
Repelita Jakarta - Ketua Majelis Syuro Partai Ummat Amien Rais kembali menyampaikan pandangan tajam terkait kondisi mantan Presiden Joko Widodo setelah tidak lagi menjabat sebagai kepala negara.
Amien memulai pernyataannya dengan menekankan keterbatasan manusia dalam meramalkan atau mengendalikan masa depan.
“Sebagai manusia kita tidak pernah bisa meramalkan apalagi memastikan nasib kita di masa depan” ujar Amien dikutip pada Selasa 10 Februari 2026.
Menurutnya sejak Jokowi resmi mengakhiri masa jabatan presiden pada 20 Oktober 2024 kondisi kesehatannya menunjukkan penurunan yang terus-menerus dan konsisten.
“Bila kita mengikuti terus kondisi dan berbagai langkah Jokowi sejak resmi mengakhiri kekuasaannya sebagai Presiden Indonesia pada 20 Oktober tahun 2024 terlihat jelas dia mengalami kemerosotan kesehatan yang konsisten” sebutnya.
Amien mengklaim Jokowi menghadapi sejumlah persoalan besar yang berada di luar kemampuan manusia biasa sehingga berdampak serius pada kondisi fisik maupun psikologisnya.
“Ada beberapa kasus besar yang dihadapi Jokowi yang berada di luar kemampuan dia sebagai manusia biasa” tukasnya.
Ia menilai beban persoalan tersebut membuat kesehatan Jokowi terus memburuk tanpa menemukan jalan keluar yang memadai.
“Jokowi memang didera beberapa masalah super sulit yang menyebabkan kesehatannya makin lama makin memburuk dan tidak ada solusi” tutur Amien.
Amien menyebut isu dugaan ijazah palsu sebagai salah satu faktor utama yang sangat memojokkan Jokowi hingga mengempaskannya sebagai oknum yang dianggap hina.
“Yaitu pertama isu ijazah palsunya sangat memojokkan Jokowi dan telah mengempaskannya sebagai oknum penipu oknum yang hina” ucapnya.
Ia juga menyoroti kondisi politik Jokowi pascakekuasaan khususnya terkait Partai Solidaritas Indonesia yang dipimpin Kaesang Pangarep.
Mayoritas pengamat dan tokoh politik menurut Amien telah menyimpulkan bahwa PSI tidak akan menjadi partai besar.
Karir politik keluarga Jokowi dinilai semakin tipis sehingga harapan agar Gibran lolos dalam kontestasi mendatang dianggap sebagai harapan kosong.
“Jadi mengharapkan Gibran Fufufafa bisa lolos menyeberangi jembatan KPU merupakan harapan kosong bak fatamorgana” imbuhnya.
Namun faktor yang paling membuat Jokowi gelisah dan berdampak pada kesehatannya adalah hasil berbagai survei politik menjelang tahun 2029.
“Tetapi yang membuat Jokowi gelisah dan resah dan kesehatannya makin merosot adalah temuan berbagai surveyors” jelasnya.
Amien menyebut survei-survei tersebut menempatkan Gibran Rakabuming Raka di posisi paling bawah dalam bursa calon presiden maupun calon wakil presiden.
“Yang meletakkan Gibran berada di urutan bawah dalam bursa Capres atau Cawapres besok tahun 2029” tandasnya.
Menurut Amien Gibran merupakan satu-satunya harapan politik yang masih tersisa bagi Jokowi saat ini.
“Padahal hanya Gibran saja yang masih tersisa sebagai harapan Jokowi satu-satunya” pungkasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

