
Repelita Teheran - Iran menyatakan tidak gentar menghadapi ancaman invasi darat Amerika Serikat dan bahkan mengaku siap menyambut jika Washington benar-benar mengirim pasukan ke wilayah mereka .
Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menanggapi pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya sesumbar siap mengerahkan pasukan darat untuk menyerbu Teheran .
Alih-alih gentar Araghchi justru mengatakan bahwa Republik Islam telah siap menghadapi skenario tersebut dengan segala konsekuensinya .
"Kami sedang menunggu mereka. Ya, karena kami yakin bahwa kami dapat menghadapi mereka dan itu akan menjadi bencana besar bagi mereka," katanya .
Pernyataan tersebut mempertegas sikap keras Teheran di tengah meningkatnya ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat yang dalam beberapa pekan terakhir semakin intens .
Dalam wawancara dengan NBC News pada Jumat 6 Maret 2026 Araghchi juga menegaskan bahwa Iran tidak pernah meminta gencatan senjata ataupun dukungan militer tambahan dari pihak manapun .
"Kami tidak meminta dukungan udara jarak dekat dan kami tidak melihat alasan mengapa kami harus bernegosiasi dengan AS ketika kami telah bernegosiasi dengan mereka dua kali dan setiap kali mereka menyerang kami di tengah negosiasi," ujarnya .
"Jadi tidak ada permintaan CAS dari kami dan tidak ada permintaan untuk negosiasi dengan AS dari kami," sambungnya menegaskan sikap Iran .
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Teheran memilih mempertahankan posisi konfrontatif dibanding membuka kembali jalur diplomasi dengan Washington .
Di tengah retorika keras dari kedua pihak sejumlah pengamat di Amerika Serikat justru memperingatkan bahwa konflik dengan Iran berpotensi menjadi perang yang sulit dimenangkan .
Beberapa analis bahkan menyebut Washington masuk ke dalam konflik tersebut tanpa strategi jangka panjang yang matang dan tanpa persiapan yang memadai .
Direktur Proyek dan Penasihat Senior Presiden di International Crisis Group Ali Vaez menilai pemerintah Amerika Serikat tidak memiliki perencanaan strategis yang memadai saat memutuskan untuk terlibat dalam konfrontasi militer dengan Iran .
Menurutnya Washington gagal mengantisipasi berbagai bentuk perang asimetris yang menjadi kekuatan utama Teheran dalam melawan superioritas militer AS .
Serangan drone terhadap negara-negara Teluk gangguan besar pada jalur pelayaran internasional serta kebutuhan mendadak untuk mengevakuasi warga sipil di kawasan konflik menjadi bukti bahwa skenario yang dihadapi jauh lebih kompleks dari perkiraan awal .
Kesalahan kalkulasi ini dinilai memperlihatkan bahwa Washington terlalu optimistis terhadap kemampuan militernya dan meremehkan kesiapan Iran dalam berperang .
Sebaliknya Teheran dianggap telah menyiapkan strategi jangka panjang untuk menghadapi konflik yang berlarut-larut dengan memanfaatkan kelemahan musuh .
Salah satu langkah yang dinilai paling berpengaruh adalah ancaman penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur pelayaran energi paling penting di dunia .
Selat ini merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia dengan sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur tersebut setiap harinya .
Dengan mengancam jalur vital itu Iran dapat memberikan tekanan ekonomi besar terhadap negara-negara Barat dan sekutu mereka yang bergantung pada pasokan minyak dari Teluk .
Strategi tersebut dipandang sebagai cara Teheran untuk menyeimbangkan ketimpangan kekuatan militer dengan Amerika Serikat melalui tekanan terhadap ekonomi global .
Selain tekanan ekonomi Iran juga mengandalkan strategi militer yang dikenal sebagai doktrin mosaik atau mosaic defense yang menjadi kunci ketahanan mereka .
Doktrin ini merupakan sistem komando militer yang terdesentralisasi sehingga struktur perang tidak bergantung pada satu pusat kepemimpinan saja .
Pendekatan tersebut membuat sistem militer Iran tetap mampu beroperasi bahkan ketika tokoh-tokoh penting dalam struktur komando mereka tidak lagi berada di garis depan .
Para analis menilai sistem ini membuat Iran jauh lebih tahan terhadap serangan yang bertujuan melumpuhkan kepemimpinan seperti yang dilakukan AS di Irak dan Afghanistan .
Alih-alih runtuh struktur komando militer Iran justru dapat berpindah dan terus beroperasi melalui jaringan komandan regional yang tersebar di seluruh negeri .
Dalam skenario tersebut koordinasi perang dapat tetap berjalan melalui tokoh-tokoh lain seperti Mohammad Bagher Ghalibaf dan Ali Larijani yang memiliki pengaruh besar .
Pendekatan ini menciptakan tantangan besar bagi strategi militer Amerika Serikat yang selama ini sering mengandalkan serangan presisi terhadap pusat komando musuh .
Dengan struktur mosaik tersebut Iran mampu memperpanjang konflik dan meningkatkan biaya perang bagi lawannya secara signifikan .
Strategi itu juga dirancang untuk menciptakan tekanan ekonomi berkepanjangan yang dapat mengikis dukungan publik terhadap perang di dalam negeri Amerika Serikat .
Di tengah spekulasi mengenai kemungkinan pengerahan pasukan darat Amerika Serikat banyak ahli militer menilai skenario tersebut hampir mustahil dilakukan .
Wilayah Iran yang sangat luas dan didominasi pegunungan menjadikan operasi militer darat sangat sulit dan berpotensi berubah menjadi konflik panjang yang berdarah-darah .
Ali Vaez menegaskan bahwa kemenangan total atas Iran hampir tidak mungkin dicapai tanpa invasi darat skala besar yang membutuhkan setidaknya satu juta tentara .
Jumlah tersebut dinilai terlalu besar dan hampir tidak mungkin dikerahkan oleh Washington dalam kondisi politik domestik saat ini .
Selain faktor militer tekanan domestik juga menjadi pertimbangan besar bagi pemerintah Amerika Serikat dengan trauma publik terhadap perang Irak masih sangat kuat .
Senator dari Partai Demokrat Richard Blumenthal mengingatkan bahwa pengalaman pahit perang Irak menjadi pelajaran penting yang tidak boleh diulang di Iran .
Sementara itu Senator Chris Murphy menilai pemerintah belum memiliki rencana jangka panjang yang jelas tentang apa yang akan dilakukan setelah target militer tercapai .
Menurutnya meskipun para pejabat menyatakan ingin menghancurkan aset militer Iran mereka tidak mampu menjelaskan strategi jangka panjang setelah tujuan tersebut tercapai .
Ketidakjelasan itu semakin memperkuat kekhawatiran bahwa konflik ini dapat berkembang menjadi perang yang lebih besar dan sulit dikendalikan .
Di sisi lain tekanan agar Amerika Serikat segera keluar dari konflik justru datang dari dalam lingkaran kekuasaan Washington sendiri .
Beberapa tokoh politik dan penasihat pemerintahan Donald Trump mulai mendesak agar pemerintah mencari jalan keluar sebelum konflik berkembang menjadi krisis regional yang lebih besar .
David Sacks penasehat kecerdasan buatan dan kripto Gedung Putih secara terbuka menyarankan agar Washington segera menyatakan kemenangan dan menarik diri dari konflik .
Ia memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut dapat membawa konsekuensi yang sangat berbahaya bagi stabilitas kawasan Timur Tengah dan ekonomi global .
Menurut Sacks konflik yang terus berlanjut dapat memicu siklus balasan serangan terhadap infrastruktur minyak dan gas di negara-negara Teluk yang sangat vital .
Serangan terhadap fasilitas energi tersebut berpotensi mengguncang pasar energi global dan memicu gejolak ekonomi internasional yang sulit diprediksi .
Selain itu ia menilai pasar keuangan dunia kemungkinan akan merespons positif langkah deeskalasi konflik yang selama ini dinanti para investor .
Desakan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran di Washington bahwa konflik dengan Iran dapat berubah menjadi perang berkepanjangan yang mahal dan sulit dimenangkan .
Ambisi untuk menggulingkan rezim Iran kini dinilai menghadapi realitas yang jauh lebih kompleks dari perkiraan awal para perencana perang .
Strategi perang asimetris dan doktrin mosaik yang dijalankan Teheran telah menjadi tantangan serius bagi kekuatan militer Amerika Serikat yang superior .
Di tengah kondisi tersebut ancaman invasi darat yang sempat muncul dari lingkaran Gedung Putih kini semakin terlihat sebagai opsi yang sangat berisiko dan tidak populer .
Bagi banyak pengamat konflik ini menjadi pengingat bahwa dalam peperangan modern kekuatan senjata tidak selalu menjadi penentu utama kemenangan .
Geografi strategi ketahanan politik dan tekanan ekonomi global sering kali memainkan peran yang jauh lebih besar dalam menentukan arah sebuah perang .
Para analis menyimpulkan bahwa Iran telah berhasil menyajikan pil pahit bagi Amerika Serikat yang selama ini mengandalkan kekuatan militer superioritasnya .(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

