
Repelita Jakarta - Rabi Yehuda Kaploun yang berkewarganegaraan Israel-Amerika telah resmi dikukuhkan oleh Senat Amerika Serikat sebagai Utusan Khusus untuk Memantau dan Memerangi Antisemitisme atau Special Envoy to Monitor and Combat Antisemitism pada Kamis pekan lalu.
Pengukuhan tersebut dilakukan melalui pemungutan suara yang terbagi 53-43 berdasarkan garis partai dengan dukungan penuh dari Partai Republik dan penolakan dari Partai Demokrat.
Kaploun yang merupakan pengikut gerakan Chabad Hasid pengusaha di Miami serta juru kampanye Donald Trump pada tahun 2024 akan menjalankan peran setingkat duta besar di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.
Jabatan ini bertujuan mengoordinasikan upaya Amerika Serikat dalam menghadapi antisemitisme secara global setelah posisi tersebut sempat kosong di tengah peningkatan insiden kebencian terhadap Yahudi baik di dalam negeri maupun internasional.
Dalam konferensi yang diselenggarakan The Jerusalem Post pada Rabu Kaploun menyatakan bahwa pendidikan menjadi prioritas utama dalam agenda kerjanya.
Ia secara khusus menyebut Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia yang mencapai sekitar 350 juta jiwa dan mempertanyakan cara mengubah isi buku pendidikan di sana.
Kaploun mengungkapkan rencana memanfaatkan posisinya untuk memengaruhi penulisan sejarah buku pelajaran sekolah serta materi pendidikan digital secara global agar selaras dengan standar yang ditetapkan Amerika Serikat.
Ia juga menekankan perlunya merevisi buku-buku pelajaran yang mendapat dana dari Perserikatan Bangsa-Bangsa serta menuntut pertanggungjawaban negara terkait jika revisi tersebut tidak dilaksanakan.
Selain itu Kaploun berencana membentuk unit teknologi khusus untuk mengawasi serta memengaruhi percakapan daring dan algoritma platform digital guna memerangi antisemitisme.
Ia menegaskan komitmen untuk mengalihkan narasi menjadi pro-Semitisme melalui pendidikan intensif serta meneliti hasutan dalam materi pendidikan dan menuntut akuntabilitas badan internasional yang menerima dana Amerika Serikat.
Sejak lama Israel memantau kurikulum pendidikan Indonesia melalui lembaga pemikir IMPACT-se yang berkantor di Inggris dan berafiliasi dengan Israel.
Laporan IMPACT-se pada tahun 2023 yang bekerja sama dengan Ruderman Family Foundation menyimpulkan bahwa kurikulum sekolah Indonesia sebagian besar bersifat toleran mendorong perdamaian serta hidup berdampingan.
Penelitian tersebut mengamati 169 buku pelajaran di jalur umum standar yang mencakup delapan puluh lima persen siswa di bawah Kementerian Pendidikan Indonesia.
Temuan menunjukkan referensi tentang Yahudi dalam buku Pendidikan Islam mayoritas netral atau positif dengan kutukan terhadap terorisme serta penghargaan terhadap keragaman budaya dan minoritas.
Meskipun Israel digambarkan sebagai negara penjajah laporan tersebut mengakui status penduduk asli Yahudi di tanah mereka serta menyatakan perspektif seimbang dalam hubungan internasional.
Pembahasan sejarah penjajahan Jepang dan Belanda dalam kurikulum juga disebut menonjolkan aspek positif seperti penghormatan terhadap Islam serta pengenalan infrastruktur modern.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok.

