
Repelita Jakarta - Kemunculan Partai Solidaritas Indonesia sebagai kendaraan politik mantan Presiden Joko Widodo dinilai akan membawa dampak besar terhadap peta kekuatan politik nasional terutama bagi partai-partai papan tengah.
Pengamat politik dan ekonomi Heru Subagia menyatakan bahwa dukungan terbuka Jokowi terhadap PSI bukan sekadar simbol melainkan langkah strategis yang berpotensi menggerus basis elektoral sejumlah partai lain.
Menurutnya dalam jangka pendek PSI akan bekerja secara organik dengan memanfaatkan figur Jokowi sehingga tidak lagi bisa dipandang sebagai partai kecil di arena politik.
Heru menjelaskan bahwa dukungan Jokowi secara langsung merepresentasikan posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang kini menjadi figur nomor dua di pemerintahan.
Ia memprediksi PSI dengan patronase Jokowi akan berperan sebagai predator yang mengancam partai-partai papan tengah seperti PAN Demokrat PKB NasDem dan PKS.
Partai-partai tersebut dinilai memiliki pasar pemilih dan pengurus yang paling mudah diambil alih baik di tingkat elit maupun basis massa.
Heru menilai manuver politik Partai Amanat Nasional belakangan ini tidak lepas dari ancaman tersebut salah satunya dengan mencuatnya isu duet Prabowo Subianto-Zulkifli Hasan yang dilontarkan Wakil Ketua Umum PAN Eddy Soeparno.
Ia menilai langkah PAN tersebut merupakan upaya mempertahankan elektoral baik secara pribadi institusi maupun organisasi di tengah tekanan dari PSI yang didukung Jokowi.
Heru menambahkan bahwa PAN terus menempel pada kekuasaan dengan membangun narasi loyalitas terhadap Prabowo bahkan disebut telah tiga kali berturut-turut mendukung Ketua Umum Gerindra tersebut.
Namun ia mengingatkan bahwa dalam Kongres PAN menjelang Pilpres 2024 nama Prabowo tidak tercantum sebagai calon presiden maupun wakil presiden yang diusung partai tersebut.
Heru juga menyoroti upaya PAN memperkuat pengaruh dengan memasukkan sejumlah menteri seperti Menteri Kelautan dan Perikanan Menteri Perdagangan serta Menteri Perhubungan ke dalam struktur DPP.
Menurutnya langkah tersebut menunjukkan PAN sejak awal membangun kaki kekuasaan untuk kepentingan elektoral di masa mendatang.
Meski demikian Heru menilai posisi PAN tetap melemah karena dominasi Jokowi dalam kabinet Prabowo-Gibran terlalu besar sehingga PAN dan Zulkifli Hasan hanya menjadi bagian perifer dari kekuasaan.
Situasi tersebut semakin rumit ketika Jokowi secara terbuka mendeklarasikan PSI sebagai tempat berlabuh politiknya pasca-kepresidenan.
Heru menyebut kekuatan yang sebelumnya menyatu mulai terpecah dengan PSI yang menargetkan diri menjadi partai besar di bawah semangat Jokowi dan Kaesang Pangarep.
Ia bahkan memperkirakan PSI membidik perolehan suara signifikan di kisaran tujuh belas hingga dua puluh persen pada Pemilu mendatang.
Heru menegaskan bahwa jika partai seperti PAN tidak segera melakukan koreksi arah politik dan kembali ke basis ideologis bukan transaksional maka masa depan elektoralnya berada dalam ancaman serius.
Ia menuturkan bahwa pasar pemilih PAN berpotensi hangus jika tidak ada perubahan mendasar padahal PAN merupakan partai reformasi yang masih eksis hingga kini.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

