Oleh: Rina Syafri
Spanyol Menunjukkan Konsistensi. Tidak mudah tunduk pada kekuatan besar. Apalagi tunduk pada ambisi pribadi Donald Trump.
Keputusan Spanyol menolak Dewan Perdamaian Gaza bentukan Presiden AS yang dilabel islamophobic itu, dan tetap berpegang pada PBB serta solusi dua negara, adalah langkah yang konsisten dengan prinsip hukum internasional. Spanyol menegaskan bahwa perdamaian tidak bisa lahir dari forum ad hoc yang sarat kepentingan politik individu. Ia harus muncul dari mekanisme global yang diakui dunia.
Politik bebas aktif Indonesia kini dipertanyakan. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, arah politik luar negeri Indonesia menjadi sorotan. Prinsip bebas aktif yang selama ini menjadi fondasi diplomasi Indonesia, sedang diuji. Ketika Gaza berjuang untuk hak hidup dan kemerdekaan, sikap Indonesia yang memberi sinyal pada forum bentukan Trump menimbulkan tanda tanya besar.
Para pakar politik luar negeri Indonesia mengungkapkan sejumlah kekhawatiran. Bagi mereka, pemihakan Prabowo pada nafsu Trump mempertontonkan hilangnya kredibilitas Internasional Indonesia yang selama ini dikenal lantang mendukung Palestina. Jika kini terlihat mendukung forum bentukan Trump, dunia tentu akan menilai Indonesia berubah sangat fundamental. Tidak berlebihan untuk disebut bertentangan dengan konstitusi negara.
Politik bebas aktif berubah menjadi politik kompromi. Bergabung dengan forum Trump bisa dianggap sebagai keberpihakan pada agenda Amerika Serikat.
Keputusan Prabowo mengekor Trump mengaburkan dukungan terhadap perjuangan Palestina. Dunia Arab dan negara-negara Muslim bisa melihat Indonesia tidak lagi tegas.
Kini Indonesia terombang-ambing tanpa arah. Sikap ini digambarkan seperti kapal di tengah lautan yang tidak tahu di mana dermaga tempat berlabuh.
Sekaligus sikap ini akan memudarkan reputasi sejarah Indonesia. Negara ini pernah menjadi suara lantang di Konferensi Asia-Afrika Bandung 1955. Jika kini sikapnya tidak jelas, reputasi sejarah itu bisa dianggap hanya retorika masa lalu.
Kontras antara Spanyol dan Indonesia sangat jelas. Spanyol menunjukkan konsistensi, sementara Indonesia tampak ambigu. Jika Indonesia tidak segera menegaskan sikap, dampak jangka panjangnya bisa merusak hubungan diplomatik dengan dunia Arab dan negara-negara Muslim, serta mengikis kredibilitas Indonesia sebagai negara yang meneraikkan anti-kolonialisme.
Sebagai penutup, ketegasan Spanyol adalah cermin bahwa legitimasi internasional lebih penting daripada manuver politik sepihak. Indonesia, dengan prinsip bebas aktif, seharusnya berdiri di garis yang sama: mendukung Palestina melalui jalur PBB dan solusi dua negara. Jika tidak, maka politik bebas aktif akan kehilangan makna, dan Indonesia akan tampak seperti kapal yang berlayar tanpa arah, kehilangan kompas, dan tidak jelas tujuan akhirnya.[]

