Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Strategi Pertahanan AS Beralih Fokus ke China, Kurangi Dukungan untuk Sekutu Eropa

 Gedung Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon, saat difoto di Washington DC pada 3 Maret 2022.

Repelita Washington DC - Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengumumkan perubahan besar dalam kebijakan strategi pertahanan nasional.

Dokumen Strategi Pertahanan Nasional 2026 yang dirilis pada Jumat 23 Januari 2026 menyatakan akan memusatkan perhatian pada perlindungan Tanah Air.

Pencegahan terhadap potensi ancaman dari China menjadi fokus utama dalam strategi pertahanan terbaru tersebut.

Sementara itu dukungan kepada sekutu di Eropa dan kawasan lain akan diberikan secara lebih terbatas dan selektif.

Langkah ini menandai pergeseran signifikan dari kebijakan sebelumnya yang lebih banyak terlibat di berbagai kawasan.

Washington mendorong sekutunya untuk memikul tanggung jawab lebih besar dalam menjaga pertahanan masing-masing negara.

“Saat pasukan AS fokus pada pertahanan Tanah Air dan Indo-Pasifik, para sekutu dan mitra kita di tempat lain akan mengambil tanggung jawab utama untuk pertahanan mereka sendiri dengan dukungan penting, tetapi lebih terbatas dari pasukan Amerika,” tertulis dalam dokumen resmi.

Berbeda dengan strategi pada masa pemerintahan Joe Biden, dokumen terbaru menggunakan pendekatan lebih lunak terhadap dua musuh tradisional.

China dan Rusia mendapatkan pendekatan berbeda dibandingkan dengan kebijakan administrasi sebelumnya.

Jika sebelumnya China disebut tantangan terpenting dan Rusia ancaman akut, strategi terbaru justru menghindari penyebutan Taiwan.

Dokumen tersebut mendorong hubungan saling menghormati dengan Beijing sebagai bagian dari diplomasi pertahanan.

Ancaman dari Rusia kini digambarkan sebagai sesuatu yang terus-menerus namun dapat dikelola dengan baik.

Khususnya terhadap anggota NATO di wilayah timur yang berbatasan langsung dengan wilayah pengaruh Rusia.

Meski strategi pemerintahan Trump dan Biden sama-sama menekankan pentingnya pertahanan dalam negeri, pendekatan terhadap ancaman berbeda secara signifikan.

Dalam dokumen terbaru, pemerintahan Trump mengkritik pendahulunya karena dinilai lalai menjaga perbatasan negara.

“Keamanan perbatasan adalah keamanan nasional,” tulis dokumen tersebut dengan penekanan khusus.

Pentagon akan memprioritaskan upaya menutup perbatasan, menangkis berbagai bentuk invasi, dan mendeportasi imigran ilegal.

Sebaliknya pada masa Biden, strategi difokuskan pada ancaman yang ditimbulkan oleh China dan Rusia.

Kedua negara tersebut dinilai lebih berbahaya dibandingkan ancaman terorisme sekalipun dalam analisis strategis.

Perbedaan lain yang mencolok adalah absennya isu perubahan iklim dalam dokumen strategi terbaru ini.

Padahal di masa pemerintahan Biden, isu tersebut disebut sebagai ancaman yang mulai muncul dan perlu diantisipasi.

Dokumen Strategi Pertahanan Nasional 2026 menempatkan Amerika Latin sebagai prioritas utama dalam agenda kebijakan luar negeri.

Pentagon menegaskan akan memulihkan dominasi militer Amerika di kawasan Belahan Barat sebagai bentuk perlindungan.

Akses ke wilayah-wilayah penting di kawasan tersebut akan dijaga dengan ketat sesuai kepentingan nasional.

Pendekatan ini disebut sebagai “Trump Corollary to the Monroe Doctrine” dalam dokumen resmi.

Konsep tersebut mengacu pada prinsip lama Amerika Serikat yang menolak campur tangan kekuatan asing di Amerika Latin.

Sejak kembali menjabat tahun lalu, Trump meningkatkan penggunaan kekuatan militer di kawasan tersebut secara signifikan.

Salah satu operasi adalah serangan mendadak yang menangkap pemimpin Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya.

Lebih dari tiga puluh kapal yang diduga menyelundupkan narkoba juga menjadi sasaran operasi militer.

Operasi tersebut mengakibatkan lebih dari seratus orang tewas dalam berbagai insiden di perairan internasional.

Namun pemerintah belum menyampaikan bukti konkret bahwa kapal-kapal tersebut terlibat perdagangan narkoba.

Beberapa ahli hukum internasional dan kelompok pegiat hak asasi manusia menyebut serangan itu bentuk pembunuhan di luar hukum.

Mereka menduga operasi tersebut menyasar warga sipil yang tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap Amerika Serikat.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved