjata nuklir merupakan hak kedaulatan Iran yang tidak dapat dinegosiasi oleh siapa pun di dunia.
Pernyataan tegas ini sontak memicu perhatian internasional dan mengundang reaksi dari berbagai negara.
Lebih lanjut, Iran disebut akan memperluas daftar target strategis serangannya di masa mendatang.
Beberapa kantor perusahaan teknologi global seperti Google, Amazon, Microsoft, Nvidia, IBM, Oracle, dan Palantir Technologies disebut sebagai target yang dianggap sah untuk diserang.
Lokasi yang disebut meliputi wilayah Israel, Dubai, dan Abu Dhabi, yang dinilai terkait dengan dukungan teknologi dan intelijen terhadap lawan Iran.
Pernyataan ini semakin menambah ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan memicu kekhawatiran tentang potensi eskalasi konflik yang lebih luas.
Diberitakan sebelumnya, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru mengambil keputusan yang akan mengubah peta geopolitik kawasan secara fundamental.
Ia memutuskan untuk membatalkan semua perjanjian internasional terkait penghentian program nuklir, dengan menganggap kepemilikan senjata nuklir sebagai hak kedaulatan.
"Mereka membunuh orang yang sedang bernegosiasi. Jadi orang yang membuat bom telah tiba," kata Sayyid Mojtaba, seperti dikutip vanguardngr.com.
Pernyataan ini menandai perubahan drastis dari kebijakan pendahulunya yang masih bersedia bernegosiasi dengan Amerika.
Sebagaimana diketahui, Mojtaba Khamenei diangkat sebagai pemimpin tertinggi pada 8 Maret, menggantikan ayahnya yang syahid dalam serangan 28 Februari 2026.
Pengangkatannya menandakan kelanjutan kebijakan garis keras Teheran yang tidak kenal kompromi.
Sementara Teheran mengklaim telah menimbulkan kerusakan besar pada pasukan Amerika dan juga Israel, Pentagon merilis angka yang jauh berbeda.
Juru bicara Garda Revolusi Iran, Ali Mohammad Naeini, menyatakan pasukan Amerika menderita lebih dari 650 korban tewas dan terluka dalam dua hari pertama operasi True Promise 4.
Namun di sisi lain, data dari Komando Pusat Amerika menunjukkan penurunan drastis kemampuan rudal Iran.
Menurut analisis The Jerusalem Post, Iran telah kehilangan lebih dari 60 persen peluncur rudalnya dan 43 kapal angkatan lautnya hancur atau rusak.
Wakil Panglima Tertinggi IRGC, Brigadir Jenderal Ali Fadavi, menyebut bahwa tidak ada kapal angkatan laut di kawasan Selat Hormuz yang berani melintas.
"Tidak ada satu pun kapal angkatan laut Amerika dalam radius 700 kilometer dari Iran. Musuh harus mempertimbangkan kemungkinan memasuki perang gesekan yang berkepanjangan yang dapat menyebabkan keruntuhan total ekonomi Amerika dan global," katanya.
Ketua Parlemen Republik Islam, Mohammad Baqer Qalibaf, melontarkan ejekan pedas kepada Amerika Serikat.
Ejekan ini terkait Menteri Energi Amerika, Chris Wright, yang mengunggah dan kemudian menghapus klaim bahwa Angkatan Laut Amerika telah mengawal sebuah kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz.
Sebagaimana dilaporkan Daily Ittehad, Qalibaf mengejek Amerika pada Selasa, 10 Maret 2026, atas insiden memalukan tersebut.
Gedung Putih dengan cepat membantah pernyataan yang dibuat oleh menterinya sendiri, menyebutnya tidak akurat.
Sementara para pejabat Teheran mengecam Washington karena menyebarkan informasi yang salah untuk memanipulasi pasar minyak global.
Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran, Sardar Ali Mohammad Naeini, dengan tegas membantah klaim tersebut.
"Tidak ada kapal AS yang berani mendekati Laut Oman, Teluk Persia, atau Selat Hormuz selama perang," kata Naeini dalam pernyataan yang disiarkan oleh lembaga penyiaran publik IRIB.
Naeini menegaskan bahwa Iran akan menghentikan setiap pergerakan armada Amerika dan sekutunya selama operasi militer.
"Setiap pergerakan armada AS dan sekutunya akan dihentikan oleh rudal dan drone kami," tegasnya.
Komandan Angkatan Laut IRGC, Alireza Tangsiri, juga angkat bicara melalui akun resminya di X.
Ia memperingatkan akan menghentikan pergerakan armada Amerika Serikat dan sekutunya yang melintasi Selat Hormuz.
Peringatan itu termasuk dalam misi pengawalan, menggunakan rudal dan kapal selam yang siap menghadang.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menyampaikan peringatan filosofis melalui akun X pribadinya.
"Selat Hormuz akan menjadi selat perdamaian dan kemakmuran bagi semua pihak, atau menjadi selat kekalahan dan penderitaan bagi para penghasut perang," ujarnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

