
Repelita [Jakarta] - Influencer dan analis bisnis Raymond Chin mengungkapkan sejumlah temuan yang menurutnya mengkhawatirkan terkait kondisi ekonomi Indonesia selama tahun 2025.
Melalui kanal YouTube miliknya, dia menyoroti adanya kesenjangan yang signifikan antara narasi pertumbuhan ekonomi nasional dengan realitas yang dialami sebagian besar masyarakat.
Menurut Raymond, tahun 2025 merupakan periode yang sangat berat bagi mayoritas warga Indonesia meskipun statistik ekonomi menunjukkan stabilitas.
Di permukaan, ekonomi tampak stabil dengan pertumbuhan produk domestik bruto berada di kisaran lima persen.
Namun realitas di lapangan justru menunjukkan tekanan finansial yang semakin besar dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat.
“2025 itu kelihatannya enggak ada yang spesial.
Tapi sembari gua riset makin dalam, gua nemu fakta yang mengerikan,” ujarnya.
Dia menyampaikan analisis bahwa kondisi finansial masyarakat Indonesia saat ini justru lebih buruk dibandingkan satu dekade sebelumnya.
“Gimana kalau gua bilang ke kalian bahwa rakyat Indonesia sekarang, dibanding 10 tahun lalu, itu sebenarnya lebih miskin,” terusnya.
Dia menilai fenomena kemewahan yang sering muncul di berbagai platform media sosial hanya merepresentasikan segelintir orang yang berhasil.
Sementara itu, sebagian besar masyarakat justru mengalami penurunan kualitas hidup dan daya beli yang semakin tertekan.
Raymond menyebut kondisi ini sebagai dampak dari bias keberhasilan di mana cerita sukses individu menutupi fakta kesulitan mayoritas.
Sekitar delapan puluh hingga sembilan puluh persen masyarakat menghadapi berbagai kesulitan ekonomi meskipun tidak terlihat dalam narasi umum.
Dia bahkan menegaskan bahwa secara umum rakyat Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang lebih miskin dibandingkan sepuluh tahun lalu.
Kondisi tersebut menurutnya dibungkus oleh narasi pertumbuhan ekonomi dan klaim peningkatan kesejahteraan yang tidak menyentuh akar persoalan.
Raymond secara khusus menyoroti pernyataan pemerintah mengenai tingkat kebahagiaan masyarakat Indonesia yang tinggi secara global.
Menurut analisisnya, narasi tersebut berpotensi menjadi lapisan yang menutupi fakta bahwa sebagian besar rakyat masih hidup sederhana.
Kesejahteraan secara ekonomi belum benar-benar dirasakan oleh mayoritas penduduk meskipun berbagai indikator makro menunjukkan perbaikan.
Salah satu kritik utama yang disampaikan adalah mengenai penggunaan indikator ekonomi berbasis rata-rata seperti produk domestik bruto dan inflasi.
Dia menilai indikator-indikator tersebut tidak mampu mencerminkan kondisi riil yang dialami oleh mayoritas masyarakat.
Kenaikan kekayaan yang dinikmati oleh kelompok ultra kaya mampu mendongkrak angka statistik nasional secara signifikan.
Namun dalam waktu bersamaan, jutaan masyarakat dari kelas bawah justru kehilangan daya beli dan kemampuan menabung.
Raymond memaparkan bahwa dalam kurun waktu satu dekade terakhir, rata-rata tabungan pada rekening di bawah Rp100 juta mengalami penurunan drastis.
Penurunan tersebut bahkan mencapai lebih dari setengah dari jumlah tabungan yang dimiliki sebelumnya.
Fakta ini semakin mengkhawatirkan mengingat sekitar sembilan puluh sembilan persen rekening di Indonesia berada pada kategori saldo di bawah Rp100 juta.
Dia menyimpulkan bahwa penurunan tersebut bukan semata akibat perubahan perilaku menabung masyarakat.
Penyebab utamanya adalah kenaikan upah yang tidak mampu mengejar lonjakan biaya hidup yang terjadi secara terus-menerus.
Lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa tahun 2025 mencatat tingkat menabung terendah dalam sejarah Indonesia.
Kondisi ini memicu fenomena konsumsi yang semakin menurun dan meningkatnya ketergantungan pada utang untuk memenuhi kebutuhan primer.
Tren penggunaan pinjaman online dan utang konsumtif telah mengalami pergeseran tujuan yang signifikan.
Dari sebelumnya digunakan untuk membeli barang tersier, kini justru dipakai untuk membeli makanan, membayar listrik, pendidikan, dan kebutuhan dasar lainnya.
Ketimpangan ekonomi juga terlihat sangat jelas dari distribusi kekayaan nasional yang semakin timpang.
Raymond menyebut bahwa sekitar sepuluh persen populasi menguasai hampir delapan puluh persen total kekayaan Indonesia.
Dalam struktur ekonomi yang ditopang oleh konsumsi rumah tangga, kelompok dua puluh persen teratas memberikan kontribusi hampir setengah dari total konsumsi nasional.
Sementara sisanya hanya mampu memenuhi kebutuhan dasar tanpa memiliki ruang untuk pengembangan atau peningkatan kualitas hidup.
Melihat kondisi tersebut, Raymond memprediksi bahwa tahun 2026 masih akan menjadi periode sulit bagi mayoritas masyarakat.
Meskipun demikian, tekanan ekonomi diperkirakan tidak akan seberat yang dialami selama tahun 2025.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

