
Repelita Garut - Suasana haru menyelimuti prosesi pemakaman di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut.
Upacara itu dilaksanakan pada hari Jumat untuk mengantar kepergian Deden Maulana, seorang pegawai di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Dia gugur dalam musibah jatuhnya pesawat ATR 42-500 yang menabrak lereng Gunung Bulusaraung di Sulawesi Selatan.
Ratusan pelayat memadati area pemakaman dengan mata berkaca-kaca menahan kesedihan yang mendalam.
Puncak keharuan terjadi ketika putra almarhum yang bernama Zio melangkah maju ke sisi liang kubur.
Bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu berdiri dengan tubuh kecilnya yang terlihat rapuh.
Dia menggenggam sebuah mikrofon dan mulai melantunkan adzan sebagai penghormatan terakhir untuk sang ayah.
Suaranya awalnya terdengar pelan dan mengalun penuh khidmat mengikuti melodi panggilan suci tersebut.
Di tengah lantunan adzan, ketegaran yang ditunjukkannya perlahan mulai runtuh satu per satu.
Tangis yang awalnya tertahan akhirnya pecah menjadi isakan yang tidak lagi mampu dibendung.
Air mata mengalir deras di pipinya seiring dengan kalimat adzan yang terpotong-potong oleh desahan napas.
Tangannya sesekali terangkat untuk mengusap wajah yang telah basah oleh linangan air mata.
Beberapa orang dewasa di sekitarnya segera mendekat dan memberikan sandaran untuk tubuh kecil itu.
Mereka menopang Zio agar tetap dapat berdiri menyelesaikan amanah terakhir bagi ayahnya.
Meski suaranya bergetar dan napasnya tersengal, dia berhasil menyelesaikan adzan hingga kalimat terakhir.
Deden Maulana merupakan korban pertama dari kecelakaan pesawat yang berhasil dievakuasi oleh tim SAR.
Jenazahnya telah terlebih dahulu melalui proses identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification.
Semayam jenazah dilaksanakan di Aula Politeknik Ahli Usaha Perikanan di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Di tempat itu pula Zio pernah menunjukkan ketegaran lain dengan melantunkan Surat Al-Insyirah.
Ayat-ayat tentang kelapangan dada dan janji kemudahan setelah kesulitan dilantunkannya dengan suara jernih.
Lantunan ayat suci itu menyayat hati setiap pelayat yang hadir memberikan penghormatan terakhir.
Rekan-rekan kerja almarhum yang mengenakan seragam dinas KKP tidak mampu menahan tangis mereka.
Namun ketika prosesi resmi telah usai, dinding ketegaran yang dibangun Zio akhirnya runtuh sepenuhnya.
Dia berlari kecil dan menghambur ke dalam pelukan hangat ibunya yang bernama Verawati.
Tangisnya pecah di dada sang ibu dalam gambaran kehilangan yang paling murni dan menyentuh.
Tragedi kecelakaan pesawat ATR 42-500 meninggalkan luka yang sangat dalam bagi keluarga korban.
Musibah ini juga menjadi pengingat akan beratnya risiko sebuah pengabdian dalam tugas negara.
Setiap langkah dan pengorbanan para abdi negara meninggalkan cerita yang tidak akan pernah terlupakan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

