Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Rabi Yehuda Kaploun: Utusan Trump Rencanakan Ubah Kurikulum Pendidikan Indonesia untuk Lawan Antisemitisme dan Pengaruhi 350 Juta Umat Muslim?

 Rabi Isra*l-Amerika Yehuda Kaploun resmi ditunjuk oleh Presiden AS Donald  Trump sebagai “Utusan Khusus untuk Memantau dan Memerangi Antisemitisme  (SEAS)”. Ia diketahui menyasar kurikulum pendidikan di Indonesia agar lebih  pro-Isra*l. Dalam ...

Kebijakan Presiden Donald Trump terhadap Timur Tengah pada tahun 2026 menekankan pendekatan "peace through strength" yang menggabungkan diplomasi transaksional, tekanan militer maksimum, serta penguatan aliansi ekonomi dan keamanan dengan mitra regional.

Fokus utama mencakup upaya menekan Iran untuk mencapai kesepakatan nuklir baru melalui kampanye tekanan maksimum yang diperbarui, termasuk pembangunan militer besar-besaran di kawasan tersebut—termasuk pengiriman armada kapal induk dan kapal perang—serta ancaman serangan terbatas jika negosiasi gagal.

Pada Juni 2025, Amerika Serikat melakukan serangan udara terhadap fasilitas nuklir Iran dalam operasi yang disebut Midnight Hammer, bekerja sama dengan Israel, yang melemahkan kemampuan rezim tersebut dan memicu gelombang protes internal serta negosiasi tidak langsung yang sedang berlangsung di Geneva dan Vienna pada Februari 2026.

Terhadap konflik Israel-Palestina, administrasi Trump berhasil memfasilitasi gencatan senjata Gaza pada Oktober 2025 beserta pembebasan sandera, diikuti dengan rencana perdamaian 20 poin yang mencakup rekonstruksi dan jalur menuju negara Palestina, meskipun implementasinya menghadapi tantangan signifikan.

Hubungan dengan Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya diperkuat melalui kesepakatan investasi bernilai miliaran dolar, penjualan senjata canggih seperti jet tempur F-35, serta penunjukan Saudi sebagai mitra pertahanan utama non-NATO, dengan penekanan pada kolaborasi teknologi, energi, dan keamanan untuk mengimbangi pengaruh China.

Secara keseluruhan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran dari intervensi militer jangka panjang menuju pendekatan yang lebih pragmatis dan berorientasi hasil, meskipun berisiko eskalasi di tengah polarisasi regional dan kritik atas potensi overextension militer Amerika Serikat.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok.

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved