![]()
Repelita Jakarta - Klaim Garda Revolusi Islam Iran IRGC menyatakan bahwa rudal mereka berhasil menyerang dan menenggelamkan kapal pendukung tempur Amerika Serikat bernama US MST di kawasan Teluk Persia.
Media resmi Iran seperti Tasnim News Agency dan IRIB melaporkan bahwa serangan tersebut menyebabkan kerusakan parah pada kapal hingga akhirnya tenggelam sepenuhnya.
Selain itu sistem hidrolik pada kapal induk USS Lincoln juga dilaporkan hancur sehingga kapal tersebut tidak lagi mampu meluncurkan maupun mendaratkan pesawat tempur dan dianggap tidak berfungsi.
Pernyataan IRGC ini muncul di tengah eskalasi ketegangan tinggi antara Teheran dan Washington yang disebut sebagai Operation Epic Fury di mana Amerika Serikat bersama Israel melakukan serangan gabungan terhadap fasilitas nuklir dan militer Iran.
Sebagai respons Iran meluncurkan gelombang drone serta rudal ke wilayah Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan termasuk fasilitas Armada.
IRGC menegaskan bahwa aset angkatan laut Amerika Serikat lainnya masih berada dalam jangkauan rudal dan drone Iran selama operasi berlangsung.
Pejabat Amerika Serikat langsung membantah klaim tersebut dan menyebut laporan dari pihak Iran sebagai informasi yang tidak benar.
Angkatan Laut AS hingga kini belum memberikan konfirmasi resmi mengenai adanya kerusakan maupun penenggelaman pada salah satu kapal mereka di kawasan tersebut.
Klaim serangan ini langsung mengaitkan kembali pada pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyid Ali Khamenei yang sebelumnya memperingatkan bahaya kehadiran kapal perang Amerika Serikat di dekat wilayah Iran.
"Kita terus mendengar bahwa mereka telah mengirim sebuah kapal perang ke arah Iran. Kapal perang tentu saja merupakan senjata berbahaya, tetapi yang lebih berbahaya adalah senjata yang mampu menenggelamkannya," demikian pernyataan Khamenei yang dilansir Al Arabiya.
Pernyataan tersebut kini dinilai sebagai bagian dari strategi deterensi Iran untuk menunjukkan kemampuan militer mereka dalam menghadapi kehadiran armada asing di Teluk Persia.
Situasi kawasan semakin sensitif akibat peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat serta pembicaraan nuklir yang dimediasi Oman di tengah tekanan diplomatik yang terus berlanjut.
Teheran menegaskan bahwa pencabutan sanksi ekonomi harus menjadi syarat utama dalam setiap kesepakatan baru terkait program nuklirnya sementara Washington terus mendorong pembatasan ketat terhadap aktivitas tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

