
Repelita Teheran - Pekan ini Iran menghadapi salah satu momen paling menentukan dalam sejarahnya setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Kekosongan kekuasaan di Tehran memicu pertanyaan besar tentang siapa yang akan menggantikannya serta apakah proses suksesi akan berjalan sesuai kehendak internal atau di bawah tekanan eksternal.
Jawaban datang pada 8 Maret 2026 ketika Majelis Pakar yang beranggotakan delapan puluh delapan ulama secara resmi menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru tanpa kompromi atau permintaan restu dari pihak luar.
Pengangkatan Mojtaba putra mendiang Khamenei menjadi sinyal kuat bahwa Iran memilih melanjutkan garis perlawanan tanpa tunduk pada intervensi asing.
Sebelum pengumuman resmi Donald Trump telah bergerak dengan menyatakan keinginannya terlibat dalam proses pemilihan pemimpin Iran melalui wawancara di ABC News dan Axios.
Trump membandingkan situasi Iran dengan kasus Venezuela di mana Amerika Serikat mendorong figur yang lebih kooperatif ke tampuk kekuasaan setelah pemimpin sebelumnya digulingkan.
Bagi Trump tujuan utamanya bukan demokrasi melainkan pemimpin Teheran yang bersedia berdamai dengan Amerika Serikat serta Israel dan menghentikan dukungan terhadap kelompok bersenjata di kawasan.
Sebelum Mojtaba resmi terpilih Trump sudah menyuarakan penolakan terhadapnya namun setelah keputusan Majelis Pakar diumumkan nada pernyataannya berubah drastis menjadi We'll see what happens.
Pernyataan itu menunjukkan Trump menyadari batas intervensi verbal setelah keputusan internal Iran diambil secara resmi.
Iran membaca situasi dengan logika sendiri di mana Ayatollah Mohsen Heidari Alekasir anggota senior Majelis Pakar menyatakan calon dipilih berdasarkan pesan mendiang Khamenei bahwa pemimpin harus dibenci oleh musuh.
Ia bahkan menyebut pernyataan Trump yang menolak Mojtaba sebagai pembenaran bahwa bahkan Setan Besar pun sudah menyebut namanya.
Naiknya Mojtaba bukan sekadar pergantian pribadi melainkan deklarasi bahwa Iran tidak akan mengubah arah meski dihadapkan tekanan militer berat dari luar.
Para analis memperingatkan bahwa Mojtaba kemungkinan akan lebih tegas dari ayahnya dengan hubungan erat terhadap faksi paling konservatif di dalam negeri.
Israel telah mengisyaratkan bahwa Mojtaba masuk dalam daftar target militer mereka sehingga kawasan Timur Tengah kini memasuki fase baru yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sebuah negara besar yang baru kehilangan pemimpin akibat serangan asing kini dipimpin putranya sendiri dan tampaknya tidak berniat bernegosiasi.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

