
Repelita Jakarta - Polemik seputar pernyataan Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai yang mengklaim memahami hak asasi manusia sejak usia lima tahun masih terus berlangsung tanpa tanda mereda.
Sindiran dari Pakar Hukum Tata Negara Prof Zainal Arifin Mochtar memancing tanggapan langsung dan panjang lebar dari Natalius Pigai.
Pigai tidak hanya membalas kritik melainkan juga mengajak publik menelusuri kembali perjalanan hidupnya yang ditempa oleh kondisi keras sejak masa kecil.
Ia menegaskan pemahaman mendalam tentang hak asasi manusia tidak muncul secara mendadak melainkan terbentuk dari pengalaman nyata di tengah konflik.
Jangankan 5 tahun sejak lahir saya sudah hidup di tengah moncong senjata ujar Pigai melalui cuitannya di X pada 26 Februari 2026.
Pigai menunjuk Enarotali Paniai sebagai lingkungan sosial yang membentuk kesadaran kemanusiaannya sejak dini.
Di situ saya rasakan batas tipis antara hidup dan mati baik dan jahat bagaimana orang jerit ratap dan rinti haus dan lapar adil dan tidak adil mana sakit dan senang itulah esensi dasar HAM universal yang dimaknai umat manusia termasuk saya tuturnya.
Pengalaman hidup di wilayah konflik menurut Pigai menjadi landasan utama bagi pemahaman substantif tentang hak asasi manusia.
Di situlah saya mengerti nilai fundamental tentang Hak Asasi Manusia tegasnya.
Ia menekankan rekam jejak panjang sebagai aktivis dan pembela kelompok rentan yang telah melalui berbagai cobaan dan ujian berat.
Perjalanan hidup yang membentuk karakter dan integritas saya selama puluhan tahun sebagai pembela orang-orang tertindas pengungkap suara bagi mereka yang tak bersuara telah teruji dengan mengarungi badai dan gelombang cacian makian dan hinaan imbuhnya.
Saya telah tunjukkan integritas saya sebagai penjaga kaum lemah de oppreso liber sambungnya.
Pigai mengungkapkan dirinya pernah berada di posisi korban pelanggaran hak asasi manusia sebelum akhirnya memimpin kementerian terkait.
Dari seorang Korban HAM hingga menjadi orang nomor 1 di bidang HAM di RI saya bekerja mencatat sejarah menyelami sejarah dan menentukan sejarah HAM di Republik ini bebernya.
Ia menyampaikan kritik balik kepada Zainal Arifin Mochtar yang akrab disapa Uceng.
Sepengetahuan saya seorang Guru Besar memiliki tingkat pemahaman yang tinggi tentang esensi kehidupan berfikir dalam bahasa sastra yang tinggi pemahaman filosofis yang tinggi tetapi rupanya anda hanya Guru yang dibesar-besarkan kuncinya.
Sebelumnya Uceng menyampaikan refleksi pribadi untuk mengilustrasikan bahwa pengetahuan sejak kecil tidak menjamin kebebasan dari kesalahan.
Cuma pengen cerita saya ketika lima tahun juga sudah tahu bahasa indonesia tapi sekarang saya masih bisa salah berbahasa ujar Uceng.
Saya sejak lima tahun sdh belajar membaca Al Quran tapi sampai sekarang masih sering salah ya begitulah tambahnya.
Uceng mengutip pandangan Imam Al-Ghazali tentang empat jenis manusia berdasarkan kesadaran terhadap pengetahuan.
Saya cuma mau kutipkan Imam Al Ghazali bahwa ada 4 jenis manusia ucapnya.
Pertama orang yang tahu dan dia tahu bahwa dia tahu kedua orang yang tahu tapi dia tidak tahu bahwa dia tahu ini orang yang perlu disadarkan tegasnya.
Ketiga orang yang tidak tahu dan dia tahu bahwa dia tidak tahu orang awam ini perlu belajar dan wajib diajari.
Keempat orang yang tidak tahu dan dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu orang jenis ini sesat dan menyesatkan perlu dihindari tandasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok.

