
Repelita Jakarta - Di balik angka-angka makroekonomi yang sering kali ditampilkan dengan nada optimistis, terdapat realitas lain yang lebih suram yang tengah dihadapi oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Pengamat ekonomi dari Bright Institute, Yanuar Rizky, dalam sebuah diskusi podcast mengungkapkan bahwa penurunan penerimaan pajak pertambahan nilai dan pajak penghasilan merupakan indikator melemahnya daya beli masyarakat, bukan semata-mata persoalan administrasi perpajakan.
Ia menegaskan bahwa konsumsi rumah tangga berperan sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi, sehingga ketika konsumsi ini mengalami penurunan, maka dampaknya akan terasa luas di berbagai sektor usaha.
Yanuar menjelaskan bahwa fenomena penurunan transaksi yang mempengaruhi penerimaan pajak tersebut mencerminkan masalah yang lebih dalam dibandingkan sekadar praktik penghindaran pajak.
Ia membeberkan data sosial-ekonomi yang jarang mendapatkan sorotan, seperti adanya sekitar 18 juta orang yang secara statistik tercatat bekerja namun tidak menerima upah karena terlibat dalam usaha keluarga.
Kelompok ini secara praktis hidup dengan penghasilan yang hampir tidak ada, sementara di sisi lain rata-rata saldo tabungan masyarakat dengan simpanan di bawah Rp100 juta juga terus mengalami penyusutan.
Penyusutan saldo tabungan tersebut, menurut Yanuar, mengindikasikan bahwa masyarakat terpaksa menggunakan simpanan mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Kondisi ini kemudian berlanjut pada ketergantungan terhadap utang, dimana masyarakat kelas bawah banyak memanfaatkan pinjaman online sementara kelas menengah mengandalkan kartu kredit.
Peningkatan volume transaksi kartu kredit justru diiringi dengan naiknya rasio kredit macet, menandakan bahwa kemampuan finansial masyarakat semakin terdesak.
Di sektor usaha, situasi juga tidak lebih baik dengan adanya penurunan kredit modal kerja yang mengindikasikan ketidakpastian dan keengganan pelaku usaha, khususnya UMKM, untuk mengambil risiko ekspansi.
Faktor eksternal seperti perlambatan ekonomi China turut memberikan tekanan pada ekspor dan impor Indonesia, memperparah iklim usaha yang sudah tidak kondusif.
Yanuar mengingatkan bahwa krisis ekonomi sering kali datang secara perlahan melalui tanda-tanda seperti menipisnya saldo rekening, menumpuknya utang, dan meningkatnya kecemasan sosial.
Ia menutup pernyataannya dengan pesan bahwa ukuran keberhasilan ekonomi seharusnya tidak hanya dilihat dari grafik statistik, melainkan dari pertanyaan mendasar apakah kehidupan masyarakat merasa semakin sejahtera atau justru semakin terjepit.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

