Repelita Jakarta - Pengamat politik Ray Rangkuti menyampaikan kritik tajam terhadap perjanjian perdagangan yang dibuat antara Indonesia dengan Amerika Serikat sehingga tarif impor produk Indonesia ke negara tersebut ditetapkan sebesar sembilan belas persen.
Negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Vietnam serta Thailand hanya dikenai tarif sepuluh persen tanpa harus menyerahkan konsesi apa pun kepada pihak Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut diungkapkan Ray Rangkuti melalui unggahan video di akun TikTok @rayrangkuti259 yang dipublikasikan pada tanggal 24 Februari 2026.
Ia menjelaskan bahwa putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat telah membatalkan kebijakan tarif tinggi pada masa pemerintahan Donald Trump sehingga tarif impor bagi sebagian besar negara dunia kembali ke tingkat sepuluh persen.
Indonesia tetap terkena tarif sembilan belas persen akibat adanya kesepakatan bilateral yang telah disetujui sebelumnya.
Ray Rangkuti menekankan sejumlah konsesi besar yang diberikan pihak Indonesia meliputi pembelian pesawat terbang buatan Amerika Serikat serta penghapusan tarif impor untuk barang-barang asal Amerika Serikat menjadi nol persen.
Ia juga menyinggung adanya ketentuan yang memberikan akses terhadap data pribadi warga Indonesia kepada pihak Amerika Serikat sebagai bagian dari paket kesepakatan tersebut.
Menurutnya tingkat tarif awal yang sempat dinegosiasikan mencapai tiga puluh dua persen kemudian dikurangi menjadi sembilan belas persen namun masih jauh lebih tinggi dibandingkan perlakuan terhadap negara lain.
Ray Rangkuti menyatakan kekecewaan secara eksplisit dengan kalimat "The whole world is now enjoying only 10% without making any concessions with America 19% concession wow…" yang disampaikan dalam videonya.
Ia mempertanyakan logika mengapa Indonesia harus memberikan begitu banyak pengorbanan namun tetap menerima tarif impor yang lebih memberatkan dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya.
Komentar tersebut langsung memancing perdebatan luas di kalangan masyarakat mengenai strategi dan kebijakan perdagangan luar negeri yang dijalankan oleh pemerintah Indonesia.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

