
Repelita Teheran - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melontarkan sindiran tajam kepada Presiden Amerika Donald Trump dengan menyebut bahwa AS sedang mengemis bantuan dari negara lain untuk mengamankan Selat Hormuz setelah Iran membatasi lalu lintas di jalur strategis tersebut.
“AS sekarang mengemis kepada negara lain, bahkan China, untuk membantu membuat Selat Hormuz aman,” ucap Araghchi dalam cuitannya di platform X pada Sabtu 14 Maret 2026.
Menurutnya hal itu membuktikan bahwa perlindungan keamanan AS di kawasan Teluk terbukti lemah dan tidak dapat diandalkan oleh negara-negara sahabat di kawasan.
Terlebih ketika Washington memohon kepada negara-negara lain termasuk China untuk membantu membuat Selat Hormuz aman ini menunjukkan kelemahan AS yang selama ini mengaku sebagai polisi dunia.
“Payung keamanan AS yang selama ini digembar-gemborkan terbukti penuh lubang dan justru mengundang masalah, bukan mencegahnya,” tulis Araghchi mengecam.
Selain itu ia juga menyerukan negara-negara di kawasan untuk menolak kehadiran militer asing di wilayah mereka dan mengusir pasukan agresor yang mengancam stabilitas.
“Kepada negara-negara tetangga yang bersaudara untuk mengusir agresor asing, terutama karena satu-satunya perhatian mereka adalah Israel,” tulisnya.
Sementara itu dilansir dari TasnimNews Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Laksamana Muda Alireza Tangsiri mengincar kapal-kapal Amerika yang melintas di kawasan Teluk dengan peringatan keras.
Ia juga mengingatkan para agresor tentang konsekuensi serangan militer AS baru-baru ini terhadap Pulau Khark di selatan Iran bagi pasar energi global.
“Anda pernah menguji Iran di Selat Hormuz. Sementara kontrol cerdas atas selat tersebut memberi Anda indeks harga minyak baru, serangan terhadap Khark akan membawa persamaan baru yang mengerikan mengenai laju dan distribusi energi di dunia," tegasnya.
Tangsiri menegaskan bahwa Angkatan Laut IRGC akan terus mengawasi pergerakan kapal-kapal Amerika di kawasan dan siap mengambil tindakan jika diperlukan.
Teheran juga menegaskan tidak menutup total Selat Hormuz namun membatasi akses bagi kapal tanker dan dagang dari negara-negara yang dianggap musuh terutama AS dan Israel.
Teheran mengklaim bahwa selat tersebut tetap terbuka bagi negara-negara yang tidak terlibat dalam konflik dengan mereka dan ingin berdagang secara damai.
Diberitakan sebelumnya pejabat militer Teheran mengatakan mereka akan terus menyerang aset AS di kawasan tersebut serta posisi Israel di wilayah pendudukan sampai musuh belajar dari kesalahannya.
"Kami telah memutuskan bahwa kami tidak akan mundur atau membiarkan Amerika Serikat pergi tanpa konsekuensi. Kami tidak akan menghentikan perang ini," kata Wakil Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Brigadir Jenderal Kiomars Heidari.
Menurutnya Iran akan terus melanjutkan perang hingga lautan dipenuhi peti mati perwira, bintara, dan tentara AS yang dikirim kembali ke Amerika Serikat.
“Bagi kami, tidak masalah berapa lama perang ini berlangsung. Kami sudah pernah mengalami perang delapan tahun sebelumnya. Kami akan mengakhiri perang ini hanya ketika kami telah mencapai tujuan kami dan memaksa musuh untuk menyesali tindakan memalukannya,” tegas Heidari.
Pernyataan-pernyataan tegas dari pejabat Iran ini menunjukkan bahwa mereka tidak gentar menghadapi tekanan AS dan Israel serta siap melanjutkan perang sampai titik darah penghabisan.
Dunia internasional terus memantau perkembangan situasi yang semakin kompleks di kawasan Timur Tengah yang berpotensi memicu krisis energi global yang lebih luas.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

