Repelita Kudus - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Tiyo Ardianto semakin vokal menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah sehingga tekanan dan intimidasi kini tidak hanya menyasar dirinya melainkan juga ibunya di rumah.
Teror berulang yang menimpa ibu Tiyo menjadi bukti bahwa sikap kritisnya telah memicu respons yang tidak sehat dari pihak tertentu.
Meskipun menghadapi ancaman yang terus menerus Tiyo justru semakin tegar dan memandang hal tersebut sebagai konsekuensi wajar dari perjuangan memperbaiki kondisi negeri.
Tiyo menilai berbagai intimidasi yang datang silih berganti tidak membuatnya mundur melainkan semakin memperkuat tekad untuk terus berbicara lantang.
Ia menjelaskan bahwa teror terbaru kembali menimpa ibunya dengan pesan-pesan yang berisi tuduhan tidak berdasar serta ancaman pelaporan ke kepolisian.
Tiyo menyatakan bahwa semua tekanan tersebut bertujuan untuk membungkam kritiknya serta melemahkan semangat perlawanan terhadap kebijakan yang dinilai merugikan rakyat.
Meski ibunya sempat merasa khawatir atas ancaman yang diterima Tiyo telah memberikan penjelasan sehingga kini ibunya lebih tenang dan memahami situasi.
“Sekarang ibu sudah aman. Saya beri penjelasan sebelumnya,” kata Tiyo saat berbincang di teras Omah Dongeng Marwah Desa Purworejo Kecamatan Bae Kabupaten Kudus pada Kamis 26 Februari 2026 sore.
Tiyo menegaskan bahwa kritik yang disampaikan bukan lahir dari kebencian melainkan dari keprihatinan mendalam terhadap kondisi negara yang sedang sakit.
“Ini republik yang sakit. Negeri ini sakit dan orang memberi kritik ke republik ibarat dokter yang memberi obat,” ujarnya.
Menurut Tiyo kritik dari aktivis akademisi serta mahasiswa merupakan obat bagi negeri yang sedang mengalami berbagai penyakit sistemik.
Ia menyayangkan jika kritik berbasis data dan fakta tersebut justru ditutup telinga oleh pihak berwenang.
Tiyo menegaskan bahwa semakin vokalnya kritik terhadap pemerintah tidak membuatnya gentar melainkan semakin yakin bahwa suara rakyat harus terus didengar.
Teror yang menimpa ibunya menjadi pengingat bahwa perjuangan memperbaiki negeri sering kali harus dibayar mahal dengan tekanan pribadi dan keluarga.
Meski demikian Tiyo tetap berkomitmen untuk terus menyuarakan kebenaran demi masa depan yang lebih baik bagi Indonesia.
Negeri ini sakit dan membutuhkan pengobatan segera melalui kritik yang jujur serta bertanggung jawab dari seluruh elemen masyarakat.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

