
Repelita Jakarta - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menekankan urgensi adaptasi serius industri media nasional menghadapi disrupsi teknologi khususnya kecerdasan buatan yang terus mengubah ekosistem informasi.
Dalam Konvensi Nasional Media Massa 2026 Nezar menyatakan bahwa masa depan media tidak cukup bertahan di platform digital melainkan harus memperkuat jurnalisme autentik yang tidak dapat direplikasi oleh mesin.
Ia mengakui bahwa industri media telah mengalami dua gelombang disrupsi besar pertama melalui internet yang memaksa migrasi dari cetak ke digital dan kedua melalui teknologi AI yang mengguncang fondasi bisnis serta produksi konten.
Dalam dua disrupsi ini terus terang seperti yang kita tahu industri media goyang sempoyongan mencari bentuk yang baru kata Nezar.
Persoalan yang dihadapi media saat ini jauh lebih kompleks daripada sekadar perpindahan platform karena melibatkan perubahan ekosistem secara menyeluruh.
Pada hari ini kita berbicara jauh lebih luas daripada itu kita bicara ekosistem yang terbangun di tengah disrupsi ini untuk membangun jurnalisme yang berkualitas ucapnya.
Nezar menyoroti fenomena value extraction di platform digital di mana terjadi ekstraksi nilai tanpa pengembalian yang sepadan kepada industri media.
Disrupsi platform digital saat ini mengarah kepada value extraction walled algorithm ada ekstraksi nilai tanpa ada pengembalian nilai ini yang saya kira dirasakan oleh banyak industri media ketika memasuki platform digital ini tegas Nezar.
Ancaman terbesar bukan ketakutan wartawan digantikan AI melainkan potensi terkurasnya sumber daya ekosistem media yang memproduksi jurnalisme berkualitas.
Dalam keadaan ini masa depan jurnalisme itu bukan lagi ketakutan bahwa wartawan akan digantikan oleh AI tetapi bahwa teknologi seperti AI akan menguras semua sumber daya yang ada di ekosistem media yang memproduksi jurnalisme berkualitas jadi disrupsi ini end to end dari hulu sampai dengan hilir jelasnya.
Untuk mengatasi tantangan tersebut Nezar menekankan perlunya kolaborasi kuat antara pemerintah media platform digital serta publik.
Bagaimana kita menyikapi ini saya kira perlu kolaborasi yang kuat antara pemerintah media platform dan juga publik katanya.
Secara khusus ia meminta media mengedepankan non-replicable journalism atau jurnalisme yang tidak bisa direplikasi oleh mesin AI.
Untuk media saya kira kita harus fokus pada non-replicable journalism jurnalisme yang tidak bisa direplikasi jurnalisme saat ini yang ada di platform-platform search engine maupun platform media sosial semua konten nyaris seragam ujarnya.
Nezar mengingatkan bahwa konten berita yang bersifat umum dan dangkal akan mudah diringkas oleh mesin AI sehingga kehilangan kekhasan.
Dan kalau kita bikin berita yang biasa-biasa saja mesin engine AI akan mengunyah semua data itu dan merangkumnya sehingga hampir tidak ada kekhasan apa pun yang kita baca bukan sebuah jurnalisme tapi sebuah ringkasan beda ya jurnalisme dengan ringkasan itu beda tegasnya.
Menurutnya karya jurnalistik memiliki nilai lebih karena melalui proses verifikasi serta menghadirkan sisi kemanusiaan.
Kalau kita baca jurnalisme hasil atau karya jurnalis kita menemukan ada banyak sisi kita menemukan satu disiplin verifikasi kita juga bisa melihat wajah-wajah manusia yang diberitakan kata Nezar.
Ia menambahkan bahwa kekuatan jurnalisme terletak pada kemampuan storytelling serta eksplorasi human interest.
Jurnalisme berkembang dengan cukup intens bagaimana keterampilan storytelling di jurnalisme bisa mengekspos human interest ujarnya.
Nezar mengingatkan bahwa media yang sepenuhnya bergantung pada platform tanpa kekhasan akan terseragamkan oleh algoritma.
Nah jika kita semua kemudian menggantungkan diri kepada platform tanpa punya kekhasan saya kira kita akan diseragamkan oleh search engine akan diseragamkan oleh mesin kecerdasan AI katanya.
Karena itu ia mendorong produksi konten yang unik autentik serta beragam format guna mempertahankan relevansi dan nilai jurnalisme di era AI.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok.

