Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Secarik Surat yang Menggugat Pendidikan "Surat Anak ke Mama Reti: Saya Pergi Dulu, Jangan Menangis dan Mencari Saya"

 

Repelita Jakarta - Sekeping surat tulisan tangan seorang anak yang meminta izin pergi meninggalkan mama Reti menjadi sorotan karena menggambarkan keputusasaan mendalam di balik kehidupan seorang anak.

Surat itu ditulis dengan huruf anak-anak yang belum rapi lengkap dengan gambar sosok kecil yang tampak menangis di bagian bawah kertas.

Isi surat menyampaikan pesan bahwa anak tersebut akan pergi jauh dan memohon mama tidak menangis mencari atau merindukannya.

Anak itu berulang kali menuliskan kalimat mama saya pergi dulu mama relakan saya pergi jangan menangis ya mama mama saya pergi.

Di bagian akhir tertulis selamat tinggal mama disertai tanda tangan sederhana yang menunjukkan usaha anak untuk menyampaikan perpisahan.

Kemunculan surat ini memicu keprihatinan luas karena mencerminkan penderitaan emosional yang sangat berat dialami seorang anak.

Iman Zanatul Haeri selaku Kepala Bidang Advokasi Guru Persatuan Guru Republik Indonesia menyatakan bahwa kasus semacam ini merupakan kegagalan kolektif seluruh elemen masyarakat.

Ia menegaskan bahwa pemerintah pusat daerah orang tua keluarga tokoh agama guru sekolah teman dan lingkungan sekitar sama-sama memiliki tanggung jawab.

Sekolah seharusnya menjadi rumah kedua yang aman tempat anak menemukan harapan ketika rumah aslinya penuh dengan penderitaan.

Guru yang peka dan penuh kasih sayang menjadi kunci untuk memberikan ruang aman serta mendengarkan keluh kesah anak-anak yang tertekan.

Banyak guru meski hidup dalam keterbatasan ekonomi tetap berusaha memberikan perhatian ekstra bahkan mengeluarkan biaya pribadi demi murid.

Negara dinilai gagal menghargai pengorbanan guru tersebut sehingga kesejahteraan dan karir mereka tidak terjamin dengan layak.

Ketika guru dan orang tua sama-sama tidak mampu memberikan dukungan materi maupun emosional maka negara wajib hadir mengisi kekosongan itu.

Pendidikan semestinya menanamkan semangat hidup melalui iklim sekolah yang hangat sehingga anak rela bertahan meski dalam kondisi sulit.

Anak-anak yang menderita sering kali justru betah di sekolah karena di sana mereka menemukan kebahagiaan yang tidak didapat di rumah.

Program makan bergizi gratis yang dijalankan pemerintah tidak akan bermakna jika sekolah kehilangan fungsi sebagai tempat yang membuat anak ingin terus hidup.

Anak yang memilih mengakhiri hidup biasanya tidak lagi melihat harapan di depan mata karena tidak ada lagi ruang aman yang dapat diandalkan.

Smartboard atau teknologi canggih tidak akan pernah mampu menggantikan peran guru sebagai pendengar nasehat dan penyemangat hidup.

Guru adalah sosok yang dapat membuat anak menyadari bahwa hidupnya berharga dan negara yang menaunginya layak diperjuangkan.

Ketiadaan guru yang berkualitas dan lingkungan sekolah yang mendukung menjadi salah satu penyebab anak kehilangan alasan untuk bertahan hidup.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved