Repelita Jakarta - Perang antara Amerika Serikat serta Israel melawan Iran telah memasuki hari kesepuluh dengan dampak yang sangat menghancurkan terutama pada sektor energi global.
Harga minyak dunia melonjak di luar kendali dan menembus level tertinggi dalam empat tahun terakhir akibat kekhawatiran pasokan yang terganggu.
Pada perdagangan Senin 9 Maret 2026 pagi minyak mentah Brent naik enam belas koma empat persen mencapai seratus tujuh koma sembilan tiga dolar per barel setelah sempat menyentuh seratus sebelas koma nol empat dolar per barel.
Minyak mentah West Texas Intermediate Amerika Serikat melonjak delapan belas koma dua persen menjadi seratus tujuh koma empat puluh dolar per barel.
Lonjakan ini memperpanjang reli ekstrem yang telah berlangsung sejak akhir Februari dengan Brent naik dua puluh tujuh persen dan WTI meningkat tiga puluh lima koma enam persen selama pekan lalu.
Kenaikan mingguan tersebut menjadi yang terbesar dalam sejarah perdagangan futures sejak tahun sembilan belas delapan puluh tiga.
Para analis memperingatkan bahwa harga masih berpotensi terus meningkat tanpa adanya penyelesaian politik yang jelas.
Kepala ekonom JPMorgan Bruce Kasman menyatakan skenario jangka pendek menunjukkan harga minyak berpotensi mendekati seratus dua puluh dolar per barel sebelum kemudian mereda.
Namun tanpa resolusi politik harga Brent diperkirakan bertahan di kisaran delapan puluh dolar per barel hingga pertengahan tahun.
Ketegangan geopolitik menjadi pemicu utama dengan konflik yang mengancam Selat Hormuz jalur vital pengiriman minyak dunia yang dilewati sekitar dua puluh persen konsumsi global.
Sejumlah produsen di Timur Tengah mulai menekan produksi sebagai langkah pencegahan setelah Iran mengancam keamanan kapal yang melintas di selat tersebut.
Kuwait produsen minyak terbesar kelima di OPEC mengumumkan pemangkasan produksi serta output kilang sementara Irak melaporkan penurunan produksi dari tiga ladang utama di selatan hingga tujuh puluh persen menjadi hanya satu koma tiga juta barel per hari.
Kapasitas penyimpanan minyak mentah di Irak telah mencapai batas maksimum sementara Kuwait Petroleum Corporation menyatakan force majeure terhadap pengiriman minyak sejak Sabtu.
Lonjakan harga minyak ini memicu kekhawatiran terhadap perekonomian global dengan risiko inflasi serta resesi yang mengintai.
Bruce Kasman dari JPMorgan menilai kondisi tersebut dapat memangkas pertumbuhan ekonomi global sekitar nol koma enam persen secara tahunan pada paruh pertama tahun ini serta mendorong inflasi konsumen naik sekitar satu persen.
Konflik yang lebih luas dan berkepanjangan berpotensi mendorong harga minyak melampaui seratus dua puluh dolar per barel serta meningkatkan risiko resesi global.
Sentimen negatif tersebut turut menekan pasar saham di kawasan Asia dengan indeks Nikkei Jepang turun enam koma dua persen dan pasar saham Korea Selatan terkoreksi tujuh koma tiga persen.
Di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat muncul spekulasi bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump mungkin akan mengakhiri operasi militernya di Timur Tengah.
The New York Times melaporkan bahwa Gedung Putih berencana mengumumkan penghentian serangan militer terhadap Iran meskipun belum dikonfirmasi secara resmi.
Trump sendiri menyatakan bahwa ia akan memutuskan bersama Israel kapan perang dengan Iran akan berakhir dengan Washington memiliki suara terakhir.
Dampak lonjakan harga minyak juga dirasakan di Indonesia dengan nilai tukar rupiah melemah menjadi tujuh belas ribu satu dolar Amerika Serikat pada awal perdagangan Senin 9 Maret 2026.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures Lukman Leong menilai tekanan terhadap rupiah dipicu kekhawatiran pasar terhadap dampak kenaikan tajam harga minyak mentah yang berpotensi menekan perekonomian global serta meningkatkan inflasi.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

