Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Anak SD di NTT Gantung Diri karena Tak Mampu Beli Buku Tulis Jadi Alarm Keras Sistem Pendidikan

 

Repelita Ngada - Syafril Sjofyan menilai peristiwa seorang siswa kelas IV SD Negeri di Kecamatan Jerebuu Kabupaten Ngada Nusa Tenggara Timur yang tewas gantung diri menjadi alarm keras bagi pemerintah Indonesia.

Menurut Syafril Sjofyan siswa berinisial YBR berusia sepuluh tahun mengakhiri hidupnya karena orang tuanya tidak mampu membeli buku tulis dan pulpen yang ditagih oleh sekolah.

Syafril Sjofyan menjelaskan bahwa sekolah negeri tersebut memungut biaya satu juta dua ratus dua puluh ribu rupiah per tahun yang dibayar secara cicilan dan orang tua korban telah melunasi lima ratus ribu rupiah untuk semester pertama sementara sisa tujuh ratus dua puluh ribu rupiah masih tertunggak.

Syafril Sjofyan menyebutkan bahwa di lokasi ditemukan surat perpisahan berbahasa daerah Bajawa yang ditujukan kepada ibunya di mana korban menyatakan ibunya pelit dan meminta agar tidak menangisi kepergiannya.

Menurut Syafril Sjofyan isi surat itu menggambarkan tekanan emosional berat pada anak usia dini yang diduga dipicu oleh stres ekonomi berkepanjangan hingga memengaruhi kondisi psikologisnya mencapai tingkat depresi berat.

Syafril Sjofyan menyatakan bahwa tekanan ekonomi sering membuat orang tua tegang dan kurang responsif secara emosional sehingga anak peka menangkap perubahan itu sebagai tanda bahwa dirinya dianggap beban keluarga.

Syafril Sjofyan menegaskan bahwa tragedi anak SD bunuh diri di Nusa Tenggara Timur bukan sekadar kasus perorangan melainkan cerminan kegagalan sistemik negara dalam menjamin hak anak atas pendidikan yang aman layak dan berkeadilan.

Menurut Syafril Sjofyan pendidikan seharusnya menjadi ruang penuh harapan bukan sumber tekanan mental dan ketakutan yang berujung keputusasaan.

Syafril Sjofyan berpendapat bahwa negara wajib memastikan tidak ada anak kehilangan masa depan karena masalah ekonomi dan jika anak SD sampai bunuh diri karena tidak mampu beli buku maka kesalahan utama ada pada sistem di sekitarnya.

Syafril Sjofyan menilai kegagalan sistem pendidikan dasar terlihat ketika buku dan alat tulis menjadi beban berat hingga anak merasa putus asa sehingga sekolah serta kebijakan pendidikan gagal melindungi murid paling rentan.

Menurut Syafril Sjofyan tragedi ini adalah tanggung jawab kolektif sehingga pertanyaan tepat bukan mengapa anak melakukannya melainkan mengapa lingkungan membiarkannya sampai merasa tidak ada jalan keluar.

Syafril Sjofyan menyarankan orang tua untuk menguatkan anak dengan menghilangkan rasa takut jujur tentang kesulitan ekonomi serta membangun komunikasi rutin yang fokus pada perasaan bukan hanya tugas sekolah.

Syafril Sjofyan menekankan bahwa sekolah wajib menghapus pungutan memalukan menjamin akses belajar tanpa diskriminasi ekonomi serta menyediakan buku pinjaman alat tulis dan modul gratis bagi siswa miskin.

Syafril Sjofyan mendesak pemerintah pusat provinsi dan kabupaten kota agar menjadikan pendidikan dasar serta menengah benar-benar gratis termasuk alat belajar inti sesuai amanat UUD tanpa terkecuali.

Menurut Syafril Sjofyan pengawasan dana BOS dan bantuan sosial harus diperketat agar tepat sasaran sementara sekolah yang memungut biaya harus dikenai sanksi tegas bahkan pidana jika menyalahgunakan dana publik.

Syafril Sjofyan menambahkan bahwa layanan kesehatan mental anak perlu diperluas dengan konselor di sekolah dasar serta pelatihan guru untuk mengenali tanda depresi dan krisis pada anak.

Syafril Sjofyan menyimpulkan bahwa tragedi ini harus menjadi evaluasi menyeluruh bagi pemerintahan saat ini untuk mewujudkan pendidikan gratis total serta meninjau ulang alokasi anggaran agar meringankan beban masyarakat paling membutuhkan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved